Ke-benar-an

???????????????????????????????????????????????

Pernah saya melihat salah satu soal ulangan, yang kira-kira seperti ini : “Jika kamu mendapat uang 10.000, apa yang kamu lakukan?”. Lalu ada 4 pilihan jawaban, saya hanya ingat dua pilihan, yaitu “dibelanjakan semuanya” dan “dibelanjakan 5.000, dan disedekahkan 5.000”.
Kira-kira apa jawaban yang benar?

Ya..seperti yang sudah dapat ditebak ya, saudara-saudara. Pilihan jawaban yang kedua, yaitu “dibelanjakan 5.000 dan disedekahkan 5.000”. Saat itu saya mengerenyitkan kening, dejavu dengan ini.

Contoh kecil itu seperti memotret gambar besar dari pendidikan di Indonesia. Sedari kecil, kita dibiasakan untuk terdoktrin melakukan A dan bukan B. B dianggap kesalahan, padahal dipikir-pikir ya enggak juga. Coba, misalnya anak itu sudah diberikan uang 10.000 ya otomatis uang itu menjadi miliki dia. Asal tidak didapatkan dengan cara yang tidak baik (misalnya : mencuri), dan tidak digunakan untuk sesuatu yang buruk (misalnya : membeli rokok), maka sah-sah saja sebenarnya apa yang ia beli dan berapa persen dari uang itu yang ia belanjakan.

Menilik dari contoh di atas, saya jadi dapat lebih paham, kalau ada begitu banyak orang yang berdemo dan gemar mengurusi gaya hidup orang lain. Berkata bahwa orang lain salah dan harus kembali ke jalan kebenaran. Yang membuat saya kadang mikir, ‘lah..itu kan bukan urusan situ’. Tapi yah..dipikir-pikir wong pendidikannya saja seperti ini. Dari kecil sudah diarahkan bahwa kebenaran hanya lewat satu jalan. Pilihan jalan lain dianggap salah. Guru memegang kuasa, yang dibuktikan melalui nilai. Seakan anak lain yang memilih jalan yang ‘tidak ideal’ dan ‘tidak benar’ menjadi salah. Dihukum lewat nilai buruk. Dan pada akhirnya ‘terpaksa’ memilih jalan yang ‘benar’ karena takut mendapat nilai buruk kembali.

Ketika dewasa, tentu tidak mengherankan, ketika ada segerombolan orang yang merasa orang lain ‘salah’, dan tanpa tendeng aling-aling, dengan cara yang mereka anggap ‘benar’ menggiring orang lain ke jalan ‘kebenaran’. Seperti yang pernah dilakukan oleh sang guru, si sistem pendidikan, bertahun-tahun pada mereka.

Bukan berarti soal-soal situasi sosial seperti itu lantas tidak layak diberikan pada anak. Namun modelnya mbok ya bukan pilihan ganda. Mengapa tidak dalam bentuk uraian? Atau kalau melelahkan menulisnya, dalam bentuk diskusi? Tidak ada yang benar dan salah, selama logika berpikirnya dapat dipahami semua pihak. Dengan itu, anak dapat menyadari bahwa ada begitu banyak variasi tindakan dari satu orang ke orang lain, walaupun stimulusnya sama-sama uang 10.000. Ada begitu banyak nalar dan alasan yang dimiliki dari tindakan yang berbeda-beda, yang tidak berarti yang lain salah.

Mengajak anak untuk sedari kecil melihat ada begitu banyak perbedaan antara satu orang dengan orang yang lain. Karena manusia adalah makhluk yang unik. Dan itu tidak apa-apa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s