Siap atau disiap-siapkan?

Di setiap umur, ada tugas perkembangan yang harus kita penuhi. Misalnya saja, di usia dewasa muda seperti saya, yaitu 20-40, membangun sebuah hubungan menjadi salah satu tugas perkembangannya. Memiliki anak pun menjadi hal yang lumrah dialami oleh teman-teman sebaya saya. Sama dengan tugas perkembangan lainnya, seperti berjalan, berbicara, atau berkomunikasi dengan pasangan, tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua, semua terjadi secara alamiah saja. Walaupun begitu, tidak berarti kita dapat menjadi sesuka hati memutuskan kapan kita akan melakukan tugas perkembangan itu. Sama halnya dengan anak umur 1 bulanyang sudah disuruh untuk berjalan. Apakah ia dapat melakukannya sementara otot-ototnya belum terbentuk dengan sempurna? Jadi, ya, dibutuhkan kesiapan. Tidak semua bayi harus berjalan di waktu yang sama, namun jika terlihat ia sudah siap, kenapa harus ditunda? Sama dengan jika belum siap, kenapa harus dipercepat? Jadi ya, kata kuncinya adalah kesiapan.

Sama halnya dengan menjadi orang tua. Saya suka gemas dengan orang yang jumlah anaknya melebihi kesanggupannya (baik emosi maupun finansial) lalu bilang bahwa ‘ya, sudah dikasihnya begini, mau bagaimana lagi‘. Padahal mah ya kita dikasih akal dan pikiran untuk dapat mengukur seberapa besar dan kapan kesanggupan kita untuk menjadi orang tua, lalu merencanakan bagaimana dan seperti apa ketika menjadi orang tua. Tapi ya, mungkin bukan salah orang tua sepenuhnya, toh masyarakat kita juga mendorong dengan tekanan sosial yang cukup tinggi. Tapi yang paling kasihan dari ini semua adalah anaknya. Bayangkan saja, misalnya, anak yang memiliki orang tua yang bertengkar terus menerus karena mereka belum sempat menyesuaikan sebagai suami istri, tetapi sudah langsung memiliki anak. Atau orang tua yang memukul anaknya kalau anaknya menangis dan merengek, karena tidak tahu bagaimana cara mendiamkan anak mereka. Hal tersebut tidak akan terjadi jika orang tua memang sudah siap menjadi seorang orang tua. Jika pun cara pengasuhannya kurang tepat, mereka akan memiliki tenaga dan kesiapan mental untuk terus mencoba cara yang tepat atau bertanya pada orang lain. Jadi, intinya adalah kesiapan, dan kesiapan tersebut berasal dari diri, bukan orang lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s