Psikologi di era digital

Sebagai calon psikolog, cukup gemas rasanya saat banyak orang salah kaprah mengenai profesi yang satu ini. Banyak faktor memang yang menyebabkan hal tersebut, seperti masih barunya ilmu ini masuk ke Indonesia. Salah satu salah kaprah yang paling fatal adalah menyamakan pergi ke psikolog berarti mengakui bahwa seseorang ‘gila’. Malu akan stigma tersebut merupakan alasan terbesar minimnya orang-orang yang pergi ke psikolog.

Mungkin ada yang berpikir bahwa tidak ada untungnya pergi ke psikolog. Kalau sakit fisik, dan pergi ke dokter, maka akan jelas pasien akan sembuh dengan obat yang diberikan ke dokter. Kalau dibiarkan, maka penyakit akan bertambah parah. Nah, kalau ke psikolog? Cuman diajak ngobrol-ngobrol saja, tanpa obat, lalu apa untungnya? Padahal, mungkin tidak disadari, kesehatan mental yang terganggu juga bisa menyebabkan seseorang meninggal. Misalnya, seseorang yang terus menerus diejek oleh teman-temannya, maka akan merasa malu dengan dirinya, dan akhirnya bisa berpikir untuk bunuh diri. Psikolog dapat membantu anak tersebut untuk meningkatkan keberhargaan dan kepercayaan dirinya. Dalam level yang lebih dini, anak yang terus menerus mendapat nilai di bawah rata-rata kelasnya, dan karena dianggap malas maka akan terus ditekan oleh orang tua untuk belajar. Padahal, bisa saja hasil inteligensinya memang di bawah rata-rata, dan psikolog dapat membantu mengenali hal tersebut dengan melakukan tes IQ. Sehingga sebenarnya banyak aspek yang memerlukan bantuan psikologi, dan bukan sekedar membantu ‘orang gila’.

Tantangannya tidak berhenti sampai disitu saja. Orang-orang yang datang ke psikolog ada yang tidak sepenuhnya mengerti mengapa mereka harus ke psikolog dan apa tugas psikolog tersebut. Misalnya untuk orang tua yang membawa anaknya ke psikolog atas rujukan dari sekolah. Mereka mengira psikolog sama dengan guru les yang dapat membantu anak mereka lebih ‘pintar’. Ada juga yang mengeluh mengenai prosedur dan penyelesaian yang tidak instant untuk menangani anak mereka.

Bagaimana caranya untuk menghilangkan salah kaprah ini? Bisa datang dari dua sisi. Para sarjana psikologi atau psikolognya yang gencar mengedukasi masyarakat atau masyarakatnya itu sendiri yang mencari tahu. Karena saya termasuk calon psikolog, maka sudah menjadi kewajiban moral saya untuk menyebarkan informasi yang benar mengenai psikologi dan segala tanggung jawabanya. Salah satunya, dan yang paling sederhana, adalah melalui social media. Saat ini, kita tahu, banyak aplikasi social media yang mudah digunakan, gratis, dan dapat menjangkau orang banyak, sehingga kenapa juga tidak digunakan untuk menyebarkan informasi yang dapat berguna bagi orang banyak? Misalnya, saya beberapa kali mengulas mengenai salah kaprah tentang psikologi di blog (seperti yang ada dalam tulisan serba-serbi tes psikologi dan over expectation) dan juga mengenai kesalahan persepsi mengenai anak-anak berkebutuhan khusus (story about them, mengapa harus akselerasi, dan slow learners).

Saya lihat juga banyak teman-teman sejawat yang menuliskan pengalaman dan pernyataan mereka mengenai salah kaprah di psikologi melalui social media yang mereka miliki. Selain personal, ada juga pages-pages serta website yang membahas psikologi dengan gaya yang populer, sehingga orang awam pun dapat mencerna ranah ini dengan sangat mudah, seperti psychology today dan ruang psikologi. Semoga saja, dengan semakin canggih dan dimanjakannya kita dengan kecanggihan teknologi yang ada, semakin banyak hal bermanfaat yang dapat kita ciptakan di sekitar kita. Salah satunya adalah menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa kesehatan mental itu penting, dan pergi ke psikolog adalah salah satu solusinya. Sekian.

NGAWUR Pusat Teknologi Blogger Nusantara

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s