Surat untuk langit

20120114-234250.jpg

image taken from here

Waktu itu saya pernah membuat saya cerpen, dan diterbitkan disini

Itu pengalaman pertama saya membuat cerpen yang diterbitkan jadi buku, dijual pula. Tidak berapa lama dari dipublish, ada komentar yang masuk kalau dia suka dengan tulisan saya. Sebenarnya saya cukup malu dan tidak percaya karena buatnya buru-buru, jadi ya..tidak percaya kalau bagus. Semoga nanti saya dapat membuat cerpen/novel/buku lainnya yaaa 🙂

Oh ya, berikut ini cerpennya. Kalau ada yang mau baca 🙂

**

Dear kamu,

Tempat ini tidak asing, mirip sekali dengan kampung halamanku, yang sering aku ceritakan dulu. Udara yang segar, pemandangan yang indah. Kamu pasti suka! Aku jadi berpikir, bagaimana jadinya jika kita memutuskan tinggal disini? Kita tinggalkan hari-hari kita yang dipenuhi tumpukan kertas dan reminder meeting sana-sini. Tempat dimana kita bisa sesuka hati pergi tanpa perlu berdebat lagi mengenai Blackberry ‘si selingkuhan’ kita. Aku dan kamu hanya menikmati hidup. Kamu memetik mangga, dan aku menunggu dibawah pohon yang rindang dengan ulekan sambal rujak super pedas kesukaanmu. Oh ya, aku jadi ingin menantang kamu yang selalu sesumbar bahwa kamu jago ngegym, apa kamu juga sekuat itu untuk menimba air di sumur ini? Hihi.. Disini juga pastilah tempat yang sangat menyenangkan untuk anak kita belajar bersepeda. Ia bisa leluasa mengayuh kencang sepedanya, dan biarlah ia sesekali terjatuh. Agar ia tahu, hidup tidak selamanya menyenangkan..

Ah..kalau bicara anak-anak, aku selalu ingat mukamu yang selalu cemberut setiap kali waktu kita tersita membicarakan mereka. Kamu yang berkata bahwa bisa memahami aku yang selalu membicarakan makhluk kecil yang lucu-lucu itu, tetapi tidak bisa mentolerir setiap menit yang kita habiskan bersama hanya untuk mendengarkan kisah mereka. Ah..ya.. aku selalu lupa berbicara kita setiap kali kita bersama. Maafkan aku, sayang.

Kali ini, aku kembali harus bercerita tentang mereka. Aku yakin, kamu pun tidak akan bisa cemburu kali ini. Keindahan tempat dan khayalanku tentang kita tadi langsung runtuh dalam sekejap. Sekejap seperti bangunan–bangunan ini yang runtuh seketika dalam hitungan detik. Senyum yang terpancar saat pertama kali aku menginjakkan Yogyakarta, lama kelamaan memudar, selangkah demi selangkah saat kakiku menapaki Bantul. Bayangkan saja, hanya 20 detik untuk memutar tawa menjadi tangis! Aku yakin, dulunya itu pasti rumah. Tapi, sekarang hanya serpihan debu, yang perlahan dihembuskan oleh angin ke segala penjuru. Sontak, hatiku mencolos. Aku tahan diriku. Tetapi air mataku langsung tumpah, melihat mereka didepanku. Ya..bocah-bocah itu didepanku. Kamu tahu.. Ah..tidak. Rasanya aku tidak sanggup menulis lebih jauh. Fisik dan batinku lelah! Terhisap entah oleh kekuatan maha dahsyat apa. Yang pasti, aku ingin kamu tahu, bahwa aku baik-baik saja disini. Kamu jaga diri baik-baik juga disana ya.

*****

Dear kamu,

Pagi! Hari ini bumi rasanya punya telepati dengan aku. Hatiku yang tenang sejalan dengan ibu bumi yang tidak lagi bergoyang sejak 2 hari yang lalu. Syukurlah. Aku tidak tahan melihat mereka ketakutan dan kembali menangis.

Mudah-mudahan aku kuat menulisnya, seperti halnya aku kuat mendorong mereka tersenyum, walaupun di dalam hati aku menangis bersama mereka. Huff.. Kamu tahu, ada banyak sekali anak-anak disini. Aku bersyukur jika aku melihat anak-anak ini bersama ibu, ayah, ataupun orang dewasa yang mereka kenal. Meskipun mereka kekurangan, aku tahu.. mereka memiliki orang yang setidaknya bisa memeluk mereka dengan kehangatan. Walaupun mereka tidak bisa disuapi dengan bubur hangat, tetapi setidaknya aku tahu mereka dihujani dengan beribu suapan kata-kata penuh ketenangan dan perlindungan. Hatiku terisak saat melihat anak-anak yang entah dimana ayah dan ibunya. Mereka bahkan tidak mengerti bahwa ayah dan ibunya mungkin sudah dipanggil yang Maha Kuasa. Aku lihat berbagai anak. Yang membuat aku sedih adalah ketika mereka berkata “Aku benci gempa! Aku benci Tuhan yang menciptakan gempa!”. Entah mereka tahu darimana. Saat itu lidah ini kelu. Tidak ada kata yang dapat keluar. Hampa. Kosong. Dadaku sesak. Aku tidak dapat berkata apa-apa, tidak dapat berbuat apa-apa. Tolong aku Tuhan. Tolong aku.. Kamu tahu.? Rasanya.. sakit.

