Kesempatan yang diciptakan

Sejak kecil, saya sudah dijejali konsep bahwa masuk ke universitas negeri, semisal UI atau ITB, merupakan kunci kesuksesan. Disana, mahasiswa dapat bertemu dengan banyak orang (semisal senior yang sudah sukses) yang dapat mengantar ke pekerjaan yang bergensi dan posisi yang menjamin. Namun, 3 tahun setelah saya lulus kuliah, dan bertemu kembali dengan teman-teman S1 yang berasal dari universitas negeri, banyak juga yang masih freelance atau banting setir bekerja yang tidak sesuai dengan bidangnya. Sementara, yang lulusan universitas swasta, ada saja yang sudah sukses dan memiliki karir yang menjanjikan.

Lalu, sebenarnya apa yang terjadi?

Hal tersebut menyadarkan saya bahwa pada akhirnya, yang menentukan kesuksesan itu terjadi bukanlah pada atribut, namun berpulang ke individunya sendiri. Ibaratnya, seseorang yang berdandan dan berpakaian maksimal akan lebih menarik perhatian dibandingkan seseorang dengan seseorang yang bersandal jepit bukan? Namun, sejauh mana ia dapat mempertahankan pesonanya, bergantung pada orang itu sendiri. Sehingga, jika dihubungkan dengan universitas tempat seseorang menempu pendidikan, itu hanya merupakan penyokong, dan bukan penentu kesuksesan.

Lalu apa yang dapat menjadi penentu kesuksesan?

Pola pikir! Kebanyakan dari kita berpikir bahwa kita harus mengejar kesempatan terbaik yang ada. Jika tidak bisa, ya sudahlah banting setir entah jadi apa, sambil terus mengejar pekerjaan impian (gak heran ya banyak orang yang sebal dengan hari senin, hari yang menyodorkan fakta bahwa kita harus kembali bekerja). Jika tidak bisa juga, ya jadi pengangguran, sambil tetap berangan-angan untuk suatu saat nanti dapat berada di posisi yang kita impikan. Tapi, hey! Daripada sekedar menjemput, bagaimana jika kita membuat agar sesuatu itu ada? Ya, kita harus merubah pola pikir, dari yang mengejar kesempatan terbaik yang ada, menjadi menciptakan sendiri kesempatan itu. We create our own opportunity!

Bagaimana caranya?

Dengan membuat orang lain tahu, bahwa kita punya sesuatu yang dijual, kita tunjukkan apa yang kita bisa. Untungnya, jaman sekarang sudah bukan merupakan hal yang tidak mungkin untuk ‘menjual diri’. Dunia maya dapat menyokong kita untuk memamerkan segala kemampuan yang kita bisa. Lihat saja fasilitas blog, twitter, atau Linkedin yang bertebaran, yang bisa kita punguti, masuki, dan hias dengan segala kemampuan yang kita bisa.

Yang kedua adalah inovasi. Kadang saya mendengar teman-teman saya yang terpaksa beralih menerima tawaran untuk bekerja di tempat yang sama sekali tidak sesuai dengan apa yang ia pelajari saat kuliah dulu. Alasannya adalah bidang yang ia pelajari memiliki lapangan kerja yang sedikit.Lah, kalau begitu kenapa tidak diciptakan lapangan kerja sendiri? Dengan membuat inovasi sana sini. Misalnya, dosen saya pernah cerita kalau mindsetnya psikolog anak itu buka klinik anak, padahal mah kalau mau berinovasi banyak sekali pekerjaan yang bisa diciptakan sebagai seorang psikolog anak, seperti menjadi fotografer untuk anak (karena susah loh membuat anak bertahan dan berpose lucu-lucu, dengan trik yang sudah dipelajari sebagai psikolog anak, hal tersebut akan lebih mudah, bukan?).

Jadi, kalau masih ada yang bilang, ‘mau kerja sesuai passion sih, tapi…..’. Aaah.. basi!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s