Sedekah

20120123-112544.jpg

image taken from here

Pernah tidak kita menawar mati-matian ke pedagang kaki lima atau ITC, lalu ditolak, tetapi tidak sampai 1 menit, memanggil kita kembali dan menyepakati harga yang kita tawarkan? Apa yang kita rasakan saat itu? Apakah perasaan senang karena merasa berbakat menawar? Tapi apakah Anda pernah tersadar dengan muka masam si pedagang atau keluhan bahwa untung yang mereka dapat sangat sedikit? Tidak tanggung-tanggung, setelah dengan sadisnya menawar dengan harga sangat rendah, kita pun suka minta bonus karena sudah membeli banyak.

Saya juga orang yang suka menawar dengan sadis saat berbelanja. Sampai seseorang mengingatkan saya, tentang betapa kecilnya untung yang mereka dapat. Belum lagi tenaga dan waktu yang harus mereka keluarkan bisa tidak sepadan dengan untung yang mereka raih. Ingatan itu membawa saya ke ingatan lain mengenai satu adegan sinetron, dimana ada seorang pengemis yang terus memilih menjadi pengemis karena berpikir muka melasnya dapat mengantarnya memiliki penghasilan lebih dari seorang pegawai kantoran. Coba bayangkan jika semua orang berpikir sama dengan pengemis ini. Tidak heran jika semakin banyak kita lihat para peminta-peminta di jalanan. Toh lebih mudah dan menguntungkan menengadahkan tabgan dibandingkan bekerja panas-panasan atau berlelah-lelah berdagang tetapi ditawar dengan harga miring.

Itulah yang membuat saya cukup jengah, sebenarnya, untuk memberikan uang kepada para peminta-peminta atau pengamen bergaya preman. Saya berpikir, daripada tidak ikhlas, lebih baik saya cukup tersenyum dan menggelengkan kepala. Setelah itu, terserah mereka mau bereaksi apa, memaki atau bersungut-sungut. Saya juga tidak peduli. Toh, saya tidak memiliki tanggung jawab untuk kesejahteraan hidupnya. Mereka lah yang harus bertanggung jawab pada diri mereka sendiri. Tugas kita, mungkin, membantu untuk memberdayakan mereka untuk menemukan skillnya.

Itu pula yang membuat saya berpikir seribu kali sebelum menawar saat berbelanja. Kalau memang harganya masuk akal, saya tidak begitu ngoyo menawar dengan harga sangat rendah. Walaupun terkadang masih sering kelepasan sih.

Kata ‘sedekah’ yang selama ini ada di pikiran saya pun teredefinisi menjadi ‘memberikan sesuatu pada seseorang untuk membangun atau menguatkan’. Sehingga jika saya memberikan uang untuk pengemis dan hanya membuat mereka bertambah malas, tentu itu bukan sedekah. Sebaliknya, tidak menawar terlalu tinggi saat berbelanja sudah menjadi satu bentuk sedekah. Karena itu berarti membantu memperkuat ekonomi mereka. Sedekah pun bukan berarti harus dalam bentuk uang/barang. Mentransfer ilmu pengetahuan jelas salah satu bentuk sedekah non material.

Nah, apa definisi sedekah menurut Anda?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s