Ibadah..

Seperti menyusui bayi, berhubungan seks, atau melamar orang yang dicintai, saya percaya, aktivitas keagamaan pun merupakan hal yang pribadi dan sebaiknya tidak diumbar ke khalayak umum. Bukan berarti harus malu saat melakukannya, namun tidak berarti harus dipertontonkan dengan vulgar juga. Karena, senyatanya, beribadah adalah hubungan pribadi antara makhluknya dengan Tuhan. Apakah ketika kita bercengkrama dengan kekasih hati, setelah melalui hari yang penuh kepenatan, perlu dipamerkan ke banyak orang? Bukankah lebih menyenangkan untuk mengobrol berdua dibawah naungan bintang di hamparan rerumputan taman? Berdua saja, dan maknanya akan jauh lebih dalam dibandingkan jika kegiatan itu terlihat berjuta-juta mata, seperti yang sering terlihat di tontonan reality show. Seperti itu jugalah semestinya saat beribadah. Ibadah, sebagai jembatan antara sang Pencipta dengan makhluknya, seharusnya dilakoni dengan penuh kekhusyukan, tanpa perlu melibatkan penonton. Sehingga, saya yang berada di belakang kemudi, memutar otak, mempertanyakan puluhan (atau bahkan ratusan) orang berbaju putih dan bersorban, yang mencegat dan menyuruh saya memutar, dengan dalil mereka ingin beribadah, di jalanan yang biasanya saya lalui. Ibadah macam apa yang modelnya seperti itu?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s