The Fascinating Caine

Halo! Kenalkan, bocah di video ini bernama Caine ūüėÄ

Caine menjadi suatu fenomena dengan ‘bisnis’ yang ia jalankan. Saya saat ini tergelitik bukan untuk membicarakan bisnisnya. Tapi.. lebih kepada apa yang ia jual.

Yang ia jual mungkin gak lebih dari rongsokan. Seriusan deh, tumpukan box-box yang tidak terpakai, paling kita buat apa sih? Ya buat jatahnya pemulung. Atau taruh saja di tong sampah depan rumah, biarkan petugas kebersihan mengangkutnya, dan gak tahu bermuara kemana.

Tapi.. Caine dengan briliantnya menyulap rongsokan itu menjadi suatu mainan! Dan bukan hanya mainan, tapi mainan-mainan yang bisa menggerakkan anak-anak lain diseluruh dunia untuk menguat-atik rongsokan yang sama untuk menjadi mainan-mainan lain.

Dari situ, sebenarnya ada pelajaran penting yang dapat diambil : anak gak butuh mainan mahal untuk bisa bermain dengan bahagia.

Sering orang tua (terutama yang bekerja) terjebak dengan rasa bersalah. Membanjiri anak dengan hadiah mainan-mainan bagus dan mahal untuk ‘menebus’ waktu¬† yang hilang. Apakah anak bahagia dengan mainan-mainan ini? Iya. Tapi… hanya sebentar. Anak akan menuntut mainan lain yang lebih bagus, lebih baru, atau lebih mahal. Pada akhirnya, hal tersebut dapat menggiring anak pada sikap untuk terus menuntut dan menuntut, tanpa ajeg dan be in the present moment. Tidak tahu bagaimana cara menikmati setiap sisi dari apa yang dipunyai dan bersyukur dengan apa yang dimiliki saat itu. Tanpa sibuk ingin yang baru dan yang baru. Dan akhirnya terjebak pada kebahagian semu. Kebahagiaan yang harus didopping dengan material yang baru terus-menurus.

Caine seperti ‘menampar’ orang tua masa kini. Dan membuktikan bahwa anak-anak bisa bahagia dengan rongsokan yang tidak ada nilainya (atau malah dianggap sampah). Anak-anak bisa bergembira dalam prosesnya menggunting, menempel, menyusun, sampai akhirnya dapat menjadi suatu mainan yang mereka imajinasikan. Dan sesuatu yang dibuat sendiri, pasti akan meninggalkan rasa bahagia yang lebih bertahan lama¬†dibandingkan sesuatu yang sudah jadi dan tinggal pakai. Akan ada rasa sayang meninggalkannya, karena ada pikiran, imajinasi, dan kebahagian yang sudah terlanjur dititipkan anak-anak ini ke mainan yang mereka buat sendiri. Anak bukan hanya dapat melatih sisi imaginatifnya, namun juga kemampuan untuk berkonsentrasi dan fokus pada satu hal saja dalam satu waktu. Kemampuan yang sudah sangat langka dimiliki saat ini.

Dan lebih baik lagi, jika orang tua dapat turut serta untuk sama-sama membuat mainan. Lihat sekeliling, kumpulkan barang yang tidak terpakai. Ambil selotip, lem, baut, atau apapun yang sekiranya mendukung. Lalu tertawalah yang keras bersama anak, bersikap konyol. Rasanya pasti akan berbeda (dan lebih menyenangkan) dibandingkan pulang membawakan segunung mainan baru pada anak yang dibeli di mall. Dan lebih penting lagi, saat anak melihat kembali mainan yang ia buat, ia juga akan mengingat betapa menyenangkan dan cool-nya orang tuanya. Membantunya membuatkan mainan yang sekeren itu.

Terima kasih, Caine. Kamu¬†mengingatkan kembali pelajaran berharga ini ūüôā

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s