0-1 tahun!

Surprised-Baby

Apa yang paling dibutuhkan anak 0-1 tahun?

Sebelumnya, apa kira-kira yang akan akan Anda lakukan pada saat Anda berada di lingkungan baru? Mungkin..akan mengobservasi dulu keadaan di sekeliling. Lalu selanjutnya melihat apakah tempat ini aman atau tidak? Kalau aman, siapa yang dapat dipercaya?

Nah.. kira-kira seperti itu jugalah yang dialami oleh newbie di dunia ini aka bayi.

Tugas utama mereka adalah untuk belajar tentang kepercayaan, yang oleh Erikson disebut dengan trust vs mistrust.

Pertama-tama, karena kognitifnya masih baru mulai berkembang, bayi ini akan lebih memanfaatkan sensori motor atau bagian-bagian di tubuhnya untuk melihat dunia. Jadi, mereka pun belajar percaya dan tidak percaya, ya.. dari sensori motor ini. Awalnya, mereka dapat memenuhi kebutuhannya tanpa perlu bantuan orang lain, misalnya bernafas. Mereka kan dapat  menghirup udara dengan paru-paru mereka sendiri, tanpa bantuan orang lain. Tapi kemudian ada kebutuhan lain yang perlu bantuan orang lain, seperti minum ASI. Disinilah mereka belajar percaya atau tidak pada orang lain. Misalnya, jika orang tua menyediakan kebutuhan fisik anak (seperti ASI), anak menjadi percaya. Lalu kepercayaan ini bisa ditingkatkan lagi, misalnya dengan suara lembut dari ibu saat menyusui. Dan bisa lebih ditingkatkan, jika lingkungan pun juga mendukung. Misalnya setiap bertemu bayi yang sedang menyusu, ayah menyapa dengan senang atau nenek berbicara dengan suara yang menenangkan. Jadi, kepercayaan dasar anak itu dibangun ketika pola saat anak menerima sesuatu dari orang lain (misalnya : ASI) sesuai dengan cara lingkungan memberikan sesuatu itu. Sebaliknya, jika kebutuhan anak tidak sesuai dengan respon dari lingkungan maka anak dapat mengembangkan mistrust / ketidakpercayaan.

Nah, apakah anak harus sepenuhnya trust? Seperti yang sudah kita bahas sekilas di posting sebelumnya, tentu tidak. Jika anak terlalu percaya, maka ia akan menjadi mudah tertipu. Sebaliknya, jika anak terlalu sedikit kepercayaan, maka ia bisa menjadi frustasi, marah, melakukan kekerasan, sinis, atau depresi (ya iyalah, lihat saja orang yang selalu curigaan).

Lalu apa yang harus dilakukan orang tua?

– Yang pertama, jelas, orang tua harus peka dengan kebutuhan anak. Sebenarnya kebutuhan bayi itu sederhana. Kalau gak lapar, haus, atau pengen pup/pipis. Tapi mungkin awalnya orang tua masih bingung, ini jenis tangisan pengen pup, lapar, atau apa. Tapi lama-kelamaan, dengan usaha dan niat dari orang tua, orang tua dapat dengan mudah membedakan tangisan anak. Saat itu terjadi, diharapkan orang tua peka dengan memenuhi kebutuhan anak. Misalnya, anak mau makan ya diberi ASI. Sebaiknya tidak memarahi anak, misalnya dengan mengatakan ‘Ah kamu. Nangis melulu. Ngerepotin‘.

– Selain memenuhi kebutuhan fisik anak, orang tua juga diharapkan untuk memberikan sentuhan penuh kasih sayang (misalnya : memeluk atau mencium). Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, bayi itu masih sangat mengandalkan sensorinya. Jadi ketika disentuh penuh kasih sayang, maka ia akan merasa lebih nyaman dan percaya.

Nah, walaupun orang tua sudah berusaha keras memenuhi kebutuhan anak, tetap saja ada kalanya orang tua ‘kecolongan’. Misalnya anak menangis, sementara masakan yang sedang digoreng juga tidak bisa ditinggal. Bukan berarti Anda ‘dosa besar’. Karena tidak bisa dihindari, tapi memang pengalaman percaya dan tidak percaya itu akan mutlak dialami si bayi. Justru sebenarnya hal ini membantu anak untuk beradaptasi, ketika ada konflik/pertentangan antara percaya dan tidak percaya. Karena kan gak mungkin anak melulu akan mengalami pengalaman yang menyenangkan. Dan itu juga membantu anak untuk dapat melatih kapan dia percaya dan kapan tidak. Jika anak sudah berhasil mengatasi krisis ini, bisa menyeimbangkan kadar percaya dan tidak percayanya, maka ia akan mencapai tujuan (atau disebut Erikson sebagai virtue) bernama hope.

Jika anak tidak membangun hope yang cukup pada masa bayi, maka ia akan menjadi withdrawal atau menarik diri dari dunia luar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s