Survival of the fittest

Menangis..

adalah cara seorang bayi untuk beradaptasi masuk ke dunia yang dingin dan luas, setelah sekian lama diselimuti kehangatan.

 

Sejak awal, kita sudah dikarunia Tuhan untuk memiliki kemampuan beradaptasi. Instant, tanpa ada yang mengajari. Semakin lama, pengalaman mempertajam kemampuan adaptasi kita. Anak kecil tidak mungkin lagi menggunakan tangisan sebagai caranya untuk bertahan hidup. Sangsi sosial, seperti cemooh, akan mengikuti jika ia terus menerus menangis. Semakin hari, ia semakin belajar untuk mengembangkan cara adaptasi yang lebih baik. Entah dengan berbicara, entah dengan memukul, entah apa pun yang ia kira paling baik untuk mempertahankan hidupnya. Survival of the fittest-nya Charles Darwin yang dulu saya pelajari di pelajaran Biologi dan saya kira tidak akan saya temui lagi selepas lulus sekolah, ternyata mencerminkan apa yang manusia alami di setiap fase kehidupannya.

 

Kemampuan adaptasi yang baik membuat kita melampaui tugas perkembangan dengan baik di setiap tahapan umurnya. Tugas perkembangan ini memiliki batasan tertentu, yang sangat tight. Dan untuk berhasil di tugas perkembangan yang satu, maka seseorang harus berhasil untuk menjalani tugas perkembangan di tahapan sebelumnya.

 

Di usia dewasa muda ini, di setiap orang rasanya sudah mantap berlari, atau setidaknya berjalan, menjalani tugas perkembangannya, saya tiba tiba terhenti. Berhenti berlari, berjalan, atau bahkan mungkin mundur. I feel left behind right now. Trully I am. Do I too stupid to still fear and not ready to making a big leap?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s