SOHO

Dari dulu, saya selalu bercita-cita untuk punya kantor virtual, semacam kerja dari rumah begitu loh. Mungkin istilahnya SOHO (small office, home office), atau ada istilah lain yang lebih tepat?

Alhamdulillahnya, hal tersebut bisa terwujud saat saya menapaki dunia karir ini. Dengan Rabbit Hole.

Kenapa pengen SOHO? Simple, karena saya orangnya pemalas :p Malas mandi, malas milih-milih baju, malas dandan, dan yang paling malas adalah menghadapi kemacetan Jakarta. Hehe. Lagipula saya orangnya gak suka kerjaan yang gak efektif dan efisien. Buat apalah kerja ke kantor, terus ujung-ujungnya cuman facebook-an (eh masih jaman ya FB?). Lebih baik saya kerja dimana, partner saya kerja dimana, tapi targetnya memang tercapai. Dan so far, saya happy happy dengan sistem SOHO yang diterapkan di Rabbit Hole.

Tapi dengan syarat tuh, memang dari awal harus jeli memilih orang-orang yang bisa SOHO. Tipenya tuh kira-kira yang gak suka dengan aturan yang rigid, kreatif, pemikir out of the box, tapi tanggung jawab. Jadi saya pun gak perlu keki dan cemas, kalau dalam beberapa hari gak ada kabar dari partner saya, karena saat deadline tiba, dia pasti sudah muncul dengan kerjaan yang memang benar sesuai seperti yang saya mau.

Namun ternyata, sepertinya orang Indonesia nih belum siap dengan sistem SOHo nih. Agak menjebak dan tricky sih, kalau ada yang nelfon saya dan nanya saya dimana, terus saya bilang kalau saya di rumah, mereka akan ngira saya gak punya kerjaan dan mengasihani saya. Padahal kan saya kerja. Huh. Dulu-dulu..jangankan orang luar, ibu saya juga kalau saya lagi di rumah, pasti rajib banget nyuruh saya inilah itulah dengan muka polosnya bilang ‘kan kamu nganggur’. Nah sekarang-sekarang aja sih udah mulai ngerti kalau walaupun saya di rumah tapi ya saya tetap kerja.

Yang gak enaknya lagi adalah gak ada jam kerja yang pasti, yang membuat bahaya juga buat workholic. Gak sadar tiba-tiba hari udah berganti malam, dan belum istirahat dari tadi. Bahaya juga kan tuh buat kesehatan. Belum lagi, kalau selama jangka waktu yang lama ada di posisi duduk yang sama. Kan katanya bahaya kan tuh, apalagi buat perempuan. Harus diselingi dengan jalan selama beberapa menit.

Yang gak enaknya juga adalah pandangan orang-orang yang masih belum bisa berubah bahwa kalau kerja ya harus punya kantorlah. Walhasil, sudah sejuta kali deh kayaknya saya nemuin orang-orang yang mengerutkan kening mendengar bagaimana bisa Rabbit Hole ngehasilin suatu produk tapi kantor aja gak punya. Udah kebal juga saya mendengar media yang mau liputan, lalu pas tahu Rabbit Hole gak punya kantor, jadi pikir-pikir karena bingung apa yang mau diliput.

Nah, sampai sekarang sih saya masih nyaman dengan sistem SOHO ini, walaupun ada berbagai hal negatifnya itu. Coba kita lihat, sampai berapa lama ini bertahan ya? Hehe..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s