Homeschooling?

5340

Saya mencintai pendidikan, tapi bukan sekolah.

Dulu saya pikir, pendidikan itu sama dengan sekolah. Jadi ya..jelas. Setiap orang untuk menjadi terdidik perlu sekolah. Tapi makin kesini makin jelas bedanya. Sekolah belum tentu mendidik. Dan pendidikan bukan hanya terbatas ditemukan di sekolah. Ia bercecer di mana saja saat ini.  Di pohon, di awan, di internet, di buku, atau berbagai pertemuan dengan orang-orang yang memiliki ranah pengetahuan yang berbeda dengan kita. Teman-teman saya yang memiliki IP setinggi langit di Universitas yang katanya paling hebat di seantero Indonesia pun, nasibnya dan gajinya pun tidak sefantastis itu.

Sekolah makin kesini saya rasa makin ngawur. Betapa tidak, anak dipaksa untuk menghafal mati. Namun mati kreativitas. Jawaban yang diberikan harus sama persis dengan yang ada buku. Jawaban out of the box dianggap kesalahan. Nah loh, kalau seperti itu, bagaimana anak mau berkembang kreativitasnya? Belum lagi jam pelajaran yang sangat padat. Yang buat saya bertanya, itu anak sekolah apa ngantor ya? Lalu..gosip-gosipnya mata pelajaran olahraga akan dihapus. Well doh, jelas-jelas kita manusia terdiri dari badan dan pikiran. Jika otak saja yang dilatih di dalam kelas, lalu tubuhnya tidak diolah, bagaimana kita akan menjadi seorang manusia yang utuh? Sejak kecil, kok kita diajarkan untuk tidak seimbang? Belum lagi, anak yang berlomba-lomba untuk lebih cepat dari umurnya. Atau anak (atau orang tuanya ya ehem) yang ingin masuk akselerasi padahal IQ-nya dibawah superior. Dan.. masih banyak lagilah kengawuran sistem pendidikan kita.

Lalu saya merenung. Jika nanti saya punya anak, pendidikan seperti apa yang saya inginkan untuk anak saya nanti?

Sejauh yang saya rasakan. Pendidikan yang ditawarkan sekolah internasional merupakan pendidikan terbaik yang ada saat ini. Saya sudah masuk ke dalamnya, menjadi seorang pengajar. Saya pun pernah sekolah di swasta. Dan pernah pula sekolah di sekolah negeri, serta sekarang menjadi psikolog di sekolah negeri. Perbedaannya sangat jauh antara satu dengan yang lain. Namun saat saya menjadi pengajar di sekolah internasional, secara rutin saya mendapatkan pelatihan atau sekedar sharing yang memang ilmunya berguna untuk lebih meningkatkan mutu pengajar. Cara pembelajarannya pun langsung dan konkrit, yang membuat anak mencintai belajar. Yang membuat anak tidak terasa bahwa ia sedang dalam proses belajar. Belajar, bukan karena terpaksa.

Namun.. yang saya kurang sreg adalah anak sedari kecil main language-nya diajarkan dalam bentuk bahasa Inggris. Padahal ia sedang dalam masa pembentukan bahasa. Yang idealnya, menurut saya, bahasa utamanya seharusnya tetap si bahasa ibu, yaitu bahasa Indonesia. Bahasa Inggris hanyalah suplemen. Dan sekarang sudah mulai juga sih bermunculan sekolah-sekolah bertaraf internasional yang memakai bahasa pengantar bahasa Indonesia. Tapi..masalah lain adalah tentang begitu mahalnya biaya pendidikan untuk memasukkan ke sekolah ini. Kira-kira beginilah gambarannya :

*lupa sumbernya dari mana*

*lupa sumbernya dari mana*

Untuk itu..rasanya saya harus bekerja sangat keras, agar uang masuk dan uang SPP (calon) anak saya nanti terpenuhi. Lalu saya pikir. Untuk apa saya harus bekerja begitu keras hingga kehilangan waktu dengan (calon) anak saya nanti, walaupun sebagai gantinya (calon) anak saya akan mendapatkan pendidikan yang baik? Bagaimana jika saya potong saya alurnya. Toh sebagai seorang psikolog anak, saya cukup memiliki kemampuan untuk mendidik seorang anak.

