Membaca, menulis, dan menerangkan

Ayah saya pernah bilang kalau yang terpenting dari proses belajar adalah membaca, menulis, dan menerangkan. Jika pelajar tidak dapat menguasai ketiga kemampuan tersebut, maka tidak layaklah ia disebut pelajar. Saya tadinya tidak begitu memahami konsep tersebut, karena jika memang ketiga kemampuan tersebut penting, kenapa pada prakteknya, yang diajarkan di bangku sekolah hanya kegiatan seputar membaca dan menulis, namun minim dilatih kemampuan untuk menerangkan? Eh, bahkan menulis pun minim, mungkin tepatnya yang banyak dilatih adalah kemampuan menyalin tulisan. Coba saja diingat-ingat, saat sekolah dulu, sering tidak materi ulangan adalah apa-apa yang sudah tertera di buku paket atau diucapkan dari mulut sang guru? Bahkan ada beberapa guru saya yang kalau jawaban ulangannya tidak sama persis dengan yang ada di buku atau yang ia terangkan, maka jawabannya disalahkan, padahal mah esensinya benar. Nah, jadi apa namanya toh kalau bukan sekedar menyalin kalau bukan begitu? Paling ya..hanya kemampuan membaca yang benar-benar dilatih. Tapi itu juga sering kali setelah membaca, seminggu kemudian sudah lupa apa yang dibaca. Karena..tidak disokong dengan kemampuan untuk menuliskan dan menerangkan apa yang sudah dibaca. Jadi bacaannya menguap dan menyangsang entah dimana, tapi yang jelas, bukan di otak pelajarnya.

Lain halnya saat mahasiswa, mahasiswa dituntut untuk membaca berbagai bahan yang terkait dengan topik yang dibahas. Selain itu juga menuliskan yang ia baca. Disini, tidak sekedar menulis, tapi juga mengkritisi, seperti setuju atau tidak setuju dengan apa yang sudah dibaca, lalu harus mencari bahan bacaan lagi yang mendukung hipotesis tulisannya. Proses membaca dan menulis ini terjadi berulang-ulang sampai siap disajikan di dalam proses menerangkan, yaitu presentasi di depan kelas atau dalam kelompok-kelompok, dan membuktikan apakah orang-orang dapat mengerti apa yang sudah kita bacakan pada mereka. Disinilah saat pertama kali kita dihadapkan pada kenyataan bahwa ada orang-orang yang bisa tidak setuju dengan gagasan yang kita ajukan, dan kita ditantang untuk memiliki kemampuan mempertahankan argumen. Dengan proses membaca, menulis, dan menerangkan yang terintegrasi ini, materi tidak hanya sekedar menguap atau sambil lalu saja, melainkan melekat dan bahkan mungkin menjadi proses yang dinikmati dan dicintai oleh pelajar.

Namun, mengapa proses integrasi ini baru diperkenalkan saat mahasiswa? Bukankah itu sudah sedikit terlambat? Mengapa tidak sejak di bangku sekolah, proses ini ditanamkan, sehingga pelajar pun bisa menikmati proses belajar, dan mengerti esensi dari belajar itu sendiri? Mungkin itu sebabnya kalau kita lihat sidang DPR, proses perdebatannya dipenuhi interupsi yang sangat memusingkan. Seakan mereka tidak belajar cara berdebat yang baik, tapi ya kalau melihat proses di atas, kita memang tidak dibiasakan sejak dini untuk berdebat dengan baik. Tak heran pula, banyak orang dewasa yang masih canggung untuk mengungkapkan pendapat atau mengkronfrontasi ketidaksetujuan mereka akan sesuatu.

Hal tersebut yang membuat saya menciptakan mimpi untuk membangun sekolah, kelak. Sekolah yang dapat membuat setiap anak dapat belajar untuk membaca, menulis, dan menerangkan secara baik. Hal tersebut tentu merupakan tantangan besar. Namun, dua tahun lalu, saya lihat titik cerah akan hal ini. Tepatnya saat saya masih mengajar di sebuah sekolah internasional. Setiap anak sudah diajarkan untuk mengungkapkan pendapat sedini mungkin dan sesederhana mungkin. Seperti saat anak-anak pra sekolah menerangkan mengenai siapa mereka, siapa orang tua mereka, dan apa yang mereka lakukan setiap hari. Lengkap dengan berbagai foto pelengkap cerita mereka, yang saat memasangnya di karton pun masih dibantu oleh orang tuanya. Lengkap dengan celoteh mereka yang masih meloncat-loncat dan terkadang tidak sinkron antara satu kalimat dengan kalimat lain. Lengkap dengan segala kepolosan mereka dalam menerangkan. Lalu, yang menjadi pelengkap dan penutup yang manis dari kegiatan ini adalah, anak-anak lain yang mendengarkan boleh memberi nilai atau memberi pendapat akan presentasi yang dilakukan temannya. Sederhana mungkin topik yang dibawakan, sangat sederhana malah. Namun, proses seperti ini adalah awal dari kegiatan untuk menyampaikan dan mendengarkan pendapat dengan cara baik. Dengan cara ini, anak terlatih sejak dini untuk menyampaikan pendapatnya. Mereka pun terbiasa untuk berpendapat, dan berpendapat pun bukan menjadi momok dan membuat mereka keringat dingin melakukannya, karena itu sudah dilakukan dan dilatih sejak dini. Dan itulah, sekolah yang saya impikan untuk ada, dan terus bertambah keberadaannya. Semoga, tahun-tahun mendatang, semakin banyak sekolah yang mengintegrasikan proses membaca, menulis, dan menerangkan. Ah..semoga :’)

Iklan

2 thoughts on “Membaca, menulis, dan menerangkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s