Linier

linier

Saya pernah mendengar pernyataan di radio bahwa ‘setiap manusia memiliki kemampuan untuk menjual dirinya, bahkan dari bayi. Misalnya bayi memiliki keinginan, maka ia akan menjual tangisannya’.

Pikiran pertama saya : benar juga. Pikiran kedua adalah, terus kalau seperti itu mengapa ada orang yang sukses dan tidak? Atau karena ukuran sukses itu relatif, tolak ukurnya diganti menjadi kenapa ada orang yang memiliki banyak uang, sementara yang lain tidak?

Lalu saya sampai pada pemikiran, bahwa kebanyakan orang menjual diri dengan cara yang serupa satu sama lain. Sekolah setinggi-tingginya untuk menaikkan harga ‘dirinya’, melamar ke perusahaan yang bonafit demi menjaga kestabilan harga ‘dirinya’, (atau jika tidak dipanggil-panggil, terus berusaha, walaupun resikonya menganggur untuk jangka beberapa waktu), lalu setelah itu tinggal menunggu dipanggil yang maha kuasa.

Kebanyakan orang memilih menjual dirinya dengan cara yang linier, seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang yang lain. Terus saya berpikir, dimana menariknya hidup yang seperti itu?

Sementara segelintir kecil orang lainnya berpikir untuk memilih jalan memutar, ke kiri atau ke kanan. Intinya memilih jalan yang lain selain jalan yang lurus. Setelah itu hidupnya dipenuhi pertemuan dengan berbagai box di setiap perjalanan hidunya. Terkadang ia mendapatkan box yang menyenangkan, terkadang menyebalkan. Namun yang pasti, hidup selalu menawarkan kejutan demi kejutan untuknya.

Lalu.. mengapa sebagian besar orang lebih memilih untuk menjalani hidup yang linier jika setiap orang sebenarnya dikaruniai dengan kemampuan untuk menjual dirinya? Kenapa justru lebih memilih kehidupan yang menjemukan?

Mungkin.. Pada akhirnya setiap orang membutuhkan jaminan (mungkin itu sebabnya perusahaan asuransi berjamuran. Mungkin itu sebabnya pendaftaran CPNS tidak pernah sepi). Mereka membutuhkan sesuatu yang menggaransi hidup, walaupun itu harus ditukar dengan segala kejutan hidup yang menanti. Dan seperti biasa, hidup penuh kontoradiksi. Begitu juga manusia. Makhluk yang membutuhkan kepastian namun juga mudah dilanda kobosanan. Mungkin itu yang menyebabkan kita kerap kali melihat cicitan mengenai kerja yang tiada henti, kantor yang menjemukan, atau rekan kerja yang menyebalkan, yang terulang setiap saat, tanpa berusaha untuk keluar dari kondisi tersebut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s