Jilbab

Jilbab tidak wajib dikenakan oleh muslimah! Pernyataan yang cukup mengagetkan itu pertama kali saya dengar dari Ulil. Namun hari ini saya kembali mendengar pernyataan serupa dari seorang ulama  favorit saya, Quraish Shihab. Lalu saya kembali bertanya, apakah benar seperti itu? Pertanyaan yang sebenarnya pernah saya tanyakan dahulu kala, tentang apakah jilbab sebenarnya hanyalah pakaian khas orang Arab di jaman dulunya, yang harus menutupi diri dari tidak bersahabatnya cuaca di gurun dan juga sebagai penanda identitas umat Islam yang saat itu sedang rawannya peperangan, atau benar-benar merupakan ajaran agama. Saya tidak tahu mana yang benar, namun satu hal yang cukup mengganggu saya adalah cara orang-orang yang mengaku beragama Islam dalam menanggapi perbedaan pendapat ini.

**

Waktu itu, saya mulai masuk SMA. Saya cukup sebal dengan peraturan sekolah saya yang menyuruh setiap siswinya untuk mengenakan jilbab, setiap harinya. Akhirnya, kami pun sering kali menanggalkan jilbab, di jam-jam istirahat, olahraga, atau di tengah pelajaran. Lalu setelah itu saya mulai berteman dengan sekelompok teman, teman saya berpacaran dengan teman satu geng, putus, lalu mulailah perpecahan di geng kami. Saya juga berpacaran dengan teman satu geng, putus, dan semakin bubar jalanlah itu geng. Dari situ, saya menyadari bahwa dalam pertemanan pun tidak ada yang abadi, lalu saya mulai mempertanyakan berbagai hal, termasuk berjilbab (sesuai lah ya sama tugas perkembangan yang dibilang bapak Erickson). Proses kontemplasi, refleksi diri, dan bertanya pada diri sendiri itu terjadi selama 1 tahun, sampai akhirnya saya mantap mengenakan jilbab sekitar 8 tahun yang lalu. Tidak ada proses atau peristiwa yang luar biasa mengenai moment pertama kali mengenakan jilbab, seperti mungkin yang ada di buku-buku inspirasi memakai jilbab. Saya hanya merasa jilbab adalah pilihan yang tepat untuk saya, kala itu. Lalu waktu berjalan, dan ada kalanya saya sebal dan ingin menanggalkan jilbab. Toh, sebenarnya saya memakai jilbab/tidak bukanlah perkara yang besar. Keluarga saya tidak menuntut saya untuk memakai jilbab, sehingga jika pun saya menanggalkan jilbab, maka bukanlah suatu perkara untuk mereka. Tetapi perenungan kembali, membuat saya tetap bertahan untuk memakai jilbab, sampai sekarang. Mungkin sama seperti saat kamu cinta sama pacar/suami kamu. Kamu cinta, ya karena cinta saja. Tidak ada alasan khusus yang benar-benar kuat untuk itu. Yang walaupun di tengah jalan ada perdebatan kecil atau pun kebencian, toh pada akhirnya tetap bertahan dalam komitmen yang sudah diucapkan. Yang mungkin kalau dalam pengalaman spiritual disebut banyak orang dengan hidayah.

Jadi, saya pun tidak berani dan tidak pernah berniat untuk menyuruh teman-teman saya untuk berjilbab. Saya percaya, memakai jilbab adalah suatu proses personal, yang orang lain dapat mempengaruhi namun tidak menentukan atau memaksa kapan tepatnya orang lain harus berjilbab. Jika misalnya dipaksa untuk berjilbab, lalu di tengah jalan kita ingin mencopot jilbab, siapa motivator terbesar untuk istiqomah, kecuali diri kita sendiri? Sesuai dengan prinsip saya when everything going so hard and you wanna give up, maybe you need to remember why you start it, lalu pengalaman pertama mana yang harus kita ingat, kalau kita pun dipaksa untuk mengerjakannya?

Lalu kembali lagi mengenai Quraish Shihab dan pendapatnya tentang jilbab, banyak orang yang sama kagetnya dengan pernyataan beliau, dan menyatakan ketidaksetujuannya. Dan itu merupakan hal yang wajar. Namun yang akhirnya mengganggu adalah orang-orang yang tidak setuju, lalu mengatai beliau dengan sebutan kafir, ke neraka saja, menyuruh anaknya untuk memakai jilbab dengan kata-kata kasar, dan bahkan dengan tata bahasa yang sepertinya berasal dari purba (yang rasanya tidak pantas untuk saya kutip). Yang menjadi kebingungan saya adalah, dari mana orang-orang ini tahu bahwa pendapat mereka adalah yang paling benar sampai berani-berani untuk mengatai saudara seagamanya dengan kalimat yang tidak pantas (bahkan Rasulullah yang membawa wahyu yang benar saya tidak pernah berkata kasar pada orang-orang yang tidak menyetujui perkataannya). Dan bukankah dalam setiap bertingkah laku kita mengucapkan ‘Bismillahirrahmanirrahim‘ yang berarti ‘Dengan nama Allah yang Maha pengasih lagi maha penyayang‘, dan kalau kita tidak pengasih dan penyayang dalam bertingkah laku dan bertutur kata, tidakkah kita malu dengan diri kita sendiri? Yang menyuruh orang lain untuk berjilbab, namun kita pun tidak mengamalkan prinsip dasar di dalam Islam, yang tertuang dalam kalimat sesederhana ‘Bismillahirrahmanirrahim

Iklan

One thought on “Jilbab

  1. “Wahai Nabi (s.a.w.)
    katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anakmu,
    dan wanita-wantia kaum muslim agar mereka
    mengulurkan jilbanya keseluruh tubuh
    mereka, yang demikian itu supaya mereka
    lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka
    tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha
    Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 33;59)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s