Donasi

full_1357935754shutterstock_70955626

Beberapa bulan terakhir ini, saya bekerja sebagai psikolog di sebuah panti asuhan. Ada beberapa hal yang agak mengganjal di hati & pikiran saya, terutama tentang dua hal di bawah ini.

Saya baru tahu, ada sumbangan model kasih uang di dalam amplop untuk anak-anak panti asuhan, sambil ditulisi atau disertai doa-doa yang harus dilafalkan anak panti itu. Katanya sih biar doa kita terkabul. Katanya sih doa anak-anak panti itu manjur. Tapi.. lalu esensinya memberi donasi itu apa sih? Lebih ke arah altruisme atau.. semacam pemulus ambisi kita? Penjembatan antara keinginan kita dengan telinga Tuhan, lewat jalan bibir anak-anak ini?

Panti asuhan tempat saya bekerja ini, cukup terkenal. Konsekuensinya, setiap ada yang ingin mengadakan kegiatan bersama anak yatim, hampir pasti terlintas nama panti asuhan ini. Walhasil, silih berganti setiap hari orang-orang yang hadir kesana, terutama di bulan Ramadhan. Bagus sih, artinya banyak orang yang masih peduli dengan anak-anak yang tidak tahu dimana ayah dan ibunya ini. Bagus sih, artinya kebutuhan fisik (seperti sandang, pangan, dan papan) anak-anak ini terpenuhi. Tapi.. efek sampingnya pun terasa. Setidaknya, dari kacamata saya, yang mengamati dari balik layar, terutama sejak layarnya ditutup. Mereka yang datang, hanya melihat kemeriahan panggung, ikut larut bersuka ria dalam perhelatan akbar, lalu pulang dengan membusungkan dada dengan bangga dan berkata ‘akulah yang membuat panggung ini ada‘.

Saya tidak bilang itu adalah hal yang buruk. Masa berbuat baik diartikan sebagai keburukan? Tapi kok rasanya, anak-anak ini  akhirnya hanya menjadi objek semata. Sedangkan subjeknya, bintang panggungnya, adalah orang yang come and go ke panti. Pergi ke panti untuk sekedar mendapat label ‘orang baik’, lalu setelah itu udah. Mungkin kalau saya simpulkan, seperti semacam gaya hidup semata.

Saya pernah tanya ke beberapa anak panti itu, apa yang sebenarnya mereka lakukan saat orang-orang ini datang, dan mereka menjawab tidak tahu. Mereka hanya diajak kegiatan ini itu, sama si a, b, c, sampai z, tapi tidak tahu esensinya. Mereka tidak merasakan afeksi atau emosi, yang saya kira tadinya akan mereka tangkap sebagai emosi positif.

Kalau boleh saya simpulkan, anak-anak panti hanya butuh kasih sayang (atau kalau kasih saying terlalu mewah, mungkin perhatian), dari orang-orang yang datang. Bukan sekedar memberi makan, donasi, lalu pulang (tentu dengan tak lupa berfoto-foto untuk diperlihatkan ke social media, sebagai cap ‘orang baik’ dari social). Mereka lebih butuh, orang yang fokus perhatian sama mereka. That’s it. Tanpa perlu material apapun.

Mereka tidak perlu pesta setiap hari. Terlalu banyak pesta, kesenangan, dan hura-hura tentu juga tidak baik untuk mereka bukan? Apa yang mereka dapat setelah pesta berakhir? Menagih dan terus menagih pesta itu terus ada, namun pesta harus berhenti, distop oleh pengawal bernama ‘umur yang semakin beranjak dewasa’, dan mereka mungkin menjadi bingung, kemana harus pergi setelah pesta berakhir? Karena mereka tidak  tahu, dunia diluar pesta.

Ah, tapi ini mungkin saya saja yang terlalu sinis, atau sedang PMS.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s