Cerita dibalik selembar kertas

Sebagai seorang mahasiswa yang harus menangani 10 kasus sebagai prasyarat kelulusan, merupakan hal yang lumrah untuk saya mengkonsumsi beratus-ratus lembar kertas untuk membuat laporan kasus (dan belum lagi revisinya). Untuk mengurangi rasa bersalah atas pemborosan kertas yang saya lakukan (dan juga mengurangi beban akademis, tentunya) sebisa mungkin saya membuat laporan sebaik mungkin agar tidak berkali-kali revisi, dan juga menyerahkan dalam format bolak-balik. Cukup ribet dan memakan yang lebih lama memang, saat saya harus bersusah payah mengeprint secara bolak-balik. Namun, hal tersebut terbayar saat saya ujian kasus, dan melihat kumpulan kasus hanya setengahnya dari kumpulan kasus teman-teman saya yang lain. Terbersit di benak saya, bahwa setidaknya saya berkontribusi untuk mengurangi penebangan pohon secara cuma-cuma.

Tidak cukup untuk sekedar mengurangi, tetapi seharusnya kita sebagai manusia, harus memimalkan sampah yang ada. Hal tersebut membuat saya tergerak untuk mengumpulkan kertas-kertas sisa atau bekas pakai dan menyumbangkannya ke Kedai daur ulang Pak Salam, yang rumahnya pun sangat dekat dengan rumah saya.

Saya yakin, ada banyak orang yang kontribusinya jauh lebih besar dari saya untuk mengurangi pemakaian kertas, yang secara tidak langsung mengurangi penebangan pohon. Namun, sayangnya, ada lebih banyak lagi orang-orang yang membuang-buang kertas dengan percuma. Contohnya saja dalam kasus kertas bolak-balik, mungkin banyak orang yang tahu hal tersebut berdampak dengan semakin sedikitnya pohon-pohon yang tersisa, namun mereka tidak memikirkan dampak jangka panjang dari defisit pohon-pohon yang akan kita alami dari gaya hidup mereka.

Hal yang cukup mengganggu adalah saat melihat orang-orang menawarkan selebaran iklan. Kalau menawarkan secara langsung sih, dapat ditolak secara langsung. Namun, terkadang caranya lebih agresif dari itu. Kertas selebaran sudah terpampang saja di kaca spion mobil saat kita parkir tanpa persetujuan yang empunya. Atau si sales berdiri di dekat tempat mengambil karcis parkir di mall. Saat kita ingin mengambil karcis, sales sudah mengambilkan lengkap dengan diselipkannya kertas selebaran yang mereka bawa. Hasilnya sebagian besar dari yang menerima kertas selebaran mungkin hanya melihat sekilas saja, lalu dibuang. Hasilnya kan jadi pembuang-buangan kertas secara sangat percuma.

Pemborosan kertas juga bisa dilihat dari pilkada akhir-akhir ini. Penduduk Jakarta dimanjakan dengan berbagai poster, baliho, dan alat kampanye cetak lainnya di sepanjang dinding atau jalan yang dilewati. Namun, saat masa kampanye berakhir, tak jarang kertas-kertas tersebut terhanyut di sungai atau tersangkut di got. Sudah memboroskan kertas, membuang sampah sembarang pula 😦

Itu baru dari segi kertas, belum lagi dari pembuatan perabotan, alih lahan, dan lain-lain. Seakan ada begitu banyak alasan yang dikemukakan manusia untuk menelanjangi pohon, rumah bagi para makhluk-makhluk hutan yang tidak berdosa. Alasan yang sebenarnya bisa dirangkum dalam dua kata : keegoisan manusia.

Lalu adakah yang bisa kita lakukan? Tnetu saja ada. Saya terkagum-kagum dengan cerita dari teman saya yang berasal dari Jepang. Katanya, ia tidak perlu khawatir untuk menulis berbagi macam pesan penting atau tulisan di buku catatannya, karena ketika buku catatan tersebut sudah tidak bisa ditulis lagi. Ia tinggal datang ke pabrik pembuatnya, dan dalam beberapa hari, ia akan mendapat buku catatan baru secara gratis, yang sebenarnya berasal dari daur ulang buku catatanya sebelumnya. Sehingga ia pun hanya perlu membayar satu buku catatan untuk seumur hidupnya! Secanggih itu teknologi yang sudah dimiliki Jepang. Kita, di Indonesia mungkin memang belum mampu menyaingi, atau paling tidak menyamakan, tetapi setidaknya hal tersebut membuat kita optimis bahwa teknologi dapat membuat kita menurunkan konsumsi akan pohon. Teknologi yang juga cukup menarik adalah yang terdapat di dalam artikel terbitan VOA berjudul Tes DNA Pohon Kurangi Penebangan Hutan Liar. Dikatakan bahwa pohon juga memiliki DNA seperti manusia, dan dengan sebuah alat dapat membantu kita untuk mengenali segala produksi pohon dari toko-toko yang ada berasal dari pohon yang mana (legal atau illegal), sehingga dapat mencegah pengiriman pohon yang melangggar hukum. Hal tersebut setidaknya mencerahkan saya. Bahwa walaupun ada begitu banyak orang yang berusaha untuk merusak lingkungan, namun ada begitu banyak pula orang-orang pintar yang dengan segala daya dan upayanya membuat alat untuk melestarikan lingkungan.

Dan kita, sebagai orang awam, walaupun kita mungkin tidak (atau belum) dapat menciptakan teknologi yang canggih, tetap ada begitu banyak hal yang dapat kita lakukan untuk melestarikan lingkungan kita. Semisal, mengeprint kertas bolak-balik. Ya, sesederhana itu 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s