Arogan

Hari ini sungguh hari yang sangat sial untuk saya!

Tidak usahlah saya menceritakan detailnya (panjang banget bo!), tapi ada satu kejadian yang bikin saya sebel banget-bangetan.

Ceritanya gak jauh-jauh dari nyasar (ehem..gak berubah ya). Sampai terdamparlah saya di gang yang kecil banget. Di pertigaan, saya ingin ke kanan. Terus ada mobil dari sebelah kiri yang ingin belok kanan (ke arah saya dong ya. Ngerti kan ya maksudnya :p ). Nah saya udah di ujung banget tuh. Saya mau kasih tanda kalau dia mundur aja dulu dikit banget, agar saya bisa langsung ke kanan. Karena kalau dianya yang maju, malah justru repot di dia dan di saya. Eh.. Dia malah maju aja loh. Terus buka kaca dan menyuruh saya dengan gestur tangannya untuk ‘mundur..mundur’. Pakai baju putih-putih dan janggutan gitu. Okelah. Saya pun mundur tapi dikit banget. Lah wong belakang saya ada mobil lagi gitu. Gimana caranya saya mundur coba ?!? Eh.. Tiba-tiba muncul pria bergamis putih dan bilang ‘yee..mundur dong! Udah tahu tadi ini mau lewat malah maju lagi! (?!?!? Yee emang gw dukun *mulai emosi*). Terus pas gw nunjuk mobil belakang, dia tambah teriak lagi ‘eh mundur!’ bukan ke saya sih, tapi ke mobil belakang.

Terus dilanjutkan dengan omelan-omelannya seperti ‘mbak kalo gak bisa nyetir, pakai supir dong!’ dan bla bla bla gak jelas banget deh. Si Jajang yang ada di sebelah saya mulai deh terpancing emosinya. Suaranya meninggi dan mau nantangin balik tuh. Saya langsung buru-buru mencegahnya, mengingat bisa-bisa mobil saya nanti dibakar lagi sama tuh bapak. Pasalnya, ini bapak udah copot sandal dan kayak mau dilempar (entah ke saya atau ke mobil belakang saya).

Coba kalau bapak itu saya terangin perkembangan anak, dimana anak-anak kecil itu biasa marah-marah, memukul, dan melakukan agresi lainnya karena perkembangan bahasanya belum sempurna. Ingin berbicara tapi orang lain gak mengerti, akhirnya ditunjukan dengan ekspresi TL yang biasanya agresif itu. Seiring perkembangan bahasanya makin oke, anak pun berkurang tingkah laku agresif untuk mengekspresikan pikirannya. Nah, kalau sampai besar membicarakan keinginannya saja harus sampai lepas (atau lempar) sepatu, perkembangan bahasanya masih ada dimana ya? *tambah dilempar sepatu bertubi-tubi deh gw*

Terus si Asti bilang gini :

20140222-223746.jpg

Saya ketawa-tawa saja. Bener juga ya si Asti. Sudah ketawa sejak peristiwa terjadi sih. Menertawakan dengan miris betapa ada orang-orang yang memakai atribut tertentu untuk dapat mengumbarkan arogansi, kesombangan, agresivitasnya. Yang membuat muak sampai ke ubun-ubun. Ya, mungkin saya tadi muak dan jijik, yang tidak tahu harus diekspresikan dengan apa, selain tawa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s