Teddy bear (cerpen)

465493-teddy_bear

Teddy bear mengerutkan kening. Mencoba menerka-nerka, apa yang salah dengannya? Kenapa ia selalu menjadi yang ditinggalkan, tanpa pernah menjadi yang melangkahkan kaki untuk pergi meninggalkan?

Tentu saja, ia sebenarnya sudah memprediksi ini. Ibunya, yang selalu menceritakan dongeng tentang kehebatan nenek moyangnya, selalu menambahkan seraya mengingatkan bahwa selucu-lucunya boneka beruang, mereka hanya akan menjadi pajangan saat si empunya bertambah umur.

Ia bukan lagi sesuatu yang dipeluk saat orang-orang beranjak dewasa. Ia bukanlah si pembuat tawa lagi bagi pemiliknya. Bahkan, bisa jadi teddy bear disembunyikan di sudut ruangan, malu kalau ketahuan orang lain bisa-bisa disebut ‘masih kayak anak kecil’. Teman-teman kecil mereka perlahan akan punya kesenangan baru, yang mereka beri nama play station, iPad, dan mainan berwarna-warni dan bisa bergerak lainnya.

Teddy membayangkan betapa sedihnya ia jika menjadi orang yang terbuang, atau paling tidak terlupakan di sudut ruang. Ia berpikir dan berpikir. Dan kali ini tekadnya sudah bulat.

Ia akan pergi sebelum ia yang ditinggal pergi oleh Tomy, pemiliknya saat ini. Ia akan melupakan Tomy sebelum Tomy sempat untuk melupakannya terlebih dahulu.

*bersambung*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s