Menang(is)

crying-children-jill-greenberg

 

Ada menang dalam menangis.

Jika melihat orang yang sedang menangis, apa reaksi otomatis kita? Mungkin mengambilkan tissue. Mungkin otomatis berusaha menenangkan agar tangisannya berkurang atau berhenti. Mungkin bertanya ‘apa yang bisa kita bantu?‘, dan sebagainya. Walaupun berbeda-beda, namun yang menyamakan reaksi dari sebagian besar orang adalah, kita (baik sadar maupun tidak), berusaha untuk membuat tangisan berhenti. Otak kita memaknai tangisan sebagai sesuatu yang salah, sehingga otomatis kita pun ingin hal tersebut berhenti. Secepatnya. Melihat orang menangis tidak pernah membuat kita nyaman. Kita pun menampilkan reaksi, mulai dari sehalus memberikan tissue, sampai seekstrim ‘Diam kenapa sih? Cengeng banget!‘. Sibuk untuk membuat hal tersebut tidak berlangsung lama-lama.

Tapi apa benar menangis adalah hal yang inappropriate?

Hmm.. coba kita tanya pada diri kita sendiri. Apa yang kita rasakan setelah kita menangis? Ya..mungkin ada yang malu, kalau menangisnya dilihat banyak orang. Tapi apa yang badan dan jiwa kita benar-benar rasakan setelah menangis? Lebih kepada kelegaan dan ketenangan, ya gak sih? (ya kalau engak, at least buat saya begitu :p ) Ini sama saja seperti sampah. Sampah itu hal yang menjijikkan. Tapi kita pasti akan memproduksi sampah, mau bagaimanpun kita menghindarinya. Dan pilihannya adalah membuangnya atau menyimpannya. Kalau kita menyimpannya, yang ada kita akan terkena penyakit karena dekat-dekat dengan hal yang tidak sehat. Sehingga pilihannya kita harus membuang sampah itu keluar. Sama dengan air mata. Air mata itu simbol dari sesuatu yang memang harus dikeluarkan, mau bagaimanapun kita menghindarinya. Sehingga kalau ia keluar, maka akan berbuah pada kelegaan dan ketenangan. Kalau terus-menerus kita tekan ia tidak boleh keluar, akhirnya akan ada sistem atau sesuatu dalam diri kita yang akan mampet. Lagipula secara biologis, (kalau gak salah ya :p ), air mata memang memiliki fungsi untuk membersihkan si bola mata. Jadi memang takdirnya air mata adalah membersihkan.

Lalu kenapa kita menghindarinya?

Mungkin..karena sedari kecil, kita diajarkan bahwa air mata adalah simbol kelemahan, sehingga kita pun perlahan menghindarinya untuk terjadi. Baik di diri kita maupun orang lain. Padahal menangis adalah hak pribadi setiap orang. Tidak ada seorang pun yang berhak menginterupsinya. Konsep itu pertama kali saya dengar dari guru saya, Fezia. Lalu hari ini kembali diingatkan oleh guru saya yang lain, Julie Burton. Bahwa ketika seseorang menangis, dia (atau mereka berdua) tidak akan mengambilkan tissue dan menyodorkannya pada mereka. Mereka akan menaruh tissue di tempat yang terjangkau, dan orang yang menangis dapat memutuskan apakah ia ingin mengambilnya atau tidak. Sehingga mereka tidak langsung ‘menyelamatkan’ orang yang menangis , karena mungkin ‘bantuan’ kita bukan hal yang tepat untuk mereka. Bukan hal yang mereka butuhkan, tapi lebih kita yang membutuhkannya (untuk menghilangkan ketidaknyamanan akibat melihat orang menangis).

Saya pun menyetujui konsep itu dan perlahan mencoba menerapkan saat menghadapi klien. Mencoba untuk bersama mereka saat mereka menangis, dibandingkan mencoba untuk ‘menyelamatkan’ dan menghilangkan tangisan itu. Yang mungkin agak sulit adalah di kultur di Indonesia, jika tidak disodorkan orang akan sungkan untuk mengambil. Sehingga walaupun ada tissue di depan mata, (mungkin, saya berpikir) karena saya tidak mempersilahkan mereka untuk mengambil, mereka pun tidak mengambilnya sampai saya memberikan gesture mempersilahkan. Tapi saya mencoba sebisa mungkin untuk mengaplikasikannya. Karena memang benar, akan ada dampak yang berbeda saat kita membiarkan orang lain menangis, dibandingkan buru-buru menyelamatkannya. Mereka punya kemampuan untuk menyelamatkan diri mereka sendiri kok, saat mereka siap.

Lagipula, hey, ada menang dalam menangis. Kamu gak selalu kalah kok kalau menangis.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s