We’ll find a way

image (1)

We’ll find a way

Itulah kira-kita moto saya saat memulai travelling ke Amerika Agusutus lalu. Travelling itu pasti selalu diiringi kejutan. Perbedaannya hanya pada besar atau kecilnya si kejutan. Namun, ia pasti muncul. Sadar akan hal itu, setiap ada kejutan di dalam travelling, saya selalu kembali berpikir ‘we’ll find a way’, yang membantu saya berpikir jernih dan masalah pun lebih mudah selesai.

Moto itu bekerja salah satunya ketika kejutan sangat besar menyelip diantara perjalanan saya dari Los Angeles ke Tennessee. Saat itu, saya dan satu orang teman baru mendarat ke Los Angeles di terminal 2. Kami pun langsung bertanya terminal tempat pesawat yang akan membawa ke Tennessee, United. Semua mengatakan United ada di terminal 7. Kami pun memutuskan berjalan ke terminal 7, karena tidak melihat bus atau angkutan lain. Ternyata jaraknya cukup jauh. Cukup menderitalah kami, berjalan dari terminal ke terminal diselimuti udara dingin. Untungnya, di tengah jalan, ada seorang bapak baik hati memberikan trolleynya untuk kami (trolley disana tidak ada yang gratis, harus sewa bayar), sehingga kami pun tidak perlu menggeret koper kami yang punya berat lumayan itu.  pula. Setelah beberapa puluh menit, tibalah kami di depan terminal 7. Kami kira perjuangan akan berakhir sampai disana. Tapi tidak, saudara-saudara.

Saat akan check-in, kami diminta self check-in dengan mesin. Namun, setelah scan passport berkali-kali, nama kami tidak kunjung muncul. Kami pun meminta petugas membantu kami. Pertanda tidak mengenakkan terjadi, ia langsung heboh mengetik berulang kali, bahkan memanggil temannya. Benar saja, kami ternyata TIDAK TERDAFTAR sebagai penumpang di United. Mereka langsung menunjuk tulisan kecil di kertas, bertuliskan ‘United by US Airways’. Artinya, kami akan naik US Airways dan bukan United (mungkin sejenis Garuda dan Citilink, serupa tapi tak sama). Lebih menyebalkan lagi saat kami tahu ternyata US Airways ada di terminal 1 (mungkin kami kurang olahraga, sehingga inilah cara Tuhan pun menyuruh kami olahraga). Kami pun segera menuju terminal 1 dengan menambah kecepatan. Takut ketinggalan pesawat. Saat akhirnya menginjak depan terminal 2, kami mengulum senyum, mengira perjalanan tinggal sedikit lagi. Namun, sebelum terminal 1, kami harus melewati sebuah tempat tak bernama yang jaraknya cukup jauh. Lelah sekaligus cemas, kami tidak dapat menemukan terminal 1. Untungnya ada seorang petugas yang membantu kami dengan sigap, dengan alasan ‘I like Indonesia, so I help you’. Dan ternyata, terminalnya US Airways itu ada di terminal 1 paling pojok, dan harus naik ke lantai atas pula.

Dengan betis yang membesar, akhirnya tibalah kami di depan counter US Airways. Tenanglah kami mendapati proses check-in yang mudah dan cepat. Tapi.. apakah setelah itu kami benar-benar bisa tenang? Sayangnya tidak! Komputer tidak dapat mengenali tiket teman saya. Selidik punya selidik, kartu kreditnya ditolak! Anehnya, tiket saya bisa padahal memakai kartu kredit yang sama (dan saya pakai kartu kreditnya dia gitu, bagaimana dia tidak double gondok). Teman saya pun tidak dapat naik pesawat. Saya? Juga tidak ikut boarding. Protes dengan sistem komputerisasi yang aneh itu. Petugas terus terus mencari cara, sambil tertekan mendengar omelan saya (di tengah-tengah kami mengomel, ada drama seorang bule yang datangnya terlambat dan benar-benar cari perhatian banget. Bahkan dia bilang ke saya ‘tau deh, gw gak penting, elo yang penting, jadinya gw gak dilayanin’. Lah, jelas-jelas saya memang yang duluan ada di situ. Lagian kalau dia kan memang sudah jelas salah ya terlambat datang, mau dilayani duluan lagi. Insightnya : ternyata bule ada yang alay juga) . Untungnya dia baik sih, memberikan alternatif untuk ikut penerbangan selanjutnya dengan rute : Los Angeles-Philadelphia-Charlotte-Tennessee. Memang jadi berputar-putar, tapi kami masa bodohlah, yang penting sampai. Namun yang mengejutkan, kami harus membayar tambahan 21 juta untuk membayar tiket teman saya. Perasaan kami benar-benar sebal, merasa dibohongi. Namun, kami putuskan tetap naik dulu pesawat karena waktu mepet. Protes setelah sampai tujuan sajalah. Kan motonya ‘we’ll find a way’.

Saat kami membayar, si petugas ini bilang kalau kami tidak dapat membayar ke dia, tapi harus membayar ke bawah lagi. Ya elah pak, gak lihat kita sudah cape gini apa ya? Lagian udah mau boarding ini. Nanti kita belum sampai bayar, udah ditinggal landas lagi. Rugi lagi deh kita. Untungnya si petugas baik dan mau mengkompromi sambil bilang ‘biasanya saya gak mau kayak gini, bla bla bla. Kami iyain sajalah, yang penting sudah cap cus.

Sudah berhenti sampai disana dramanya? Mmm.. iya ga ya. Kalau pernah lihat film Meet the Parents (terus tiba-tiba lupa beneran dari film ini atau gak) seperti itulah kira-kira. Penumpang ribut sana-sini, bahkan waktu pramugari memberitahukan standar prosedur keselamatan, duduk bisa dimana saja macam naik angkot (oleh karena itu, saya dan teman saya terpisah tempat duduk karena tempat duduknya dia sudah ditempati orang lain -_- dan saya di tengah dua orang amerika yang badannya besar sekali dan cukup berbau kurang sedap. Oh well).

Setelah turun dari bandara. Eng ing eng. Muka teman saya pucat sekali. Saya langsung berpikir : masalah apa lagi ya kali ini? Ternyata, tiket dia yang baru tidak terbawa! Dia membawa tiket yang lama (yang cc-nya ditolak itu!). Langsunglah kami segera pergi menemui petugas dan dengan tenangnya dia bilang ‘tiketnya tidak bermasalah kok. ini tiket baru dan bisa di-scan’. Saya pun langsung melirik tajam pada teman saya itu. Hadeh.

Untungnya setelah itu perjalanan berjalan dengan lancar, bahkan berakhir happy ending. Uang kami dikembalikan seluruhnya. Saat kami tiba di Tennessee dan complain ke petugas yang ada di sana, dan (entah memang canggih sekali system mereka) sudah ada note dari petugas di LA, bahwa kami hanya harus membayar 7 juta (harga lama), dan dia akan mengembalikan sisa uang kami sesampainnya kami di LA lagi. Saat di Jakarta pun, uang 7 juta bisa kami dapatkan dengan utuh karena itu merupakan kesalahan sistem. Fiuh.. Alhamdulillah.

Kalau diingat-ingat, keseruan menaiki Paradise Pier di Disneyland, pergi mengeliling Hollywood, atau pergi ke tempat-tempat ternama lainnya, tidak dapat mengalahkan perasaan jungkar balik saya atas pengalaman di bandara Los Angeles itu. Seru sih, tapi semoga tidak terulang lagi di trip berikutnya 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s