Behind the scenes ‘Bella dan Kelima Balon’

image

Menyebalkannya berinteraksi dengan saya adalah saya banyak menggunakan intuisi untuk hal yang kebanyakan orang menggunakan thinking processnya. Misalnya saja sebagai seorang psikolog, tentu akan lebih masuk akal jika saya menggunakan segala pengukuran atau behavior checklist untuk menentukan kandidat mana yang cocok bekerja di Rabbit Hole. Atau setidaknya seleksi CV dengan ‘baik’lah. Siapa yang pendidikannya lebih baik, atau pengalamannya lebih banyak, tentu itu yang harusnya segera ditindaklanjuti. Tapi, perasaan saya jauh lebih kuat, dan ia memenangkan pertandingan melawan si otak. Kalau ditanya, apakah nilai lebih kandidat yang akhirnya saya pilih dibandingkan calon kandidat yang lain, saya juga kebingungan menjawabnya. Tidak ada alasan logis yang dapat saya utarakan. Ya entahlah, saya rasa orang-orang yang crossing the path dengan Rabbit Hole, adalah orang-orang yang paling dapat bersinergi dengan saya. Saya selalu percaya, yin kalau sudah ketemu dengan yang-nya, akan menghasilkan sesuatu yang besar yang bahkan si yin atau si yang ini tidak pernah pikirkan sebelumnya. Itu yang saya rasakan saat merekrut orang-orang ini. Saya percaya saja, ketika kami berkolaborasi, pasti akan menghasilkan sesuatu yang menyenangkan dan menakjubkan (setidaknya untuk saya).

Dan..begitu pula dengan keputusan lain menyangkut Rabbit Hole. Banyak orang yang mempertanyakan, kenapa harus customized sih? Kenapa jumlahnya sedikit sih, kan sayang tenaganya? Kenapa tidak dijual secara massal ke toko buku sih? dan lain sebagainya. Saya rasa, kalau ada orang yang memberi title saya adalah entrepreneur atau wirausaha, saya adalah orang paling pertama yang tidak setuju. Lah, wong, orientasi utama saya dari awal bukanlah uang. Bukanlah bagaimana meraih omzet setinggi-tingginya dari bisnis ini. Kalau memang seperti itu, sudah dari dulu sajalah saya ikuti saran orang-orang di sekitar saya. Untuk memasarkan buku Rabbit Hole ke toko buku, misalnya. Tapi..saya merasa kurang pas. Tujuan utama saya cukup sederhana sebenarnya : ingin meningkatkan minat baca anak. Dan saya rasa jalan melalui Rabbit Hole adalah yang paling tepat. Jika strategi pemasaran di tahun pertama tidak berhasil, ya tinggal dirubah strateginya di waktu selanjutnya. Tapi saya tidak mau mengubah konsep atas Rabbit Hole itu. Sesimpel (atau rumit) itu saja pikiran saya.

Lalu sampailah Rabbit Hole mendekati ulang tahun pertamanya. Waktu yang paling cihuy untuk berkontemplasi dan memikirkan strategi terbaik untuk ‘menjual’ Rabbit Hole. Di kepala saya selalu terlintas tentang aplikasi App Store (gak tahu kenapa selalu kepikiran Apple *emang Apple fan girl juga sih* jadi sorry ya yang nanya tentang aplikasi di Android. Udah tahu jawabannya sebelum dijawab kan :p ), tapi tidak tahu bagaimana pelaksanaannya dan jalan kesananya.  Tiba-tiba takdir berjalan dan dibantu oleh konspirasi semesta bertemulah saya dengan sebuah perusahaan yang menawarkan kerjasama untuk membuat aplikasi. Saat itu yang ada di pikiran saya adalah saya 100% mau! Saya gak berpikir panjang tentang kemungkinan balik modalnya, dsb. Dan saya cukup keras kepala jika saya yakin dengan suatu hal, betapapun semua orang pesimis akan hal tersebut. Saya beruntung punya teman seperti Hafiz. Ia orang pertama yang percaya dengan Rabbit Hole dan mau berinvestasi untuk Rabbit Hole (tanpa saya minta), karena ia percaya saya membuat Rabbit Hole dengan cinta dan saya pasti akan memberikan usaha yang terbaik untuk Rabbit Hole (kalimat persisnya lupa sih, kalau ditanya ke Hafiz juga paling lupa. Suka amnesia tiba-tiba itu anak). Walaupun akhirnya Hafiz tidak jadi investor, tapi kepercayaannya (ya gak percaya amat sih, orang dibantai juga tentang prospek aplikasi ini ke depannya -__- tapi sangat membantu sih sarannya. Hehe..) meningkatkan kepercayaan diri saya, dan saya semakin yakin pilihan saya untuk membuat aplikasi ini adalah yang paling tepat.

Hari demi hari berlalu. Dari mulai saya dan Sishi membuat versi cetak dari Bella dan Kelima Balon, mas IS dan anak-anak kanlam membantu mewarnai sampai malam-malam sampai bikin terharu, tim Rabbit Hole mulai menggondok konsep dan mengeksekusinya, sampai akhirnya ada di titik ini..dimana semua orang bisa mengunduh dari telepon pintarnya disini. Sungguh saya tidak menyangka.

image_1

Jika sekarang saya ditanya apakah ‘bisnis’ ini prospeknya bagus. Sungguh saya tidak dapat menjawabnya. Saya hanya ingin anak-anak tidak lagi hanya terpaku pada iPadnya dan bermain berbagai games bermuatan agresif. Saya hanya ingin anak-anak kembali mencintai membaca. Jika mereka enggan untuk kembali ke ratusan lembar halaman buku cetak yang berat, saya ingin mendatangi mereka lewat benda yang paling mereka sayangi. Gadget. Ya hanya itu saja yang terlintas di pikiran saya saat saya membuat aplikasi ini.

Kalau dari kacamata bisnis tidak berhasil, ya sudah saya terima (tapi kalau untung ya Alhamdulillah sih :p ). Di mata saya, saya sudah melakukan sesuatu. Yang setidaknya membuat diri saya sendiri bangga.

Ya sudah itu saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s