*****

Dear kamu,

Walaupun aku bilang aku baik-baik saja, tetapi raut wajahku pasti tidak dapat berdusta. Kamu ingat kan, waktu aku berkata anak-anak adalah detektif paling ulung. Haha.. Mereka sepertinya punya indra keenam yang mengatakan bahwa aku sedih. Saat akhirnya aku memutuskan bahwa aku tidak boleh terbawa perasaan. Aku tiup balon dan aku buang jauh-jauh kesedihan bersama balon itu. Jauh-jauh.. sampai nanti akhirnya kempes sendiri dan kesedihan itu menguap di udara. Haha.. kamu pasti akan sebal kalau tahu aku masih melakukan hal aneh itu ya? Tapi kamu tahu? Saat anak-anak itu melihatku melakukan ‘perbuatan konyol’ itu, mereka semua berbondong-bondong ingin melakukan hal yang sama. Untung aku masih punya 5 plastik penuh isi balon. Aku beri mereka satu-satu dengan syarat harus benar-benar melepaskan kesedihan itu bersama balon. Hasilnya? Nih..lihat foto yang aku lampirkan bersama suratku. Mereka sangat gembira ya? Senyum paling tulus yang aku lihat sejak aku pertama mendarat di Jogja.

Saat itu serasa ada air es yang mengguyur kepalaku. Dingin! Rasanya aku lebih tenang dan plong. Sejak saat itu, mereka pun lebih mudah untuk kudekati. Ah..mudah-mudahan memang keberadaanku memberi manfaat untuk mereka ya. Hari ini semoga menjadi tonggak awal kegembiraan ya. Sudah banyak bantuan juga berdatangan. Anak-anak sangat senang melihat bungkusan demi bungkusan baru yang mereka lihat. Walaupun itu bukan untuk mereka. Hihi..sayang tidak sempat kufoto.

*****

Dear kamu,

Huff..rasanya capai sekali. Hari-hariku saat ini dipenuhi dengan bermain bersama mereka. Kami berjalan-jalan dan berlari-lari sampai capai. Kami kumpulkan bulir-bulir padi banyak sekali. Aku tidak punya ide lain, apa gunanya itu, selain itu menggelitik hidung orang lain. Tetapi tahu apa yang mereka lakukan? Mereka membakarnya dan memakannya. Hmm…lezaaat. Seperti nasi bakar! Hebat kan mereka? Bisa mencari hiburan di tengah kesederhanaan.

Aku pun tidak mau kalah (hehe.. ya bahkan pada anak kecil, sifat kompetitifku pun muncul). Puing-puing dari bekas bangunan rumah kami kumpulkan. Lalu kami adakan kompetisi. Siapa yang bisa menyusun puing-puing paling tinggi tanpa terjatuh, maka ia pemenangnya. Haha..seru sekali sata itu. Ramai-ramai anak-anak menyoraki dan memberi semangat teman-temannya yang bertanding. Padahal yang menang hanya aku beri hadiah puzzle bergambar binatang, tapi mereka senangnya bukan main.

Ada hari dimana aku begitu kelimpungan melihat sejumlah anak yang menangis dan bertingkah tidak karuan saat awan putih perlahan-lahan tergeser, dan sangat petir pun mengeluarkan suaranya yang membahana. Belum lagi lampu yang dialiri listrik, yang jumlahnya terbatas, tiba-tiba padam. Orang dewasa saja panik, apalagi anak-anak kecil. Tiba-tiba di suatu malam, terlintas ide di kepalaku. Tanganku pun bergerak-gerak di depan tembok. Suaraku menirukan suara kelinci. Dan jadilah tanganku menari-nari didepan bayangan hitam beserta latar belakang suaraku (yang mungkin tidak merdu menurutmu). Pertujukkan drama bayangan ‘Kura-kura dan Kelinci’ berhasil! Anak-anak tidak jadi menangis dan malah tertawa terbahak-bahak saat melihat kelinci yang terbangun dan langsung melesat jauh, ingin mencapai garis finish.

Haha.. kamu pasti bangga denganku. Aku sudah tidak lagi panik seperti dulu kan? Aku sudah bisa mengatasi situasi chaos ini, tanpa kamu harus menenangkanku terus menerus. Aku senang sekali saat ada ibu-ibu yang tidak aku kenal, memelukku tiba-tiba dan mengatakan terimakasih padaku atas anaknya. Anaknya tidak pernah tertawa lagi sejak peristiwa gempa itu, sampai ia mendengar dramaku. Ah.. betapa kangennya aku mendengar suaramu..

***

Dear kamu,

Hari ini kami lihat pelangi. Mereka tertawa. Entah mengapa. Aku lihat kamu disana. Aku tahu kamu disana. Kamu jaga aku kan? Entah kapan, kamu jemput aku. Aku tahu ini belum saatnya. Tapi nanti kita akan bersama-sama. Tuhan mungkin ingin aku disini dulu untuk membantu anak-anak ini terus tersenyum. Aku lihat kamu di mereka. Kamu baik-baik ya disana sampai kita bertemu nanti.

**

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s