Raden Saleh, melawan dalam diam

Eksplisit mungkin menjadi sesuatu yang difavoritkan dibandingkan yang implisit. Singkat dan langsung menjawab persoalan, lebih sesuai dengan kepribadian masyarakat masa kini, yang seakan-akan menganggap segala yang cepat adalah tepat. Akibatnya, tergusur dan semakin terpinggirkanlah yang implisit. Hal-hal yang terlihat samar, membutuhkan kontemplasi dan pemikirkan makna yang mendalam untuk mendapatkan arti yang sebenarnya, terlabel menjadi sesuatu yang hanya membuang-buang waktu. Hal yang sebenarnya memiliki makna yang jauh lebih indah jika dapat memecahkan kodenya dibandingkan segala yang sudah tersaji maknanya. Sama halnya dengan melihat kembang api saat pagi hari mungkin akan berkurang maknanya dibandingkan jika kita melihatnya saat langit diwarnai hitam pekat. Saat kekurangan cahaya, kita jadi dapat lebih melihat keindahan. Saat kekurangan informasi di dalam segala hal yang implisit, kita pun dapat menemukan keindahannya, setelah kita dapat menghayatinya. Namun siapa yang memiliki waktu sebanyak itu untuk memecahkan atau menciptakan yang implisit?

Adalah Raden Saleh, yang dapat melakukannya. Merekam jejaknya seperti memungut serpihan-serpihan kode implisit, yang menagih untuk dipecahkan maknanya. Satu lembar kanvas penuh berisi goresan kuasnya dapat memendam beribu makna yang tak ada habisnya untuk diinterpretasi dan tak kalah indahnya dibandingkan beribu lembar bait puisi yang dibukukan. Perlawanan, jika boleh saya simpulkan, adalah tema besar dari segala yang membungkus karya-karyanya. Namun bukanlah perlawanan yang langsung dapat dilihat dengan mata telanjang. Bukanlah perlawanan yang dapat dimaknai secara absolut sebagai agresi. Namun perlawanan secara implisit, yang membuatnya justru lihat menakjubkan dilihat dari segi manapun. Sebut saja simbolisasi hewan, seperti harimau dan singa, yang banyak mewarnai karya-karyanya terlihat merupakan representasi antara kekuatan yang baik dan jahat, antara yang kuat dan yang lemah. Perlu diingat bahwa Raden Saleh hidup selama masa kolonial, ketika rakyat Indonesia diinjak-injak dan dijadikan budak kuasa di negerinya sendiri. Lewat karyanya, Raden Saleh seperti bersuara lantang dan menyentil yang berkuasa untuk melihat daya yang terdapat juga pada rakyat jelata. Seperti juga terlihat pada lukisan ‘Penangkapan pangeran Diponegoro’ yang memperlihatkan kuasa dan wibawa yang dimiliki oleh Pangeran Diponegoro, walaupun ia dalam keadaan kalah dan terhina. Raden Saleh berhasil memperlihatkan ditangkapnya Pangeran Diponegoro bukanlah suatu kekalahan. Lewat tidak adanya senjata di gambar Diponegoro, seolah-olah memperlihatkan penangkapan tersebut terjadi di bulan Ramadhan. Sehingga terlihat bahwa niat sang Pangeran untuk berunding dengan niat baik, membuatnya ditangkap dengan mudah saat perundingan gagal. Diponegoro pun digambarkan sebagai sosok pangeran yang gagah dan tidak mengiba, walaupun dalam keadaan ditangkap, namun digambarkan dalam pose siaga, wajah bergaris keras tampak menahan marah, dan tangan kirinya mengepal tasbih. Hal tersebut memperlihatkan Raden Saleh mengajarkan bahwa perlawanan tidak melulu berarti dengan mengangkat senjata, diam pun dapat menjadi alat untuk melawan. Hal yang juga terlihat jelas saat ia dihina oleh rekan-rekan sejawatnya saat masih sekolah dahulu. Rekan-rekannya membuat lukisan bunga yang sangat mirip dengan aslinya, dan saking miripnya sampai-sampai kumbang dan kupu-kupu pun hinggap di atasnya. Setelah diejek dan dicaci oleh rekan-rekannya, Raden Saleh tidak lantas langsung membuat lukisan tandingan atau balas mengejek. Ia hanya diam dan mengejek. Namun itulah perlawanan ala Raden Saleh. Lama tidak muncul selama berhari-hari, teman-teman Raden Saleh pun cemas akan kondisi Raden Saleh. Mereka pun segera ke rumah Raden Saleh, mendobrak pintunya, dan menemukan ‘mayat Raden Saleh’ yang berlumuran darah di lantai. Dalam kepanikan, munculah sosok Raden Saleh yang penuh dengan ketenangan, mengatakan ‘lukisan kalian hanya mengelabui kumbang dan kupu-kupu, tetapi gambar saya bisa menipu manusia’. Mungkin, jika Raden Saleh sebelumnya terpancing amarah dan membuat lukisan tandingan atau justru membalas dengan cacian, teman-temannya akan semakin mengejeknya. Namun, dengan diam dan mundur perlahan-lahan, ia dapat mengisi amunisi perangnya, dan mengalahkan orang yang mengejeknya dengan cara yang anggun dan telak.

Walaupun Raden Saleh suatu tiada dan tak dapat lagi melawan segala ketidakadilan dalam diam, namun kita yang masih muda dapat melihat pribadinya melalui karya-karyanya. Meneladani kepribadiannya yang tertuang lebih warna-warni dalam ratusan kanvas yang ia torehkan. Satu dari banyak hal yang dapat diteladani kita, anak muda, adalah tidak ada kata menyerah! Karena sekejam-kejamnya dunia pada kita, ada celah untuk bangkit dan melawannya, dan bahkan melawan tidak harus dengan keras maupun kekerasan, melainkan dengan akal dan elegan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s