Terkadang..

Salah satu dari cerpen saya (atau bisakah ini disebut cerpen?) yang belum selesai.

**

Ia tadinya hanya sebaris nama di dalam kontak telepon genggam, sepercik ingatan yang hilang timbul, dan seseorang yang hanya dilabel sebagai ‘kenalan’ di dalam kotak-kotak memori otak kecilku.

Tidak ada yang istimewa darinya, baik perawakan, namanya, maupun kepribadiannya. Namun, secara konsisten jemarinya dapat merekam berbagai peristiwa, kejadian, dan wajah dengan apik, bahkan lebih bagus dari semestinya. Aku pun terpana setiap kali melihat setiap jepretannya. Ia memanah hatiku tanpa ia sadari.

Ia merasuk dalam mimpi-mimpi dan hari-hariku, tanpa ada yang mengundangnya masuk. Lalu entah sejak kapan, kami pun selalu bersama dengan arti kebersamaan yang tidak pasti. Terkadang, dalam waktu yang tidak terduga, ia dapat mengumbar segala rasa rindu dan cinta yang ia rasa. Yang sayangnya, diselingi dengan kelakar dan segala emoticon, yang mengambigukan makna ucapannya, pada akhirnya. Terkadang, kami juga saling menceritakan berbagai gebetan kami dengan antusias, dan dibalas oleh salah satu di antara kami dengan lebih getol untuk menjadi mak comblangnya. Terkadang, kami bisa saling memuji satu sama lain dengan sangat-sangat kagum, namun di waktu lain bisa saling memarahi jika salah satu dari kami melakukan kebodohan. Terkadang, bisa saja dia langsung naik pitam saat saya bercanda akrab dengan pria lain, dan terkadang aku pun bisa mendiamkannya berapa hari jika ia mengantar perempuan lain pulang dan membiarkan saya menyetir sendiri.

Terkadang, aku berpikir bahwa hubungan ini merupakan hubungan terbaik yang dapat kami bangun. Ia masih belum ingin terikat karena masih ingin mengejar karir, sedangkan aku.. masih belum bisa berkomitmen sejak pembatalan pernikahanku setahun yang lalu. Jadi, untuk dua makhluk yang sama-sama menghindar dari komitmen, hubungan ‘memantau dari pinggir’ seperti ini merupakan hal yang tidak buruk. Terkadang kami sedikit merasakan airnya, terkadang kami hanya duduk-duduk saja di pinggir kolam. Berusaha keras agar jangan sampai kami benar-benar menyelam ke dalam kolam biru, yang masih misterius itu, entah menyenangkan atau justru menyakitkan.

Namun, tidakkah kamu pikir ini sebenarnya lebih buruk dari cinta bertepuk sebelah tangan? Setidaknya kalau kamu bertepuk sebelah tangan, kamu tahu ia suka atau tidak. Sedangkan ini? Permainan macam apa ini? Kami terkadang saling mengumbar dan menyembunyikan perasaan masing-masing, tanpa ada yang tahu kapan, mengapa, dan bagaimana. Yang akhirnya justru membingungkan bagi masing-masing di antara kami.

Lalu haruskah kita berpisah jalan, sayang?

Jika lalu aku tidak mau bermain jet cooster lagi denganmu? Aku tidak sanggup untuk penasaran terus menerus, menanti entah kapan aku akan naik dan kapan aku akan dihempaskan ke bawah dengan cepat. Mungkin dulu, saat pertama, jet coaster terlihat menantang dan menyenangkan. Namun tidak lagi sekarang, sekarang aku hanya ingin berada di komedi putar, dengan pangeran berkuda putih yang memboncengku. Will you?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s