serba-serbi tes psikologi

Dev, jadi psikolog itu bebannya seumur hidup. Kalau dokter salah kasih obat, efeknya langsung kelihatan. Kalau kita salah kasih diagnosis, saran, atau gambaran kepribadian anak, itu ga keliatan tapi akan kebawa-bawa seumur hidup. Nanti kalau orang tuanya lagi marahin anaknya, dia akan bawa-bawa hasil dari kamu ‘tuh kan, kamu emang gak bisa kayak gini nih, kata psikolognya’. Itu jadi label anaknya seumur hidup! Jadi harus bener-bener hati-hati, bener gak anaknya seperti itu.

-mbak RP, salah satu supervisor saya

 

Kalimatnya tidak persis seperti itu, pasti. Tetapi esensi seperti itu yang tertangkap oleh saya. Sejak itu, saya mati-matian berkutat  memastikan bahwa apa yang saya tulis atau saya berikan benar-benar bisa saya pertanggungjawabkan. Tak jarang, pagi hari saya masih berpikir dan berpikir, bahwa tidak ada yang lewat dari observasi dan wawancara yang saya lakukan.Bahkan, tak jarang saya memimpikan beberapa klien saya. Mungkin, saking takutnya saya memberikan diagnosa. Ketakutan yang akhirnya mendorong saya untuk push that limit.

 

Lalu saya bertemu dengan realita. Saat saya kunjungan sekolah, institusi, atau kunjungan rumah, misalnya. Saya cukup terperangah  dengan banyaknya lembaga psikologi ‘abal-abalan’. Saat saya tunjukkan beberapa hasil tes lembaga tersebut ke supervisor saya pun, mereka hanya bisa geleng-geleng. Saya cukup miris sebenarnya melihat mereka yang seakan-akan seenaknya menentukan nasib seseorang tanpa mempunyai kompetensi. Nah, agar terhindar dari misdiagnosis, berikut saya akan berbagi beberapa tips bagi yang ingin melakukan tes psikologi. (Tes psikologi disini merujuk pada tes inteligensi ya) :

– Lihat gelar pemeriksanya. Jika bukan M.Psi (atau kalau yang sudah agak lama, mungkin ada yang gelarnya M.Si, atau dari luar negeri bisa Psy.D), maka coba cek lagi. Jika yang melakukan tes itu fisioterapis atau bahkan orang dengan latar belakang bukan psikologi. Sebaiknya jangan. Jangan juga mau dites oleh orang dengan gelar S.Psi, karena itu berarti sarjana psikologi, dan belum berhak melakukan pengetesan. Jika seseorang dengan gelar S.Psi (seperti saya), biasanya harus ada supervisornya yang sudah merupakan psikolog, jika tidak maka jangan melakukan pengetasan pada orang tersebut.

– Jangan mau di tes secara instan. Tidak ada tes psikologi yang dapat dilakukan secara instan. Misalnya, hanya 20 menit. Tes psikologi biasanya dilaksanakan kurang lebih 2-3 jam. Malah ada lembaga yang butuh beberapa kali pertemuan untuk tes. Biasanya untuk melihat gambaran anak secara utuh (baik inteligensi maupun kepribadiannya).

– Biasakan untuk menanyakan tes yang diberikan, setidaknya gambaran umum saja, karena saat ini ada beberapa lembaga yang hanya mengetes motorik anak saja, namun sudah dapat mendeskripsikan bahasa, emosi, dan kognisi anak. Biasanya motorik anak memang dapat diasses oleh fisioterapis, tetapi mereka tidak berhak untuk mengeluarkan hasil mengenai emosi, bahasa, atau kognisi anak. Tes inteligensi yang diberikan oleh psikolog biasanya meliputi tanya jawab dan manipulasi objek.

– Tes inteligensi sebaiknya dilaksanakan secara individu, karena bisa dapat terlihat observasi anak (cara kerja, daya tahan, dll) dibandingkan dengan klasikal. Akan tetapi tidak apa-apa juga jika ingin tes inteligensi secara klasikal (yang biasanya dilaksanakan oleh sekolah).

Sekian dulu tipsnya ya. Nanti akan saya tambahkan lagi jika teringat yang lain. Adios.

Iklan

5 thoughts on “serba-serbi tes psikologi

  1. Ternyata, tanggung jawab psikolog itu begitu besar. bukan sekedar nasehat doang, karena nasehat psikolog itu bisa mempengaruhi jalan hidup seseorang ya….
    btw, terus berkarya demi kemajuan indonesia, apapun dan dimanapun bekerjanya.

    salam cinta indonesia.

  2. yup pengalaman tes psikologi minat dan bakat di sekolah yang lamanya minta ampun dan butuh tidak hanya sekali pertemuan
    sangat menguras pikiran dan konsentrasi

  3. Terimakasih atas komentarnya semuanya. Iya, masih banyak mispersepsi tentang psikolog di Indonesia..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s