Saboteur

27 Februari – 4 Maret 2014 mendatang, saya ikut training untuk menjadi seorang Play Therapist. Dari dulu (enggak dulu-dulu banget sih, sejak saya memutuskan menjadi psikolog anak lah), saya selalu memimpikan praktek dengan adanya mainan banyak di sekeliling saya. Senang banget, hal ini perlahan akan terwujud. Insya Allah. Terutama saat saya memutuskan menjadi PCIT & (sekarang) Play therapist. Mungkin rasa senangnya, seperti Paman Gober dengan gudang uangnya itu. Hehe..

Di setiap training yang pernah saya ikuti, selalu semuanya lebih tentang menemukan diri kita kembali. Belajar untuk mencari tahu siapa kita, sebelum kita mencari tahu siapa klien. Belajar untuk menyembuhkan diri kita, sebelum kita membantu klien menyembuhkan diri mereka sendiri.

Dan dalam training ini, ada berbagai aktivitas yang saya lakukan. Salah satunya adalah membuat art work. Sekarang saya mau cerita salah satu dari art work yang saya buat setiap harinya 😀

Mulai dari hari pertama.

 

20140302-021253.jpg

Apakah ini?

Ini adalah wujud dari ketakutan saya. Julie Burton (guru saya) meminta kami untuk memejamkan mata dan membayangkan tentang segala ketakutan yang kami rasakan selama training ini. Lalu tiba-tiba dua monster kecil itu pop-up dengan jelasnya di pikiran saya. Lengkap dengan warnanya. Yang satu merah dan yang satu hijau.

Kemudian saat sudah selesai membayangkan, kami diminta untuk membuka mata, dan beralih ke pojok art, lalu mengambil apapun untuk membantu membuat ketakutan yang kami rasakan itu terwujud. Saya sudah pasti akan menghindari segala hal yang berhubungan dengan menggambar. Toh, disitu juga tersedia lem, gunting, kertas. Akan lebih mudah untuk saya membuat prakarya yang tinggal tempel dan gunting dibandingkan menggambar. Kenapa? Mungkin..karena ada keinginan saya untuk disebut ‘hebat’. Keinginan saya untuk menjadi perfect di depan semua orang. Keinginan saya untuk tampil tanpa cela. Sehingga ketika saya tahu ada hal-hal yang saya gak bagus di situ dibandingkan kebanyakan orang lain, sekuat tenaga saya akan menghindarinya.

Tapi tidak hari itu..

Entah mengapa, saya justru mengambil krayon dan kertas karton (walaupun tetap mengambil gunting sih, siapa tau saya berubah pikiran). Saya saat itu lebih memilih intuisi saya, dan tidak banyak mikir serta menahan segala hal hanya untuk tampil sempurna. Mencoba untuk lebih mendengarkan diri saya, menyelami lebih dalam tentang apa yang saya butuhkan, dibandingkan apa yang saya inginkan.

Saya pun mulai menggambar. Dan benar saja. Hasilnya tidak seperti yang saya harapkan. Si monster merah yang harusnya mengedip centil, malah terlihat tersenyum ramah. Tapi entah mengapa, saat itu saya tidak kesal. Malah senang saja saat si monster berubah menjadi lucu. Saat saya memutuskan mewarnai badan monster pun, saya sangat terkejut merasakan betapa menenangkannya aktivitas ini. Dan yang lebih mengagetkan lagi, walaupun hasilnya tidak sesuai dengan yang saya mau (cenderung seperti gambar anak TK malah), saya buka saja lebar-lebar kertas karton itu, Biasanya mah, kalau saya terpaksa membuat gambar, akan saya tutupi rapat-rapat agar tidak ada yang melihat. Tapi entah mengapa, waktu itu saya merasa tidak punya kebutuhan untuk menutupi (lah wong sekarang saja di share di blog :p ).

Kegiatan ini mengajarkan saya beberapa point penting :

1. Hal yang kita takutkan, saat kita buat menjadi lebih nyata (misalnya dengan gambar), ternyata tidak sebegitu menakutkannya. Dan benar saja, ketakutan saya akan training ini menjadi berkurang saat saya mengingat-ingat gambar monster-monster lucu itu.

2. Hidup akan lebih enak jika kita benar-benar mengikuti apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Coba saja, kalau saya waktu itu memilih menghias dengan kertas yang cantik penuh glitter. Keinginan saya untuk tampil sempurna tentu lebih bisa terwujud. Tapi apa itu yang benar-benar saya butuhkan? Saya tentu tidak akan pernah tahu, bahwa mewarnai dengan krayon bisa sebegitu menenangkannya untuk saya.

3. Esok harinya, saya share dengan Julie dan grup. Dan Julie berkomentar bahwa dalam level yang lebih dalam, saya juga dapat mempertanyakan kenapa saya takut menggambar. Apakah pernah ada yang menertawakan, apakah ada yang pernah memberi komentar gambar saya jelek, dsb. Tapi yang saya lakukan kala itu, saya sudah mengempower diri saya sendiri, dengan mengambil/mencoba hal yang saya takutkan. Lalu saya pikir, mungkin inilah semestinya tugas kita sebagai psikolog, orang tua, atau orang lain yang bekerja membantu anak. Mencoba untuk memfasilitasi anak agar anak dapat mengempower diri mereka sendiri. Julie tidak berkata pada saya untuk mengambil krayon, tapi saya justru melakukannya. Ia, somehow, memberikan saya aura ketenangan dan merasa diterima tanpa merasa dijudge, yang membuat saya lebih mendengarkan diri saya, dan pada akhirnya memilih krayon. Memilih untuk mengempower diri saya sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s