Science + art

Kadang saat praktek, saya sudah menyiapkan segala rancangan, eh entah mengapa semua itu buyar dan malah melakukan hal yang berbeda 180 derajat. Somehow it works better. Saya percaya saat itu justru saya benar-benar mendengarkan apa yang dimaui oleh anak, dan apa yang saya lakukan justru yang memang paling dibutuhkan anak. Connecting soul to soul, kalau kata guru yoga saya mah.

Contohnya, pernah saat saya bertemu seorang anak. Gak tahu kenapa, saya hanya ingin nyanyi saja. Lalu saya bernyanyi :

Happiness round in the circular motion
Life is like a little boat upon the sea
Everybody is a part of everything anyway
You can have it all if you let yourself be

Gitu terus diulang-ulang. Sambil perlahan-lahan saya ambil balok, kasih ke dia, saya minta lagi. Begitu terus. Pas di tengah-tengah, dia mau lempar baloknya, saya tahan, dan saya ajak tangannya untuk taruh di tangan saya dengan perlahan, sambil terus bernyanyi. Dia sih diam saja, malah beberapa kali bengong.

Lalu mulailah kita tes, di tengah-tengah dia gak mau melanjutkan. Singkat cerita, akhirnya dia menonjok muka saya. Sakitnya tuh jenis sakit yang gak seberapa tapi akan bikin lo pengen nangis parah. Setelah itu, dia udah memainkan tangannya, sepertinya siap menonjok saya lagi. Saat itu saya menyanyikan kembali lagi lagu yang di awal, sambil perlahan-lahan memegang tangannya dan menggoyang-goyangkannya. Saat itu, ajaibnya dia diam. Setelah beberapa kali lagu diulang dan saya merasa ia sudah tenang, saya pun mengatakan ‘oke (nama anak) boleh pulang, tapi bereskan dulu tadi barang yang dilempar. Setelah itu boleh pulang’. Sebelum dia tonjol saya, memang ia melempar barang-barang disekitarnya. Ajaibnya lagi, ia langsung mau aja gitu loh. Padahal tadi dia ngamuknya benar-benar parah.

Setelah dia sudah pulang, saya menenangkan diri sekaligus merenung. Kalau melihat sejarahnya dan bagaimana perilakunya (yang tidak bisa saya jelaskan lebih detail), memang menenangkan dirinya melalui lagu tanpa melabel dia dengan label negatif (‘gak bisa diem banget sih kamu’ atau ‘nakal’) adalah yang memang ia butuhkan saat ini. Itulah mungkin mengapa ia akhirnya menurut walaupun habis mengamuk parah. Padahal sampai satu detik sebelum masuk, saya tidak terpikir untuk menyanyikan lagu untuknya.

Itu mungkin mengapa orang bilang menjadi psikolog itu gabungan antara science dan art. Banyak sekali hal-hal yang harus kami lakukan yang sama sekali tidak tertulis di buku. Dan itulah bagian menyenangkan dan menantangnya 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s