Curiosity vs kepo

Aw_-gtOCMAIiWvx

Nah merujuk pada point b, memang seorang anak bisa banget untuk terus menerus mengajukan pertanyaan demi pertanyaan.

Itu juga terjadi pada Hashfi, yang mana merupakan hal yang positif. Tapi.. terkadang pertanyaan yang diajukan benar-benar bisa merupakan pertanyaan yang tidak penting, yang membuat saya sampai harus berkata ‘Menurut kamu?’ atau ‘Adek kalau sebelum ditanya, dipikir dulu, kira-kira udah tahu jawabannya belum?’. Terus tingkat keingintahuannya tuh kadang-kadang juga sudah melebihi batas, kayak ikut melihat HP saya saat saya sedang BBM-an. Lalu akhirnya saya mengobrol dengan dia.

‘Adek itu orangnya high curiosity tapi juga kepo. Nah, high curiosity itu positif, tapi kepo itu bad. Tahu gak misalnya pas high curiosity itu apa?’

‘Kayak misalnya pas aku nanya-nanya pelajaran ke Mbak Di ya?’

‘Iya. Jadi kan kalau rasa ingin tahunya besar kan bagus tuh, kayak pas adek nanya-nanya pelajaran, yang gak tahu jadi tahu, jadi makin pinter deh. Nah kalau kepo gimana?’

(dia diam)

‘Kayak misalnya ngeliatin mbak Di pas lagi BBM-in atau dengerin orang pas lagi nelfon orang lain. Orang kan bisa aja gak mau didengerin pas dia lagi telfon atau pas lagi BBM-an. Itu karena setiap orang punya privasi.’

Dan untungnya setelah itu Hashfi ngerti sih. Dia pernah waktu itu duduk bersebelahan dengan saya waktu saya sedang BBM, dan dia bilang ‘aku gak lihat lho’, padahal sebelumnya kalau saya sedang BBM dan saya tidak memperbolehkan dia melihat, dia kadang-kadang bisa sebal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s