Psychologist are (still) human

Waktu saya mau membuat pelatihan komunikasi efektif bagi orang tua. Ada yang berkomentar ‘Ah..komunikasi lo sama orang tua lo aja belum bener, udah mau bikin pelatihan kayak gitu. Ngomong doang!‘ Lalu saya berpikir. Ya, memang saya tidak memiliki keluarga yang sempurna. Lalu..apakah kalau begitu saya sama sekali tidak boleh membuat pelatihan untuk orang tua menjadi orang tua yang lebih baik? Atau lebih jauh lagi, apakah saya tidak pantas untuk menjadi psikolog anak?

Mari kita beranalogi tentang dokter. Jika seorang dokter memiliki penyakit diabetes, yang dialami akibat genetis, apakah lalu berarti ia tidak boleh menjadi dokter untuk menyembuhkan diabetes? Saya akan menjawab ‘kenapa tidak?’. Toh dia memiliki ilmu dan ia memiliki kemampuan untuk menyembuhkan. Jika sudah memiliki keduanya, apalagi disertai kemauan, sudah pasti ia boleh untuk menyembuhkan orang dengan penyakit diabetes. Jika ia tidak, justru ia mendzolimi dirinya dan orang lain, dengan tidak memanfaatkan ilmu yang ia punya.

Lalu jika, katakanlah, anak yang terlihat dengan orang tua yang melakukan penyiksaan terhadap anak, baik secara fisik maupun emosional. Atau anak yang ditinggal oleh ayahnya bertahun-tahun. Jika nantinya saat ia besar ia ingin menjadi psikolog anak, apakah tidak boleh? Dengan alasan ia memiliki hubungan yang tidak baik dengan orang tuanya? Merujuk dengan kasus dokter di atas, tentunya sangat tidak adil untuk tidak memberikan kesempatan anak tersebut menjadi psikolog, jika memang dia mampu.

To sum up, terkadang ada hal-hal yang tidak bisa kita rubah dan sudah terberi seperti itu. Lalu, apakah berarti keadaan terberi itu harus menghalangi cita-cita dan membatasi kemampuan yang kita punya? Lain halnya, dengan seorang shopaholic yang berbicara tentang penghematan misalnya. You got my point, huh?

Mungkin, praduga dan kata-kata sinis seperti kalimat di awal bisa muncul karena sebagian orang lupa. Psikolog, atau orang lain yang bekerja di bidang pengabdian masyarakat, itu juga manusia. Sama dengan manusia pada umumnya, bisa stress dan memiliki masalah. Namun, ketika ia dapat memisahkan antara urusan pribadi dan urusan pekerjaan, mengapa ia tidak boleh bekerja? Mungkin sebagian orang perlu diingatkan pula, bahwa psikolog itu bukan menyelesaikan masalah orang lain, tetapi membantu untuk menyelesaikan masalah. Selesai atau tidaknya masalah, itu berpulang kepada orang tersebut, dan bukan psikolog.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s