Difabel, diskriminasi / kesetaraan?

Satu tahun terakhir ini, ada pemandangan yang luar biasa di kampus saya. Diantara mahasiswa baru berjaket kuning yang berseliweran di kampus, ada satu dua orang yang mencuri perhatian saya. Satu tahun yang lalu, terlihat seorang perempuan yang duduk di kursi roda dan dikelilingi oleh teman-temannya yang sigap membantunya untuk mobilisasi. Beberapa bulan yang lalu, saya lihat seorang anak laki-laki yang tidak memiliki tangan namun memiliki binar semangat yang tinggi di matanya. Saya pun merasa bangga, bahwa universitas (yang katanya) terbaik di negeri ini, memberikan kesempatan kepada semua orang untuk menjadi civitas academica-nya, tanpa pandang bulu, meskipun ia memiliki kekurangan fisik.

Kekurangan fisik mungkin menjadi momok bagi orang yang mengalaminya. Terkadang, mereka dipandang dengan penuh rasa kasihan atau hina dari orang-orang di sekelilingnya. Terkadang pula, mereka tidak mendapatkan kesempatan yang setara dengan orang-orang pada umumnya, karena dianggap kurang mampu atau hanya merepotkan. Padahal, kalau dipikir-pikir, mereka pun tidak pernah memilih untuk menjadi seperti mereka saat ini. Ada yang sudah dari lahirnya seperti itu, atau yang menjadi seperti itu karena sebab-sebab yang tidak terduga, misalnya karena kecelakaan. Intinya mereka pun tidak dengan sengaja membuat keadaan mereka menjadi sekarang ini. Sehingga kita, orang-orang yang (katanya) ‘normal’, semestinya membantu mereka, setidaknya dengan memberi kesempatan yang setara atau tidak memandang mereka dengan pandangan yang aneh.

Saya senang akhir-akhir ini melihat begitu banyak kesempatan yang terbuka lebar bagi orang-orang dengan keterbatasan fisik ini. Contohnya, ya..seperti yang sudah terjadi di kampus. Di daerah lain, seperti di Solo, ternyata juga mulai digalakkan kesempatan bagi mereka, atau yang disebut juga kaum difabel, untuk dapat bekerja selayaknya orang-orang pada umumnya. Hal ini seperti termuat dalam artikel VOA yang berjudul ‘Perusahaan di Solo Didorong Pekerjakan Kaum Difabel’ (19/09/2012). Semoga saja, hal tersebut dapat menyebar ke daerah-daerah lainnya. Jika dipikir-pikir, merekrut kaum difabel sebagai pegawai, tidak melulu menjadi sebuah kerepotan, namun dapat menjadi sebuah aset yang berharga bagi suatu perusahaan. Hal tersebut dapat terlihat dari reality showMaster Chef’, yang salah satu finalisnya merupakan seorang tuna netra. Matanya yang tidak dapat melihat justru memaksa indra-indra lainnya menjadi lebih peka dibandingkan orang pada umumnya. Hal tersebut yang membuat masakannya lezat dan membawa keuntungan yang dapat mengantarnya menjadi juara. Jadi dapat disimpulkan bahwa kekurangan yang dimiliki kaum difabel pada salah satu atau lebih bagian tubuh, dapat membuat mereka, sadar atau tidak sadar, melatih kepekaan dan sensitivitas pada bagian tubuh lainnya. Sesuatu yang tidak dimiliki orang-orang pada umumnya. Diantara merekapun, ada yang melatih bagian tubuh yang dianggap kurang sehingga dapat setara dengan orang-orang pada umumnya. Ambil contoh, anak baru di kampus saya yang tidak memiliki tangan. Saya bertanya-tanya bagaimana ia dapat mengetik tugas dengan kondisinya yang seperti itu, mengingat ada banyak sekali tugas kampus yang sangat berhubungan dengan tulis menulis. Lalu saya pun diberitahu teman saya, bahwa ia dapat mengetik dengan cepat melalui lengannya yang hanya sebagian. Sungguh luar biasa! Hal tersebut membuat saya melihat mereka dari kaca mata yang berbeda, bahwa mereka memiliki semangat yang luar biasa dan pantang menyerah, untuk dapat setara dengan orang-orang pada umumnya. Nah.. dengan indra yang peka dan semangat yang luar biasa, kenapa kita masih mengasihani dan mendiskriminasi para kaum difabel?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s