Tentang kegagalan..

Thumbdown-large

Hari ini saya belajar bahwa : kegagalan kadang membawa ke hal positif.

Sudah rencana saya untuk setelah lulus – mengambil magang – mengambil sertifikasi salah satu intervensi – membuka praktek sendiri.

Rasanya itu adalah rencana yang tidak dapat dikompromikan, dalam benak saya, kala itu. Namun, setelah lulus, program magang belum dibuka. Lalu, sambil menunggu, tanpa saya rencanakan saya mendapatkan beberapa pekerjaan impian saya. Dan tidak berapa lama, dosen saya memberitahu kalau program magang akan dibuka beberapa bulan setelah saya lulus. Saat itu..antusiasme saya yang saya kira ada, tidak muncul. Saya mencoba semata-mata, ya..itu sudah ada dalam rencana saya saja. Waktu saya kira saya tidak bisa mengumpulkan berkas sebelum tenggat waktu, saya pasrah, tapi ternyata bisa. Waktu saya kira surat rekomendasi dari dosen saya hilang dan berarti tidak memenuhi persyaratan magang, ternyata dosen saya sampai bela-belain menulis surat yang baru.

Namun, dalam prosesnya pun saya selalu bertanya-tanya, apa gunanya jika memang saya magang?

20130520-161106.jpg

Bahkan sepertinya saya sudah feeling sebelum hari H-nya. Kalau baca tweet saya yang ini :

20130520-161130.jpg

Sampai tibalah hari ini, hari pengumuman, dimana saya ditanyakan : tidak diterima. Menyebalkan sih (ya pasti menyebalkan), ketika tahu seseorang atau suatu lembaga tidak menginginkan kamu berada di dalamnya, apapun alasannya. Namun untuk orang sekompetitif saya, perasaan itu anehnya hanya saya rasakan sebentar saja. Setelahnya berganti kelegaan. Kelegaan karena saya tidak perlu membayar uang magang yang cukup mahal. Kelegaan karena saya dapat mengeksplorasi hal-hal yang saya sukai tanpa perlu terikat dengan komitmen dan kewajiban tertentu yang cukup ketat. Kelegaan karena berbagai hal yang lain. Sepertinya.. hati dan pikiran saya sudah tahu bahwa saya tidak begitu menginginkan dan membutuhkan ini.

Dari situ saya juga menyadari, bahwa sedari dulu saya dibentuk (atau saya saja yang menafsirkannya. Entahlah) untuk tidak pernah boleh gagal dalam hal apapun. Itulah mengapa saya menjadi orang yang teramat kompetitif. Jadi, ketika saya gagal untuk pertama kalinya, dalam tes masuk S2, saya malu setengah mati. Saya tidak sempat berduka dan kecewa atas diri saya sendiri. Saya tidak sempat mempertanyakan apakah saya benar-benar ingin akan hal itu. Apakah kegagalan bukan menjadi hal yang terbaik untuk saya. Pikiran saya penuh dan lebih sibuk akan ketakutan dari hinaan dan segala hukuman dan sanksi sosial yang datang dari luar diri saya. Saya berkompetisi untuk menyenangkan pihak di luar diri saya, yang sayangnya tidak pernah puas akan pencapaian yang saya buat.

**

Entah saya saja, atau kebanyakan dari kita, dididik untuk menjadi pembawa aura gembira. Didorong menampilkan emosi positif (tapi tidak berlebihan juga. Mungkin karena saya Jawa juga ya), namun dilarang untuk menampilkan emosi negatif. Menangis atau meluapkan kemarahan menjadi hal yang tabu terjadi. Padahal, emosi negatif itu perlu dirasa dan diperlihatkan, agar kita dapat menampilkan emosi positif yang lebih baik. Misalnya saja, jika seorang anak kecil sebal karena janji bermain dengan orang tuanya dibatalkan, karena mendadak orang tuanya harus rapat. Apakah lalu si anak tidak berhak untuk marah, sedih, atau kecewa? Dan mengekspresikan emosi negatif tersebut? Yang ada, ketika emosi negatif tidak ditampilkan sama sekali, emosi positif yang tampil akan menjadi palsu. Padahal dengan pengekspresian emosi negatif, bisa saja kita menjadi belajar untuk memberikan emosi positif yang genuine nantinya. Belajar untuk meregulasi emosi (tidak meledak-ledak saat menampilkan emosi negatif di waktu yang lain). Belajar bahwa untuk menampilkan emosi yang positif itu tidak semata-mata instant, membutuhkan proses dan waktu, yang mungkin tidak hanya sekejap. Belajar untuk lebih genuine menampilkan segala sesuatu.

Begitu juga yang namanya kegagalan, yang sudah mendapatkan cap negatif. Seakan-akan ketika gagal, dunia pun runtuh. Padahal, bisa saja kegagalan itu menuntun kita untuk melihat ke arah yang lain, yang mungkin menggiring kita ke kesuksesan yang lebih. Atau bisa saja kegagalan itu memacu kita untuk belajar lebih, menampilkan kualitas yang lebih baik, nantinya. Jadi, mengapa takut gagal?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s