Esensi

Hari besar, sekarang kehilangan makna, dan hanya menjadi sekedar nama. Kegembiraan yang dirasakan semuanya disamaratakan, asalkan hari itu ditandai dengan warna merah mencolok, tanpa memahami lagi esensinya. Hari besar bukan lagi sebagai sarana memaknai arti di balik simbolnya, , melainkan hanya sekedar penanda kebebasan dari segala rutinitas yang menjemukan. Bahkan, jika ia jatuh di hari yang sudah merah, ia berubah makna menjadi negatif. Double merah bukan berarti kesenangan. Justru kekecewaan dan penyesalan, mengapa ia tidak jatuh di hari berwarna hitam, agar ia dapat mencipratinya sehari lagi, agar kita bebas satu hari lagi?

Dan ini menjalar dan tergeneralisasi ke hal-hal lain, seperti ritual, yang juga hanya menjadi atribut dan simbol, tanpa sebuah makna. Tidakkah kita merindukan esensi, kalau sudah begitu?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s