Panda..

Setiap musim dingin tiba, anak-anak di seluruh belahan dunia akan melakukan kegiatan yang sama. Ya, membuat boneka salju. Dengan mata yang berbinar-binar, mereka membuat 2 buah gundukan besar dari salju putih nan lembut, mereka satukan, dan mereka hias sesuka hati. Yang banyak aku lihat sih, mereka akan ambil 1 buah wortel besar dari dapur untuk membuat hidung Pak Boneka jadi mancung. Mereka lalu mengambil dua buah batu dan ditaruh di atas wortel. Terakhir, mereka akan menekan tangan mereka di sepanjang bagian bawah wortel, dan jadilah senyum paling indah dari boneka putih itu.

Namun, James, temanku, tidak pernah membuat boneka salju seperti kami. Setiap musim salju, ia selalu membuat satu buah boneka salju per harinya, tidak pernah ada yang sama antara satu sama lain. Ada yang badannya kurus sekali, tidak seperti punya kami yang gendut dan enak untuk dipeluk. Ada juga yang kupingnya sangat panjang. Ada yang ia beri ekor panjang sekali, dan sepertinya cukup untuk dililit ke pohon cemara sampai bagian atas. Pokoknya mulut kami selalu menganga setiap kali James berkata ‘udah‘ dan menggosok-gosok kedua tangannya dan mencium boneka salju buatannya. Ritual penanda ia sudah menyelesaikan boneka saljunya.

Kali ini, seperti biasa ia sudah sibuk mengumpulkan salju-salju yang ada. Ia lalu menyatukan dua buah gundukan salju yang ia buat. Hey, ia membuat boneka salju seperti yang biasa kita buat! Aku takjub sekaligus heran padanya, apakah kali ini ia sudah kehabisan ide untuk membuat boneka saljunya yang unik? Eh, tapi sepertinya aku salah. Ia belum selesai. Ia kembali menggulung-gulung salju seperti saat nenekku menggulung-gulung adonan untuk membuat kue Mochi. Ia lalu memasangkan dua gulungan bundar itu ke atas kepala boneka, dua ke samping, dan dua ke bawah. Aha, aku tahu, itu pasti kuping, tangan, dan kakinya.

Aku kira sudah selesai sampai disitu saja. Namun, ia masuk ke dalam rumah, dan kembali dengan membawa mangkuk yang ternyata berisi coklat panas. Ia oleskan coklat itu dengan kuas ke tangan, kaki, dan kuping si boneka. ‘Itu apa?‘, tanyaku penasaran. Aku belum pernah melihatnya sebelumnya. ‘Panda‘ katanya dengan sumringah.
Hah, maksudnya?‘ aku masih melongo mendengarkannya.
Iya ini panda. Papa dan bunda. Bundaku selalu mendengarkan setiap kali aku kesal, memasakkanku makanan enak-enak dengan tangannya, dan mengantar serta menjemputku dari sekolah dengan kakinya. Bunda pernah bilang, kalau sedang rindu padanya, aku ingat-ingat saja kopi, karena warna kulit Bunda yang seperti kopi. Makanya aku buat kuping, tangan, dan kaki Panda ini hitam, seperti kopi, seperti bunda. Papaku selalu menggunakan otakknya untuk mendapat uang, kata bunda. Papa juga yang selalu memeluk dan menaruhku di perutnya setiap kali ia pulang kantor. Jadi aku buat kepala dan perutnya putih, karena ayah putih seperti salju.’, kata James seraya memeluk pandanya.

Aku tersenyum serasa menitikkan air mata. James pasti kangen dengan ayah dan bundanya. Nenek belum cerita kalau ayah dan bundanya tidak akan pernah kembali sejak pesawatnya terguling dan menabrak pegunungan. Tapi James belum tahu, ia hanya kangen.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s