Untuk siapa?

Saya suka gemas kalau dengar cerita orang tua dan guru mengenai sistem sekolah di Indonesia yang sangat ‘aneh’. Terlebih kalau lihat sendiri bagaimana anak-anak itu harus bertahan di sebuah tempat yang menuntut mereka untuk menampilkan sesuatu yang jauh di atas kapasitas mereka, setiap harinya. Tidak heran, banyak anak-anak sekarang yang ‘membenci’ sekolah mereka.

Saya sedih, sebal, marah, atau apalah namanya, saat mendapati kurikukum di sekolah adik saya yang luar biasa beratnya untuk anak kelas 1 SD. Saya bandingkan saat saya SD, jauh lebih berat yang dia alami saat ini, bahkan dibandingkan dengan yang saya dapakan di kelas 6 SD. Saya tidak tahu apa yang sekolah-sekolah itu harapkan dengan mendrilling anak-anak didik mereka dengan beban yang cukup beratnya.

Saya pernah bertanya ke guru sejarah di SMA saya, mengapa saya harus mempelajari Ken Arok, kerajaan Sriwijaya, dan teman-temannya lagi di bangku SMA, topik yang sudah saya pelajari di bangku SD dan SMP, dengan tidak adanya pengulangan cerita atau pun metode pengajaran yang signifikan. Guru saya hanya berkata ‘memang begitu kurikulumnya’. Sebal waktu itu saat saya mendengar jawabannya. Tapi sekarang saya justru merasa kasihan. Bahkan guru-guru pun tidak tahu tujuan dari mengajar, lalu apa yang sebenarnya ditransfer ke para murid, jika si pentransfer pun tidak tahu jawabannya. Sekali lagi, tidak heran anak sekolah jaman sekarang membenci sekolah mereka. Tidak tahu tujuannya bersekolah apa, wong gurunya sendiri tidak tahu tujuannya mengajar itu apa. Kenapa pula waktu saya SD saya harus diajarkan materi yang akhirnya juga diajarkan saat saya SMP dan SMA. Lebih baik waktu SD dihabiskan untuk mempelajari sesuatu yang lebih age-appropriate kan. Daripada ketika SD dijejali sesuatu yang berat, lalu diulang ketika SMP dan SMA. Dan saat diulang pun hasilnya tidak lebih baik, mungkin karena lelah atau pun bosan.

Waktu saya bersekolah dulu, materi pelajaran anak di Indonesia saja sudah tergolong jauh lebih sulit dibandingkan di negara-negara lain. Apalagi untuk saat ini? Rasanya yang bisa bertahan di sekolah umum adalah anak dengan IQ high average ke atas. Suda didrill di sekolah dengan materi sebegitu padat, sulit (namun useless)nya, ditambah lagi dengan dopping berupa les disana-sini. Itu pun tak jarang anak-anak tersebut masih mengalami kesulitan di sekolah (yang sebenarnya bisa disebabkan karena mereka bosan dan lelah juga). Saya jadi semakin sedih saat membayangan, lalu dimana tempat untuk anak-anak berIQ average atau bahkan intellectual disabilities? Lalu apa sih tujuannya memberikan materi yang kian hari kian berat untuk anak-anak ini? Tidak ada yang diuntungkan dalam hal ini.

Coba lihat contoh berikut, Sani adalah seorang anak kelas 1 SD yang sekolah di sekolah swasta ternama. Mau tahu seperti apa materi yang diajarkan? Coba kita lihat, untuk pelajaran IPS, ia mempelajari tentang cuaca dan musim, dan bukan hanya sekedar tahu musim hujan dan kemarau, namun ia bahkan harus mempelajari berbagai bentuk perubahan bulan (sabit, dll). Metode pengajarannya pun kebanyakan ceramah, dan sangat minim praktek. Tibalah pekan ulangan, orang tua membantu Sani dengan belajar dengan cara mengumpulkan semua soal-soal yang pernah dikerjakan Sani, menghapusnya, meminta Sani untuk mengerjakan kembali, dan memeriksanya. Bayangkan saja, Sani, anak kelas 1 SD, harus mengerjakan semua soal untuk 2 mata pelajaran (setiap harinya ada 2 ulangan), dalam satu hari. Akankan ia lelah? Dan saat lelah, ia disebut pemalas. Ia pun akhirnya menangis saat waktu menunjukkan pukul 9. Karena apa? Karena ia memiliki ekspektasi atas dirinya, tapi ia tidak dapat memenuhinya. Ia belum selesai mengerjakan semua soal padahal jam susah menunjukkan waktunya tidur. Jika ini yang terus menerus terjadi, apakah dia tidak akhirnya menjadi kecewa terus menerus, dan menolak untuk mengerjakan tugas? Belum lagi ia yang terus menerus dilabel pemalas. Terkadang yang terjadi, orang tua juga mendukung sistem ini dengan menambah beban anak, misalnya dengan ekspektasi, beban les berlebih.

Lalu sekali lagi, siapa yang diuntungkan dari lingkaran setan ini?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s