Batas Bahagia

http://2.bp.blogspot.com/--6LTtqUZ2iM/UKBsqVwyAJI/AAAAAAAABng/qwCLCzC4rWs/s1600/money-drain.jpg

Siang ini, saya mencoba berandai-andai, apa yang akan saya lakukan sesaat setelah saya lulus kuliah kelak. Saya pun membuat rencana akan pekerjaan impian saya dan bagaimana cara mewujudkannya, bahkan sampai.. berapa uang yang akan saya dapatkan kelak dengan pekerjaan yang saya akan jalankan nanti. Awalnya, saya tersenyum lebar membayangkan berapa ratus juta yang dapat saya hasilkan. Namun, itu hanya terjadi beberapa menit. Lalu saya berpikir ‘terus, buat apa uang sebanyak itu?‘. Uangnya pasti cukup untuk membangun rumah impian saya atau menyekolahkan anak saya di sekolah yang bagus, membeli semua impian saya deh pokoknya, dan bahkan lebih dari cukup. Nah, itu dia, lebih dari cukupnya itu yang ternyata menjadi masalah.

Ternyata.. harta dapat membeli kebahagiaan kita hanya sampai di titik tertentu. Kekurangan akan membuat kita sengsara, tapi kelebihan pun akan membuat nelangsa. Coba saja, kalau hartanya banyak kayak Paman Gober, tetap saja gak akan bahagia, ia terus menerus merasa was-was akan teror dari Mimi Hitam yang akan datang kapan saja. Ia terus-menerus membatasi uang yang ia berikan pada orang lain karena takut jatuh miskin. Nah itu, ternyata sangat kaya pada akhirnya tidak bisa membuat kita bahagia juga. Atau kita sering lihat orang-orang kaya yang terlihat terus menerus bersenang-senang, berpesta, dan menghamburkan uang, namun ternyata hatinya kosong dan selalu merasa ada yang kurang, seperti PJ di 90210. Atau akhirnya menjadi orang yang tidak pernah puas. Ingin sekali sepatu A, sudah beli, pingin lagi sepatu B. Terus menerus begitu, lelah, yang akhirnya tidak juga membuat bahagia. Sebaliknya, kalau kekurangan harta juga gak baik, kita bisa sengsara, karena kebutuhan wajib kita saja belum terpenuhi, bagaimana kita dapat menyokong kebutuhan untuk bahagia? Jadi, sederhananya adalah, kita mesti menentukan sampai batas mana harta dapat membeli kebahagiaan kita, yang terkadang sulit kita kenali.

Lalu saya merenung lagi, dan membayangkan, jika nantinya saya membuka praktek sendiri, ada satu atau dua orang klien yang dapat datang dan berkonsultasi secara gratis. Ternyata, membayangkan hal tersebut membuat rasa senang yang lebih tahan lama. Sampai akhirnya saya terdampar ke satu kesimpulan, bahwa setelah kita menentukan batas harta yang bisa membeli kebahagiaan kita, kita bisa membagi kelebihan yang kita punya pada orang lain, yang dapat membuat ia bahagia juga. Dan secara mengejutkan, kita pun bisa mendapatkan bahagia dari kebahagian yang ia dapatkan. Hmm..mungkin memang benar kata orang kalau kebahagiaan itu menular ya?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s