After 2,5 years..

Menjadi seorang psikolog tidak pernah ada di benak saya sebelumnya. Bahkan sampai duduk menjadi mahasiswa S1 di psikologi pun, tidak pernah saya bermimpi menjadi psikolog. Entah sejak kapan, saya memutar haluan cita-cita saya menjadi seorang editor di Cosmopolitan untuk kemudian berubah menjadi seorang psikolog anak. Sejak itu, saya yakin saya harus mengambil S2 di psikologi. Dan akhirnya, 2, 5 tahun yang lalu, terdaftarlah saya menjadi seorang mahasiwa magister profesi klinis anak.

Kata orang, mengenyam pendidikan sebagai psikolog berarti rawat jalan. Mengobati diri sendiri dahulu sebelum bisa membantu orang lain mengatasi masalahnya. Saya meragukan itu. Saya rasa, saya tidak mendapat banyak pelajaran berarti saat saya duduk di bangku S1. Tugas dan ujian berarti hanya menghafal segepok kertas yang akan dilupakan beberapa hari setelahnya. Latihan untuk mengamati orang lain pun hanya mengasah kemampuan wawancara dan observasi, bukan mengenali dan berempati pada orang lain, apalagi mengenal diri sendiri. Sehingga ketika saya masuk ke S2 pun, tidak banyak ekspektasi saya, kecuali menjadikan saya legal sebagai seorang psikolog.

Namun, nyatanya saya salah! Setiap moment di dalam perjalanan saya dalam menjalani pendidikan psikolog mengantarkan saya untuk berdiri dan masuk ke berbagai pintu yang berbeda, yang sebelumnya terlalu takut untuk saya masuki. Dan di akhir perjalannya, semua itu memberikan saya kesempatan untuk lebih mengenal diri saya sendiri dengan jauh lebih baik, yang akhirnya membuat saya pun berinteraksi dengan lebih baik ke orang lain.

Semua itu tidak akan terjadi tanpa adanya orang-orang yang mau bersusah payah menyisihkan waktu dan tenaganya demi mendorong saya (yang keras kepala ini) untuk berani menggali sedikit demi sedikit hal-hal yang dulunya saya timbun dan tutupi rapat-rapat. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, saya ingin berterimakasih setulus-tulusnya pada mas IS. Ia yang mengajarkan pada saya, entah disadari ataupun tidak, untuk menjadi pribadi yang tidak mengasihani diri sendiri. Untuk membiarkan yang lalu menjadi masa lalu, dan menjadi ‘ada’ di masa ini tanpa terus menerus memendam kemarahan, kebencian, dan kebingungan di masa lalu. Mungkin mas IS hanya memberikan kail pada saya, sambil sedikit saja memberikan tips bagaimana cara mempergunakan kail tersebut. Lalu saya ditinggalkan sendiri di pinggir kolam, dan dengan segala trial and error saya mencoba terus menerus untuk memahami keberadaan kail tersebut. Sekarang saya rasa saya sudah mulai bisa mempergunakan si kail, bahkan terkadang sudah mendapatkan ikan sedikit sedikit. Tanpa adanya mas IS, tidak mungkin saya berada di tahap ini, bahkan kail saja saya tidak tahu apa bentuknya. Terima kasih yang setulus-tulusnya saya haturkan, Mas.

Saya juga sangat berterimakasih pada BA. Dari dulu, saya tidak tahu bagaimana caranya untuk menjadi seorang sahabat yang baik. Saya selalu memberikan ancang-ancang dan siap berada dalam jarak-jarak tertentu dengan orang-orang yang saya temui dalam kehidupan saya, untuk menjaga hati saya. Mungkin itu sebabnya saya tidak pernah benar-benar memiliki dan mengerti definisi dari ‘berteman’. Namun BA, yang juga entah disadari atau tidak, telah mendorong saya untuk mengerti tentang arti pertemanan, tentang arti dari membuka diri pada orang lain, tentang arti dari percaya pada orang lain. Dan tentang hal-hal lain yang membuat saya melepas segala pikiran-pikiran tentang ‘jarak aman’ di dalam pertemanan. Karena sebenarnya (seharusnya) di dalam pertemanan kita tidak pernah harus berpikir keras tentang segala sesuatu nantinya kan? Kita hanya menikmati saja kenyamanan akan keberadaan pertemanan kita saat ini.

Selanjutnya rasa terima kasih tentunya saya berikan pada SS. Seorang teman yang membuat saya seperti dipaksa untuk berkaca pada diri saya sendiri. Seseorang yang seakan tidak peduli dengan kehadiran orang lain (dulunya) namun kemudian berubah menjadi orang yang dapat dengan tulus menghargai keberadaan orang lain. Seseorang yang menjadi inspirasi dan insight untuk saya bahwa saya sebenarnya mampu mengalahkan segala ketakutan-ketakutan saya. Dan mungkin kesamaan-kesamaan itu yang membuat dua orang insecure dapat berteman sampai sekarang 🙂

Pada TY yang tidak pernah meninggalkan saya, walaupun semenyebalkan apapun saya. Darinya saya belajar bahwa seorang teman berarti terus berada di sisi temannya dan membantu temannya, walaupun semenyebalkan apapun kondisinya. Saya belajar untuk mengcounter false belief saya dan menyadari bahwa tidak semua orang akan meninggalkan kita. Ya..mungkin kita akan berpisah suatu saat nanti, tapi akan ada orang-orang yang berusaha keras untuk menjaga hubungan baiknya dengan kita.

Dan terakhir, rasa terimakasih saya berikan pada sebuah proses bernama tesis. Mungkin pada akhirnya, itu hanya menjadi beberapa puluh lembar kertas yang dicetak menjadi satu bundel buku coklat. Mungkin pada akhirnya, saya akan lupa apa yang pernah saya tulis disitu. Namun, proses pengerjaannya membuat saya belajar untuk menjadi orang yang tidak terlalu ‘ngoyo‘, menjadi orang yang dapat melihat ke sekeliling. Belajar untuk memaknai dunia bukan hanya sekedar sesuatu yang harus saya taklukkan terus menerus. Belajar bahwa kalah bukanlah berarti akhir dari dunia. Belajar untuk menjadi lebih santai dan melihat kesekeliling, dan menyadari bahwa ada banyak hal-hal yang bisa disyukuri di dunia ini kok.

Terimakasih pada semuanya yang tidak dapat disebutkan satu persatu, karena setiap takdir saya yang bersinggungan dengan orang-orang yang pernah mampir ke kehidupan saya, memberikan saya pelajaran-pelajaran yang walaupun belum dapat saya maknai saat itu, pada akhirnya pelan-pelan memberi banyak perenungan dan pelajaran untuk saya. Terimakasih.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s