Syukur

Blessed-Children-Pray

Beberapa bulan yang lalu, ada benjolan di kaki saya. Saya kira sebentar juga akan hilang. Tapi kok makin lama makin membesar dan sakit pula. Ibu saya menyarankan untuk mengurutnya ke tukang pijat. Saya nurut sajalah. Kata si tukang pijat sebentar lagi akan kempes. Tapi gak kempes-kempes. Ia pun ke rumah saya dan memberikan saya dedaunan. Bilang itu akan manjur membuat kempes. Tapi ya..gak kunjung kempes tuh. Ketiga kalinya, kaki saya ditusuk pakai jarum. Tapi setelah itu gak kempes juga. Odong-odong juga sih sayanya, udah tahu gitu gak ke dokter juga. Ya sudahlah, selama beberapa bulan, saya pun gak berani pakai heels. Ada orang-orang yang tiba-tiba mendekat ke kaki saya pun saya sudah waspada, takut terinjak dan itu sakitnya setengah mampus. Dag dig dug. Takut juga ada yang lihat ke arah kaki saya dah ngetawain. Gak enak deh pokoknya. Tapi ya tetap dudul marudul gak ke dokter juga. Sampai akhirnya saya sudah cape, ke dokter, dan ternyata..itu KUTIL boo. Ya ampun, malu sih sebenarnya. Saya kira kutil itu sejenis panu yang kita dapat karena mandi gak bersih atau mandi di comberan gitu, ternyata itu adalah virus. Singkat cerita, saya pun di operasi kecil. Dan..untuk mengeluarkan kutil seuprit itu saja butuh 1 juta ya. Huff.

Sekarang kaki saya kembali normal (kayak iklan). Saya ingat, waktu pertama kali saya melihat kaki saya tanpa kutil, saya kagum setengah mati sama itu kaki. Padahal berapa puluh tahun punya kaki yang sama, gak pernah sebegitunya, dipandang-pandangin sampailama. Saya jadi baru sadar, kadang kita tuh sebagai manusia ya seperti itu. Ada berbagai hal di sekitar kita atau yang ada di dalam diri kita, yang sebenarnya banyak sekali yang bisa kita syukuri setengah mati. Tapi.. ya kita take it for granted. Kita kira, kita akan miliki itu untuk selamanya, sehingga wajar untuk itu ada disitu, dan buat apa kita syukuri?

Dulu saya merasa bahwa jika kita sudah lulus ujian dari Tuhan, maka Tuhan akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Tapi tidak juga melulu seperti itu ternyata. Kadang setelah lulus dari ujian Tuhan, ia hanya mengembalikan apa yang dulu sebenarnya yang kita punya. Bonusnya, ia mengajarkan kita arti syukur. Memberi kita persepsi baru pada barang lama yang kita miliki. Menumbuhkan cinta pada hal-hal yang selama ini kita take it for granted. Dengan cara yang sebenarnya sangat sederhana. menghilangkannya atau membuatnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sebentar saja padahal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s