(?)

Menarik untuk menilik fenomena beragama di Indonesia. Salah satu contohnya adalah mengenai film (?). Salah satu yang menarik, menurut saya, adalah pernyataan dari seorang teman bahwa film (?) lebih mengarah pada pluralisme dan bukan toleransi beragama. Saya jadi tergelitik untuk bertanya, apa itu pluralisme? Dan pertanyaan selanjutnya, jikalau memang yang tersaji di dalam film (?) memang pluralisme, lalu..kenapa? Toh, sutradaranya pun tidak pernah mengklaim bahwa ini merupakan film rohani. Jadi, kenapa harus mengklasifikasi film ke dalam ranah agama?

Mari sejenak kita renungkan kembali Pancasila. ‘Ketuhanan yang Maha Esa’. Terpapar jelas di dalam sila paling pertama. Kenapa negara menggunakan kata ‘Tuhan’ dan bukan ‘Allah’ misalnya? Karena Tuhan adalah milik semua agama, dan penting untuk membuat sebutan yang netral ketika kita hidup dalam negara yang memiliki beragam agama, yang menghormati setiap pemeluk agama apapun, bahkan yang minoritas sekalipun.

Mengacu pada dasar negara dan menyadari bahwa memang kita hidup dengan pluralisme, lalu mengapa jika memang film (?) menyuguhkan pluralisme untuk kita? Toh, itulah realita yang memang kita alami. Kita memang bangsa plural dari segala segi, termasuk agama. Kalau memang di film tersebut terpapar berbagai realita yang tidak mengenakkan bagi satu atau beberapa agama, sekali lagi, toh memang itulah fakta yang memang ada di sekeliling kita, bahkan mungkin dialami oleh beberapa diantara kita. Walaupun memang fakta yang dipilih adalah beberapa fakta ekstrim yang ada. Dan terkadang pemaparan yang ekstrim memang dapat menimbulkan kejengahan. Tetapi jika dipikir lebih dalam, apakah mungkin film ini terjadi jika tidak ada fenomena tersebut di sekitar sang pembuat film? Atau memang imajinasi sang sutradara saja yang terlalu liar untuk mengada-adakan fakta seperti yang terlihat dalam film?

Terlepas dari pluralism ataupun toleransi, setidaknya satu pesan, yang saya tangkap, ingin disampaikan adalah ketika setiap orang tidak mengkotak-kotakkan dan menganggap agamanya paling benar dengan cara ekstrim, disitulah letak toleransi sesungguhnya.  Bagaimana menurut Anda?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s