Boleh marah, asal..

Maryland-school-bans-hugs-600x400

Menurut saya, marah bisa dikategorikan menjadi 4 tipe, yaitu :
1) marah secara fisik. Bisa dengan memukul, menendang, dan ya..banyaklah. Anda bisa menyebutkannya sendiri.
2) marah secara verbal. Bisa dengan mengatakan kata-kata kotor. Semua penghuni kebun binatang keluar semualah.
3) marah verbal secara implisit. Mengeluarkan kata-kata yang dapat menyakiti orang lain, tapi gak pakai kata-kata sekasar yang kedua. Lebih inteleklah. Semacam : ‘kok bisa ya orang kayak kamu hidup di dunia ini? Gak ada bagus-bagusnya. Udah gak pintar, …… dst’.
4) marah yang terkontrol.
Orang yang sudah bisa marah jenis ini berarti memiliki regulasi emosi yang baik. Mereka bisa marah secara objektif. Misalnya, kesal karena ada staf yang menyelesaikan tugas lewat dari batas waktu. Ya.. yang difeedback hanya bagian itu saja dan tidak menyerang ia secara pribadi, apalagi mengungkit-ungkit kesalahannya di masa lalu. Kita ingin ia berubah lebih baik kan, bukannya menjatuhkan self esteem-nya?

Kalau di psikologi, konsep marah di atas dijelaskan dengan term ‘agresi’ (jadi inget tesis di masa lalu. Haduh). Agresi itu sendiri dibagi macem-macem ya, salah satunya ada agresi fisik dan verbal. Jadi sebenarnya gak ada tuh verbal implisit atau eksplisit, verbal ya verbal aja. Saya aja yang buat-buat sendiri. Hihi. Yak lanjoet.

Jadi..kalau menurut saya sendiri sik, urutan marah itu turut menentukan tingkat perkembangan kita sebagai manusia.

Coba lihat deh anak bayi-bayi umur setahunan gitu. Kalau dia mau apa gitu, terus orang disekitarnya gak ngerti, apa yang ia lakukan? Yak, bisa tantrum, pukul-pukul, tendang-tendang. Segala jenis olah tubuhlah dipakai. Itu karena bahasa mereka sedang berkembang. Tingkah laku mereka itu bisa dipicu rasa frustasi karena ia ingin mengatakan sesuatu, tapi orang lain tidak mengerti apa yang ia katakan karena keterbatasan kemampuan verbalnya. Lama-kelamaan, dengan diajarkan dan dicontohkan untuk berbicara saat ingin sesuatu, dan perkembangan bahasanya pun meningkat, anak akan mengurangi marah secara fisik ini. Nah.. Jadi kalau ada orang dewasa yang masih kesal dan lalu melakukan kekerasan fisik. Nah ya.. Punya mulut gak? Bisa berbicara lancar? Masa mau disamakan dengan anak bayi.

Selanjutnya, setelah perkembangan bahasa yang mulai lancar. Anak mulai tuh mengekspresikan rasa kekesalannya dengan bahasa yang terbatas. Untuk orang dewasa yang kalau marah-marah masih menggunakan sumpah serapah hewan-hewan, apalagi dengan nada yang tinggi. Hmmm.. Masa iya perkembangan bahasanya masih setara dengan anak umur 3 tahun? Bisa dong, menjelaskan lebih jauh alasan marahnya, daripada hanya sekedar diwakili dengan nama-nama binatang. Gak relevan ih.

Tahap selanjutnya, marah yang lebih advance, yaitu mulai bisa mengganti marah dengan ucapan yang lebih halus, walaupun tetap aja nyakitin sih. Misalnya, ‘kamu tuh bisanya apa sih? Nyusahin aja bisanya’. Mungkin kalau di anak-anak kecil, hal ini diwakilin dengan kata-kata ‘Aku benci sama mama!’, padahal dia gak benar-benar benci, tapi hanya sedang sebal saja saat itu. Hal ini sebenarnya wajar ada di anak, mengingat perkembangan emosi mereka yang baru berkembang. Jadi mereka kesulitan tuh untuk merasakan dua emosi sekaligus (lagi sebel sama mamanya karena dilarang beli mainan, tapi sayang juga sama mamanya). Nah..itu kalau di anak-anak. Apa jadinya kalau ini yang terjadi di orang dewasa, khususnya orang tua. Misalnya, anak sudah dibilang jangan manjat-manjat jendela, tapi dia masih aja manjat jendela, terus reaksi orang tua ‘kebiasaan deh! Emang anak nakal yang kamu! Nanti kalau jatuh baru tahu rasa!’. Coba direnungkan, ketika berbicara kalimat ini, sampai gak ya pesan ‘jangan manjat jendela karena itu bahaya’ ke anak? Enggak! Yang ia rasakan adalah cap bahwa ia adalah anak nakal. Ia juga gak tahu apa salahnya, sehingga bagaimana ia mau mengoreksi diri? Jadi, anak gak belajar apa-apa dari sini. Lagipula, mungkin ada orang tua yang berbicara tentang keadilan atau bersikap adil. Nah, kira-kira dengan sikap di atas apakah orang tua sudah mengajarkan anak untuk adil? Satu kesalahan langsung dipukul rata bahwa anak dilabel nakal?

Tahap yang paling akhir adalah marah yang terkontrol, yaitu marahnya sudah bisa diregulasi. Seseorang yang sudah bisa untuk mengelola kemarahan, dan menyampaikan hal yang membuat ia marah dengan appropriate. Misalnya ketika marah karena anak menumpahkan makanan atau mengompol saat tidur. Ya.. Berarti dinasehati dan diberitahu tentang kesalahannya, dan juga alasan kenapa itu merupakan sebuah kesalahan, serta apa yang diharapkan orang tua ke depannya. Nah.. Kalau orang tua sudah dapat menerapkan hal tersebut, anak bisa mengerti apa yang diharapkan oleh orang tua (dengan begitu kemungkinan anak untuk merubah sikapnya lebih tinggi) dan juga anak dapat mencoba / melakukan modelling saat ia pun merasa marah, maka ia tahu bagaimana harus bersikap atas kemarahannya secara appropriate. Jadi.. daripada menasehati anak untuk tidak ngamuk-ngamuk saat marah, lebih baik untuk mencontohkan kan. Memang bukan suatu hal yang mudah, tapi bukan berarti tidak dapat untuk dicoba kan? Seperti yang orang dulu baik, ‘alah bisa karena biasa’. Happy parenting..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s