#holiday D1

Hola!

Akhirnya liburan lagi! (sambil training sih. Eh harusnya mah training sambil liburan ya. Hehe).

Liburan yang menyenangkan itu semuanya selalu dimulai dari Soekarno-Hatta. Pertama kali, aku dan mbak Nia memulai dengan naik Air Asia ke Singapore. Kejutan yang menyenangkan adalah, ternyata bisa self check ini dan cetak boarding pass sendiri! (less paper) Caranya download aplikasi Air Asia di ios terus langsung check in deh (soalnya kalau online check in dari web harus masukin biodata ini itu, sedangkan di ios cuman masukin kode booking. Kalau sulit, ternyata di mesin bandara juga bisa cetak boarding pass sekalian check in kok). Nah setelah check in, dapat deh barcode seperti ini :
20130802-062658.jpg

Nanti begitu sampai mesin di bandara, langsung scan barcodenya (jangan terlalu dekat, nanti gak kedetect terus *pengalaman pribadi). Terus langsung keluar deh boarding pass seperti ini :
20130802-062543.jpg
*ini yang udah kepotong deh*

Nah, tapi berhubung kita membawa bagasi, jadi tetap setelah itu harus check-in manual untuk taruh kopernya. Disini agak drama dikit. Berhubung kami pesawat budget ya, jadilah berat maksimum hanya 15 kg, dan tasnya mbak Nia 15 kg lebih sedikit. Ya sudahlah, agak bongkar itu tas, sedikit isinya dikeluarin masukin ke koperku (yang Alhamdulillah isinya 12 kg-an jadi gak perlu drama).

Siap untuk berangkat! Tapi agak-agak mati gaya, dikarenakan antisipasi yang keterlaluan. Pesawat jam 14.00 (delay pula 20 menit), berangkat dari rumah jam 09.00 (kirain macet, ternyata gak sampai jam 10.00 udah sampai). Padahal Hashfi udah ngomong berulang kali, ngapain 5 jam? Hehe.. Bener juga itu bocah.

20130802-065117.jpg
*teman senasib seperjuangan agogo*

Sebelum berangkat, ternyata ada airport tax Rp. 150.000! *lupa banget, uang rupiahnya padahal tingal receh gitu. Untung ada suaminya mbak Nia yang baik hati minjemin. Hehe (yang setelah itu jadi celah untuk mbak Nia bilang ‘makanya cepet-cepet punya suami) -_-

Oh iya, jangan lupa untuk matikan paket data ya. Sederhana sih, tapi kalau sampai lupa bisa berjuta-jutalah itu tagihan. Untuk yang pakai iPhone, masuk ke settings >> general >> cellular >> terus off-in aja ‘cellular data’ dan ‘enable 3G-nya’. Untuk yang XL, bisa telfon ke 817 kalau gak tahu caranya (serasa petugas XL). Oh ya, terus yang XL, bisa juga non aktifkan yang lainnya, dengan cara : #818# (nonaktif voice mail) dan ##002# (nonaktif CF *gak tahu itu apa*). Jadi bisa tetap terima telfon dan SMS, tapi paket data off (toh banyak wi-fi ini bertebaran di negeri orang. Sejauh ini kecuali Narita ya gak bisa nyambung-nyambung wi-finya).

Turun dari Changi (dikarenakan delay), jadilah udah jam 6 tiba-tiba. Cari makan berbuka dulu sajalah kita. Dan petunjuknya di Changi itu bikin keder deh (atau mungkin hanya untuk orang berspasial buruk kayak gw). Misalnya dibilang ‘prayer room’ itu lurus, giliran lurus eh petunjuknya udah ganti lagi dan gak ada sisa-sisa tulisan ‘prayer room’ lagi (kayak petunjuk di jalan tol Jakarta aja deh yak, kalau kata mbak Nia). Habis itu baru kita baggage claim *nah ini lumayan muter-muter karena kita terus berusaha mengikuti petunjuk. Akhirnya menyerah dan tanya orang. Ternyata, harus keluar imigrasi dulu baru bisa ambil tas kita. Dan sudah bertenggerlah tas kita di pinggiran (yang memunculkan insight lebih enak kalau ambil koper nanti-nanti aja, lebih cepat gak usah nunggu-nunggu koper keluar macam nunggu sushi gitu. Hehe..)

Berhubung kita masih flight jam 01.00, jadi kan masih ada waktu lumayang sekitar 5 jam. Jadilah kita check-in dulu ke scoot (dan penyebutan gw salah ternyata, langsung melafalkan ‘scoot’ aja, ternyata bacanya ‘scuut’ *jadi malu), dan ternyata early check-in bayar juga S$5.

