Circle of Pain

87020866-years-old

Saya takut hamil.
Sangat takut. Mungkin dalam kadar yang sangat tidak irasional.

Dulu saya tidak tahu mengapa. Tapi sekarang saya tahu, dan sedang berusaha untuk perlahan demi perlahan mengurangi hal itu. Namun bukan itu yang ingin saya bahas. Yang ingin saya ceritakan adalah betapa ketakutan saya itu menggiring pada pemikiran : jika saja ada teknologi yang dapat membuat wanita melahirkan anak, tanpa perlu hamil. Pasti akan saya sembah sujud itu penemunya.

Tapi beberapa hari yang lalu saya berkenalan dengan pemilik usaha ayam. Kita ngobrol-ngobrol, dan sampailah pada pembicaraan tentang teknis usaha ayam broilernya. Bukan topik favorit saya, sebenarnya. Namun yang menjadi menarik adalah fakta bahwa ayam-ayam betina miliknya itu dapat bertelur tanpa perlu kawin. Ada teknologi semacam inseminasi buatan, yang dapat membuat ayam-ayam betina itu dapat mengeluarkan telur dengan lancarnya tanpa perlu ada pejantan. Gila! Dulu, waktu SD, saya kira inseminasi buatan hanya ada di tumbuhan. Namun, ternyata sekarang binatang pun dapat melakukannya. Yang menurut saya sangat tidak masuk akal. Yang membuat saya berpikir, jadi ayam-ayam yang selama ini saya makan itu bukan merupakan perpaduan dua jiwa, percampuran yang indah antara si pejantan dan betina. Hasil interaksi antara dua insan ekor ayam. Semua dibuat tanpa rasa cinta (atau minimal nafsu deh). Tapi tanpa rasa sama sekali. Hambar. Yang saya makan adalah kepalsuan. Ayam yang bukan ayam. Semakin saya memikirkannya, semakin saya merasa takut, dan juga mual.

Sampai saya berharap, yang amat sangat : ‘Jangan sampai teknologi macam ini bisa teraplikasi pada manusia, Ya Allah‘. Lalu AHA! Saya sadar : Mau seberapa ketakutannya saya pada kehamilan, saya tidak dapat mengingkari kodrat alamiah saya sebagai perempuan. Bahwa wanita itu memang kodratnya adalah hamil, lalu melahirkan. Mau seberapa ketakutannya, mau seberapa membayangkan segala rasa kesakitannya, di bawah alam bawah sadarnya, setiap wanita itu pasti mau untuk hamil. Walau kadarnya mungkin berbeda-beda.

Saya jadi teringat, tentang obrolan dengan seorang teman yang bilang : ‘Kalau ada teknologi yang bisa bikin kita copot rahim kita sebulan sekali, terus diperes tuh semua darahnya. Peres..res.. sampai gak bersisa. Terus dibalikin lagi. Jadi kita perlu merasakan menstruasi. Mau deh’. Terus saya membayangkan dan spontan bilang : ‘Gak gitu juga kali. Mending kayak sekarang deh. Sakit-sakit juga gapapa‘. Lalu saya teringat dengan betapa sebalnya saya dengan menstruasi, karena saya bisa sampai muntah-muntah dan hanya terbaring saja jika hari menstruasi tiba. Namun jika benar-benar disediakan teknologi / pilihan untuk menghilangkan semua itu, saya pun tidak mau memilihnya.

Mungkin pada akhirnya, saya harus mengibarkan bendera putih. Berdamai dan pasrah menerima kodrat sebagai wanita, yang memang dikelilingi dengan rasa sakit (namun sekaligus diberkahi dengan kekuatan bertahan terhadap rasa sakit itu).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s