Preschool bullying

Tadi waktu mengantar ibu ke RS, sambil menunggu dokternya datang, Hashfi main-main di tempat bermain yang disediakan di RS itu. Tiba-tiba ibu saya mencolek-colek saya dan menunjuk Hashfi. Saat itu terlihat ada seorang anak laki-laki memukul-mukul kepala Hashfi. Langsung saja saya datangi mereka. Saya tanya dan anak tersebut beralasan karena Hashfi tidak mau bermain dengannya dan lebih memilih untuk menonton TV yang ada di ruang bermain tersebut, ia pun memukul Hashfi. Saya yang mau marah, langsung tidak jadi marah, dan menasehatinya untuk lain kali membicarakan keinginannya saja, bukan dengan cara memukul. Ia pun mengangguk-angguk. Ia lebih terlihat tidak mengetahui cara yang sesuai untuk berinteraksi dengan teman sebayanya, dibandingkan ingin menyakiti Hashfi. Waktu lihat keluarganya setelah itu dan bagaimana mereka berinteraksi dengan si anak, saya sih berasumsi ia kesepian. Tidak punya orang lain untuk menjadi teman bermain, sehingga mendamba orang lain untuk menjadi teman bermainnya. Karena ia jarang memiliki orang lain untuk berbagi di keluarganya, ia pun tidak tahu bagaimana berinteraksi dengan orang lain. Tapi itu baru dugaan saya ya. Toh, saya tidak benar-benar tahu. Kalau dugaan saya benar, anak tersebut pantasnya diajari cara yang benar, karena ia menyakiti orang lain akibat ketidaktahuannya, bukannya malah dimarahi. Dimarahi justru membuat ia tambah bingung dan tersakiti, yang justru membuat perilaku agresinya kemungkinan akan bertambah. Bahkan yang terjadi tadi adalah ada pembantu yang mengawasi si anak dari jarak dekat, tetapi ia diam saja saat anak tersebut memukul Hashfi, dan saat saya menghampiri barulah ia berteriak-teriak, dan orang tuanya pun tidak ada usaha untuk menyuruh si anak meminta maaf pada Hashfi. Tapi ya sudahlah. Saat itu saya sudah cukup puas dengan menasehati si anak, entah berguna atau didengarkan juga sama si anak.

Kembali lagi ke Hashfi, saya cukup gemas karena ia tidak melakukan tindakan apapun saat ia di’bully’ anak itu. Padahal sudah saya ajarkan berkali-kali cara untuk self defense (ya memang sudah agak lama sih diajarinnya, mungkin ia lupa). Saya sudah gemas ingin menyalahkannya, ia bilang sih sudah bilang ‘sakit’ tapi anak tersebut masih saja memukulnya, tapi saya tidak mau panjang lebar membahas, yang lebih saya tekankan adalah yang akan terjadi selanjutnya. Saya dulu pernah bilang kalau ada teman yang mau memukulnya, bilang : kamu mau dipukul gak? Kalau gak mau jangan mukul aku juga dong! Aku kan bisa sakit’ (mungkin itu juga yang membuat Hashfi bilang ‘sakit..sakit’). Tapi kalau kejadiannya si anak sudah memukul, maka tidak akan mempan dengan perkataan, jadi harus langsung menyelamatkan diri, misalnya mendorong dia atau menahan tangannya (tapi bukan malah balas memukul berkali-kali ya) untuk tujuan pergi darinya, dan segera cari orang dewasa (misalnya guru) dan langsung laporkan apa yang sudah dialami.

Saya memang kasihan dengan pembully yang melakukan agresivitas karena ia tidak tahu cara yang sesuai untuk berinteraksi dengan anak lain. Toh memang sebagian besar pembully bukan menjadi pembully karena naturenya, tapi ada yang karena keluarganya bermasalah, pergaulannya, atau menonton tontonan TV yang bertema agresif secara berlebihan. Tapi bukan berarti hal tersebut lalu menjadi pembenaran akan tindakan mereka, ,karena kasihan juga anak yang menjadi korban bullying. Mungkin terlihat sederhana contoh di atas, tapi ini dilakukan saat anak berada di SD awal, bayangkan kalau terus menerus kejadian ini dialami sampai dewasa nanti. Tidak hanya luka secara fisik, tapi kepercayaan diri dan bagaimana ia menilai dirinya pun dapat terpengaruh. Sebagai orang dewasa, kita bisa melakukan berbagai hal, misalnya seperti yang saya lakukan di atas, mempersiapkan anak cara-cara yang dapat dilakukan jika ia berhadapan dengan pelaku bullying, dan juga peka serta mendengarkan secara aktif cerita anak saat ia di sekolah atau saat bersama dengan temannya. Agar anak tidak menjadi pembully pun ada banyak cara yang dapat dilakukan, seperti mengajarkan cara yang tepat saat meminta sesuatu, tidak menguatkan perilaku anak yang agresif, dll.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s