Belajar emosi

CD_3250

Sudah beberapa hari ini, ibu dan ayah saya pergi ke luar kota. Jadilah tanggung jawab Hashfi beralih ke saya dan adik-adik saya yang lain. Contohnya hari ini. Saya sudah mengatur jadwal agar bisa menjemput Hashfi sepulang sekolah. Karena toh hanya ada 2 meeting hari ini dan sepertinya meetingnya akan berjalan dengan cepat.

Namun ternyata..meeting pertama yang saya kira hanya tinggal meng-approve kerjaan rekan bisnis, ternyata berjalan sangat alot. Meeting yang tadinya diprediksi hanya maksimal 1 jam, menjadi kurang lebih 3 jam. Saya juga tidak bisa meninggalkan meeting itu, secara saya yang harus menentukan dan mengambil keputusan. Jadilah saya harus membatalkan meeting kedua, dan menyuruh tetangga untuk menjemput Hashfi. Sayangnya tetangga ini tidak bisa dihubungi. Jadilah saya harus terburu-buru meeting, dan secepat kilat meninggalkan tempat meeting setelah menutupnya dengan sangat tergesa-gesa.

Tapi ya..taulah Jakarta. Gak siplah rasanya kalau gak pakai macet. Sepanjang perjalanan, saya langsung berpikir. Bagaimana ya jika di titik ini saya memilih menjadi seorang ibu? Pasti saya akan merasa bersalah setiap hari. Cinta kerjaan tapi pasti merasa bersalah dengan anak kalau anak jadi terlantar atau kebanyakan dititipi ke orang lain. Terlambat menjemput Hashfi saja rasanya sudah guilty feeling yang luar biasa. Akhirnya saya pun baru sampai ke sekolah Hashfi jam 15.10, padahal ia keluar jam 14.00. Untungnya ada temannya yang baik hati yang mau menunggunya. Saat saya menjemput, mbak dari temannya langsung menggendong Hashfi ke mobil. Hashfi sendiri dalam keadaan menangis meraung-raung.

Saat itu, walaupun ia menunjukkan perilaku seperti itu. Saya sangat sadar, ia mengalami kemajuan dalam meregulasi emosi. Ia memang masih menangis sih. Sama seperti reaksi yang bisa ia tunjukkan saat ia tidak menyukai suatu keadaan. Namun ia mampu menangis tanpa menendang-nendang mobil atau pun melakukan agresi fisik (seperti memukul atau setidaknya mengguncang-guncang tangan saya). Durasi menangisnya pun juga cepat hilang. Saat saya suah menyetir ke belokan ke Jalan Bangka, tangisannya sudah jauh berkurang, hanya sesenggukan saja (sekitar 5 menit lah dari saat ia pertama masuk mobil). Intensitasnya pun jauh lebih rendah dibandingkan biasanya. Saya sangat bangga padanya! Tapi ya..jelas saya tidak membicarakan itu padanya sekarang.

Saat itu reaksi saya hanya diam dan fokus menyetir. Namun saat tangisannya sudah reda, saya mulai minta maaf. Saya tunggu reaksinya, biasanya tangisannya akan makin kencang, atau ia akan berkata ‘Mbak Di jahat!’. Saat itu, dia diam, namun masih menangis dengan intensitas yang sama. Jika tangisannya makin menjadi, biasanya saya akan diam kembali. Tapi saya tahu, kala itu berarti ia sudah siap untuk mendengarkan penjelasan saya. Saya pun bercerita secara detail kronologis kenapa saya bisa terlambat menjemputnya. Ia diam saja, tapi saya tahu ia pasti mendengarkan. Tangisannya makin mereda. Saya pun mengusap-usap rambutnya sepanjang perjalanan.

Setelah itu, saya tawarkan ia untuk makan. Saya bilang ‘Mbak Di tahu Hashfi pasti lapar dan cape nunggu Mbak Di. Sekarang Mbak Di beliin Hashfi makan Nasi Padang ya‘. Ia diam saja. Lalu saat sudah dekat dengan tempatnya, saya katakan lagi ‘Mbak di lurus saya, ke tempat nasi Padang‘. Ia diam saja. Saya tahu ia setuju dengan ide saya.

Saat sampai, saya menawarkan Hashfi untuk ikut dengan saya ke rumah makan atau di mobil saja. Ia diam. Saya lalu mulai mematikan AC dan bertanya, ia kembali diam. Saya pun berkata ‘Ok, Hashfi berarti ikut Mbak Di beli makanannya ya.’ Ia diam. Namun saat saya beranjak, ia berkata sambil mau menangis ‘Mbak Di tinggalin aku‘, sambil akan menangis. Saya langsung bilang. ‘Ok, Hashfi ikut mbak Di ya. Mbak Di gendong Hashfi kesana‘. Hashfi tahu saya tidak pernah mau menggendongnya, jadi kalau saya sampai menawarkan hal tersebut, berarti itu adalah hal yang besar! Ia pun langsung diam dan nemplok ke saya. Lalu saat di rumah makan Padang, saya tanya dia pakai sayur apa tidak, sambal apa tidak. Ia sudah mulai menjawab, walaupun dengan anggukan dan gelengan. Saat itu saya sadar, bahwa ia sudah mulai dapat mengatasi keadaan dan emosi negatifnya, berarti ia sudah siap ke tahap selanjutnya, yaitu mengobrol hal-hal ringan.

Di mobil, saya berbicara mengenai hal lain. Saya lupa apa. Ia masih diam saja. Tapi sudah tidak menangis. Saat di rumah, kami makan nasi Padang sambil mengobrol. Ia sudah mulai menjawab saat saya tanya. Bahkan sudah bercerita sendiri apa yang terjadi di sekolah. Nah setelah beberapa lama, kami sudah mengobrol seperti biasa, saya pun berkata tentang perasaan saya, yaitu begini :

Saya : Mbak Di sayang adek
Hashfi : Iya
Saya : Hashfi sayang gak sama Mbak di?
Hashfi : Iya
Saya : Sayang tapi kesel? (disini saya mencoba meng-acknowledge anak untuk mengenali perasaanya sendiri. Bahwa ia bisa saja punya dua perasaan yang bertentangan pada satu orang)
Hashfi : Enggak
Saya : Hashfi udah gak kesel lagi sama Mbak Di?
Hashfi : Enggak
Saya : Makasih ya Hashfi udah mau maafin mbak Di.

Terus setelah itu kamu mengobrol lagi, dan ia minta izin ke saya untuk tidur. Nah..nanti kalau ia bangun tidur, saya mau bilang padanya, betapa hebatnya ia dalam meregulasi emosi hari ini dan betapa ia berhati besar untuk mau memaafkan kesalahan orang lain!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s