Perempuan nyinyir, laki-laki..?

megaphone-man-woman-006

Kemarin saya naik bis. Kondekturnya perempuan. Hmm.. ya, memang gak ada yang istimewa dari itu sih.

Tapi yang menarik buat saya adalah saat si kondektur menegur bapak-bapak yang berdiri di dekat pintu bis, ia beberapa kali bilang ‘bang tolong dong jangan di pintu‘ atau ketika ada penumpang lain yang mau masuk dan jadinya semua kesusahan, ia akan bilang ‘tuh kan makanya jangan di depan pintu’, dan hal-hal semacam itu. Hasilnya? Gak ada satu pun penumpang yang mau angkat kaki. Bahkan bergeser 1 cm pun tidak.

Beda, misalnya kalau kondekturnya laki-laki, dengan suaranya saja tuh rasanya penumpang langsung ke tengah. Kalau ada yang ‘bandel’, langsung disamperin dan ditowel-towel dan hasilnya gak ada lagi yang di depan pintu.

Dari situ saya melihat (ini hanya yang ada di sekeliling saya saja ya, bukan berdasarkan hasil penelitian. Jadi maap-maap aja kalau sotoy). Perbedaan antara laki-laki dan perempuan untuk membuat orang lain berubah tingkah lakunya (sesuai yang mereka mau) sangat berbeda. Lelaki cenderung langsung dan tegas, sedangkan perempuan cenderung secara tidak langsung (berharap orang lain mengerti dengan sindiran, padahal mah lakinya tidak mengerti). Kalau dalam hubungan pacaran atau suami-istri juga begitu kan, sering kali perempuan drama dan bilang ‘ah laki gw gak ngertiin gw‘, padahal cara komunikasinya saja yang kurang tepat.

Coba saja, misalnya, saya saja nih yang sebagai perempuan. Sering kali ibu saya menyindir-nyindir saya (terutama untuk hal-hal yang berhubungan dengan kebersihan dan kerapihan), tapi yang ada ketika disindir, apa emosi yang pertama kali muncul? Sebel kan ya, dan akhirnya cenderung enggan untuk malas melakukan apa yang diinginkan oleh ibu (anak durhaka memang nih :p ). Kalau dilihat dari kacamata behaviorism, bisa jadi keengganan ada karena terus-menerus menyindir dan gak ada konsekuensi negatif (misalnya : jadi gak bisa melakukan hal yang disukai saya), jadi karena sayanya gak merasa ada efek negatif, cuman disindir saja dan sudah kebal karena berkali-kali digituin, ya akhirnya gak dilakukan.

Beda misalnya kalau ayah saya yang perintahkan, pasti dengan suara keras atau misalnya dengan hukuman. Kalau dari kacamata behavioris, karena ada konsekuensi negatif (saya mempersepsikan hukuman dan suara keras sebagai sesuatu yang tidak saya sukai), untuk menghindari hal itu maka saya melakukan apa yang diperintahkan oleh ayah saya.

Nah, mungkin itu kira-kira jawabannya kenapa anak lebih cenderung menurut pada ayah dibanding ibu (bahkan kalau ibu sudah menyerah, akan menggunakan ayah sebagai tameng, misalnya ‘kalau kamu gak makan, nanti mama bilangin papa loh‘). Dan itu juga mungkin kali ya, yang bikin orang cenderung memilih pemimpin laki-laki. Terkesan lebih beres dan lebih bisa mengatur anak buahnya.

Hmm.. bener gak ya?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s