Love is hurt

Itu yang terpampang di DP BBM temenku, dan entah angin dari mana, langsung kubalas ‘But actually it already hurts, when they keep holding and maintaining the exact position like that‘.

And it leads to another thought (as usual). Do we need hurt to keep our love?

Stenberg dalam Teori triangulasi cinta mengatakan kalau komponen dari cinta adalah intimacy (keintiman), passion (nafsu), dan commitment (komitmen). Namun, tidakkah di luar tiga hal tersebut, ada satu komponen lagi yang mengikutinya, yaitu hurt/pain (sakit). Tidakkah di dalam perjalannya, setiap yang mencintai, baik itu berakhir menyakitkan atau bahagia, akan memiliki satu masa ketika salah satu atau kedua belah pihak saling sakit karena cinta? Seyakin-yakinnya kita pada pasangan kita bahwa ‘he/she is the one’, tetap akan ada satu masanya sakit menjadi bumbu (atau menu utama) dalam episodenya. Kita kangen dengan pasangan, tapi LDR-an, rasanya menyakitkan. Kita cemburu, tapi tahu kalau pasangan gak mungkin nyelingkuhin, juga tetap aja tersiksa dengan pikiran-pikiran aneh yang menari di otak.

But in the end, even love offering us pain, we still holding and keep maintaining our love? Why? Because there are a lot of more things (we couldn’t describe yet) as a reward, that make us sacrifice to still commit on this thing, eventhough we know pain definitely following love, isn’t it?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s