20130802-080122.jpg
*walau dodol baca map, tetap happy-happy sajalah*

Terus kita naik MRT deh ke Orchard *yang juga bikin bingung karena..ya bingung aja. Haha. Padahal setelah dipikir gampang banget sih harusnya, secara mereka ada lampu yang berkedip untuk rute jalur yang dilewati dan lampu berkedip juga tiap kali ganti stasiun*. Nah terus dodolnya kita adalah beli kartu pergi. Terus beli lagi kartu pulang *yang mana harusnya beli sekali aja juga bisa* haha. Dan yang maha dodol adalah, setelah udah di stasiun kita baru sadar kalau kita ngantuk dan capek banget, dan ngerasa keputusan untuk pergi ke Orchard tuh salah besar *tapi mau balik juga tanggung*. Jadilah kita hanya meratapi dan membayangkan duduk dengan nikmat di kursi pijat Changi. Terus pergi ke Orchard cuman foto di depan tulisan jalan Orchard, beli aqua dan roti, terus udah deh *orang kaya failed. Haha* Eh sama lihat H&M yang lagi diskon deh. Gila! Ada beberapa yang cuman S$7 *terus tiba-tiba inget naik pesawat budget yang batas beratnya sangat terbatas, lalu memutuskan angkat kaki*. Eh sama nyoba beberapa semprot parfumnya Victoria’s Secret deh biar tetap wangi selama terbang di atas *haha padahal semua terjadi karena ketidaksengajaan, tapi dipikir-pikir jadi kayak kere style gitu ya*

Tiba di Changi, langsung cari tempat sholat. Bahkan petugas bagian informasi juga lupa dimana letak tempat sholat (ini nanya sebelum ke Orchard). Setelah dari Orchard, dia sengaja nyamperin gw untuk kasih tahu bahwa disana gak ada prayer room, tapi ada setelah nanti aku check-in *baiknya*. Dia bahkan nanya-nya aku mau kemana dan lain-lain *ini baik apa kepo ya* dan terakhirnya bilang ‘have a pleasant trip’. Tuh indah kan ya perbedaan, orang di negara lain aja bisa menghargai minoritas *ngomong sama FPI*

Di dalam, lagi-lagi aku menemukan tulisan ‘prayer room’ tapi gak tahu itu ada dimana. Ternyata, yang dimaksud adalah sebuah tempat di dekat tangga, yang ada papan pengumuman bekas bertengger juga di tempat sesempit itu *masih dilapisi karpet sih sebenarnya*. Tapi entah mengapa, aku menemukan kedamaian disana. Sholat entah mengapa jadi terasa sebentar dan ingin lagi, dibandingkan waktu di rumah tuh rasanya sholatnya kok banyak banget ya rakaatnya :p Mungkin memang benar, di dalam kesempitan atau kekurangan, kita justru semakin dapat mensyukuri apa yang kita miliki :))

Nah, sudah siaplah kita pergi ke Jepang! *sambil tetap terobsesi untuk duduk-duduk sebentar di kursi pijat, yang mana orang yang duduk di kursi itu lamaa banget duduknya dan sambil main HP pula. Aku sama mbak Nia udah mikirin cara mengitimidasi mereka, berpikir harusnya ada time limit untuk pakai kursi itu, sampai berpikir apa hubungan dua orang yang memakai kursi pijat itu, dan mereka pun gak turun-turun*. Akhirnya kami pun menyerah dan masuklah ke pesawat. Sampai bertemu, Jepang 😀

Btw di jalanan Orchard, kelihatan dengan jelas ya bagaimana identitas dibuka dengan transparan, tanpa tersisa satu kulit pun. Seperti bagaimana beberapa orang tanpa jengah bermesraan di publik atau saling menunjukkan ketertarikan pada sesama jenis. Aku gak pernah bilang aku setuju atau tidak terhadap suatu pandangan atau gaya hidup yang non-mainstram ya, tapi sepertinya ada tempat dimana sesuatu merupakan privasi, karena justru keekslusifan dari privasi itu yang menjadikan kita merasakan puncak kenikmatan. Kita adalah utuh. Kita adalah penonton sekaligus aktor. Sedangkan menjajanya ke rung publik, adalah persoalan lain. Kita seakan-akan hanya menjadi aktor dan orang lain adalah penontonnya, suka tidak suka, bayar tidak bayar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s