Jadi.. homeschooling adalah ide yang keluar dari kepala saya. 

Dimana lagi tempat seorang anak dapat mencintai apa yang ia pelajari jika bukan di homeschooling? Homeschooling dapat membuat anak memilah mana pelajaran yang dapat menunjang bakat, minat, dan karir-nya kelak. Tanpa perlu membuang-buang waktu belajar hal-hal yang tidak perlu. Don’t get me wrong, but these school curriculum drive me crazy. Saya sangat setuju jika anak-anak belajar banyak hal, toh mereka belum benar-benar tahu ingin menjadi apa mereka nantinya, tapi.. jika sistemnya hanya menghafal..menghafal..dan menghafal. Itu mah bukan belajar namanya, tapi hanya latihan memori tok. Salah satu kegemesan saya atas sistem pendidikan pernah saya tulis disini.

Saya meyakini bahwa setiap orang tua tahu yang terbaik untuk anaknya. Jadi ia pasti yang paling bisa meramu pelajaran yang sebaiknya dipelajari untuk anaknya, dan dengan cara apa yang palingbaik untuk membuat anak paling baik menyerap pelajaran tersebut.

Dengan homeschooling, anak bisa dapat benar-benar mengerti suatu konsep. Karena suatu konsep dipelajari dengan cara yang menyenangkan. Bahkan dengan cara yang di luar kebiasaan. Yang membuat anak melatih kreativitasnya. Anak pun dapat diminta untuk menjelaskan tentang hal-hal yang ia pelajari, atau diberi kesempatan berargumentasi mengenai pelajaran yang ideal untuknya, yang dapat menjadi ajang untuk melatih kemampuannya untuk berbicara di depan umum dan bernegosiasi.

Sempat saya berpikir, namun homeschooling kan hanya dianggap sebagai sekolah tambahan. Tapi.. terus kenapa? Toh, masuk ke universitas ternama pun tidak menjamin seorang anak memiliki masa depan gemilang. Teman-teman saya sesama alumnus pun banyak yang saat ini gajinya masih di bawah 5 juta, bekerja tidak sesuai dengan bidangnya, padahal sudah lulusan sampai S2. Sedangkan banyak juga anak-anak lain, yang berasal dari universitas bukan unggulan, sekarang menjadi wirausaha, dan meraih omzet puluhan juta, berkat idenya yang out of the box.

Jadi menurut saya, jika kunci kesuksesan itu adalah pintar berbicara di depan umum, bernegosiasi, memiliki kreativitas, dan peduli dengan sesama. Maka tidak usahlah bercita-cita masuk ke universitas ternama. Namun, pupuklah kemampuan-kemampuan penunjang kesuksesan itu sedari anak kecil. Toh, jika diadu, universitas di Indonesia pun tidak ada yang masuk 100 besar dunia.

Bonusnya adalah uang pendidikan yang sangat bisa ditekan dan dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat lainnya. Serta..waktu tempuh antara rumah dan sekolah yang penuh polusi, stress, dan kemacetan, yang menggiring pada aura negatif dapat dihilangkan.

Namun, ya jelas. Untuk memulai homescholling ini perlu komitmen yang kuat karena jika tidak, maka anak hanya jadi bebas saja tanpa menjadi pribadi yang bebas bertanggung jawab.

Jika saya sih sudah siap untuk homeschooling, karena gemes dan ingin ‘menyentil’ sedikit sistem pendidikan yang makin lama makin melenceng ini. Kalau gak disentil nanti bisa-bisa jadi kayak gini nih. Eh, tapi sebelumnya cari calon suami dulu aja kali ya :p

Iklan

One thought on “Homeschooling?

  1. Ping-balik: Kenapa homeschooling? | precioustrash

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s