‘Cukup’

Saat kita mendamba sesuatu, dengan rasa ingin yang begitu dahsyat, pernahkah terlintas di pikiran, bahwa jika keinginan tersebut terwujud maka kebahagiaan kita akan lengkap? Yang membuat kita berujar, bahwa tidak akan ada lagi pinta yang terucap karena kita sudah menjadi manusia seutuhnya dengan kadar kebahagiaan yang sewajarnya? Namun, saat semua sudah didapat, kita akan tenggelam dalam euforia sesaat, dan selanjutnya, kita akan mendamba hal lain, bahkan mungkin dengan kadar yang lebih besar dari keinginan sebelumnya. Mungkin, itulah mengapa Tuhan tidak terus-menerus memenangkan pinta kita setiap hari. Diberikannya kita sesekali kesengsaraan, agar kita memahami kata bersyukur dan cukup.

Namun, barangkali, rakyat negeri ini terlalu sering memenangkan lotere kehidupan, sampai-sampai kata ‘cukup’ menjadi hal yang langka untuk dipertontonkan sehari-hari. Kata cukup yang (mungkin) terdengar sederhana dan sangat mudah untuk diucapkan, namun dikombinasi dengan watak manusia yang tidak pernah cukup puas, membuat ‘cukup’ pun sulit untuk diaplikasikan.

Rasa cukup yang jarang sekali dimunculkan pada akhirnya menjadi tumpul. Yang terwujud dalam hal-hal tidak biasa, yang lama-lama menjadi terbiasa, seperti kekenyangan, masuk rumah sakit, kelelahan, atau poligami. Bahkan rasa cukup yang tumpul tersebut dapat berubah menjadi dibawah nol atau minus, saat bahkan kita yang sudah diatas cukup, masih merasa kurang, dan mengambil hak-hak orang lain, yang bahkan sudah sangat kekurangan.

Jadi, masih adakah yang dapat menakar kadar cukup dengan tepat? Atau paling tidak, mendekati tepat?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s