Anak (&) Kucing

1825371279_1382541931

Orang-orang di sekitar saya pasti tahu betapa takutnya saya dengan kucing. Tapi mereka juga tahu bagaimana saya mahir untuk bermuka datar dalam berbagai situasi.

Kejadiannya waktu itu saya sedang makan di Takor FISIP UI. Saya sedang makan sendirian, dan mungkin karena sedang waktu libur kuliah juga jadi kantin agak sepi, sehingga kucing-kucing pun dengan liarnya datang ke meja saya. Ini bukan cuman sekedar di sebelah kaki meja ya, tapi benar-benar melompat ke atas meja! Berhubung takut, saya makan lebih cepat dan tulang ayam yang sudah selesai saya kuliti dagingnya pun saya berikan ke mereka. Gak nyangka (ya agak nyangka sih) mereka makannya super cepat dan beringas. Jadi begitu selesai menggigiti tulang, mereka kembali ke meja saya. Begitu seterusnya. Sampai saya sudah tidak bisa lagi menikmati lezatnya makanan yang ada di depan saya. Ingin buru-buru menyingkir.

Kemudian beberapa waktu lalu saya kembali makan di TAKOR (Diulangi lagi. Lebih parah dari keledai ya. Hihi). Sendirian pula dan di jamannya mahasiswa libur juga. Lengkaplah penderitaan saya. Dan..seperti yang sudah diprediksi. Kucing-kucing (menekankan pada bukan hanya satu biji saja) itu mendekati saya. Saya kali ini memasang wajah super datar (padahal jantung udah dag dig dug). Lalu saya kelihatan cuek saja tetap makan. Eh, dia makin mendekat aja dong. Benar-benar udah tinggal 1 cm lagi kali. Saya pun langsung menatap kucing tersebut dan dengan gestur tangan, saya menyuruh ia untuk turun dari meja. Eh gak nyangka, dia beneran turun saja gitu, dan ngeloyor pergi dari meja saya. Walaupun..selang beberapa menit kemudian, kembali datang lagi,. Saya pun bersikap persis sama seperti sebelumnya. Mereka pun menunjukkan perilaku yang persis sama juga. Pergi menjauh dari meja. Saya pun menyelesaikan makan dengan cepat (walaupun terlihat sok-sokan tenang).

Melihat kucing tersebut, saya jadi ingat akan anak-anak kecil. Mengingat betapa mereka pun bisa ‘seliar’ kucing-kucing itu, kalau kita terus-menerus menuruti keinginan mereka. Sama seperti kucing yang diberi makan, akan bisa melanggar batas, dan terus menerus merongrong kita untuk memberikan lebih dan lebih. Anak-anak pun begitu. Kognitif mereka yang belum matang untuk menentukan apakah keinginan mereka benar-benar berguna, membuat mereka berperilaku hanya berdasarkan apakah perilaku mereka diperbolehkan atau tidak (dan terkadang orang tua ‘memperbolehkan’ perilaku anak tanpa sadar. Misalnya saat anak merengek atau marah, maka keinginan anak akan langsung dituruti. Anak pun belajar bahwa kalau ia marah maka ia permintannya boleh untuk dikabulkan). Mereka pun jadi belajar polanya adalah begitu mereka meminta, maka barang sudah akan langsung ada. Nah, jika ini sudah tertanam dalam waktu lama akan menjadi sulit untuk dirubah perangai raja kecil ini. Jadi lebih baik, dari kecil, sebaiknya mengajarkan anak mengerem hawa nafusnya dibandingkan memberikan segala keinginan mereka. Ada beberapa orang tua yang berpikir, bahwa ketika orang tua sudah memberikan keinginan anak agar ke depannya, maka ia akan menjadi enak dan tidak perlu repot-repot lagi menuruti keingan anak, kan segala keinginannya dituruti awal. Jadi mau minta apa lagi? Oooo.. Anda salah. Semakin sering memberi, maka akan semakin sering diminta. Anak akan menjadi anak yang tidak berpuas diri dan tidak belajar untuk mengerem keinginan. Akan selalu saja ada keinginan baru setiap kali keinginan lama dituruti, walaupun belum tentu (dan kebanyakan memang sih) keinginan itu bukanlah sesuatu yang penting atau benar-benar mereka butuhkan.

Jadi kata kuncinya adalah tegas dan memberikan peraturan di awal. Sama seperti kucing di Takor itu. Begitu ia mengetahui aturannya (yaitu tidak boleh meloncat di meja dan harap segera turun dari meja), ia pun dapat dengan mudah menuruti aturan. Walaupun terkadang, walaupun sudah ada aturannya, terkadang anak-anak masih ingin mencoba untuk melanggar aturan dan melihat reaksi orang tua. Seperti yang terlihat pada kasus si kucing. Meskipun ia sudah mngerti bahwa aturannya adalah tegas begitu, setelah beberapa saat masih mencoba mengubah aturan. Siapa tahu berhasil. Tapi kalau orang tuanya bisa tegas dan selalu menunjukkan reaksi yang konsisten pada anak, biasanya perilaku negatif akan berkurang cepat, karena anak melihat orang tuanya tegas dalam situasi apapun. Jadi..buat apa ia membantah. Lebih enak menurut, dapat reward berupa pujian (atau reward lainnya).

Hehe.. begitulah. Belajar banyak deh dari kucing.

Eh iya, saya lupa memuji si kucing lagi atas kelakuannya yang sudah baik 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s