Cinta itu Bukan Makanan Kaleng

 ‘Nenek moyangku seorang pelaut. Gemar mengarung laut samudra…

Tadinya saya menyukai lagu nenek moyangku karena merupakan salah satu lagu kanak-kanak yang berirama riang. Beranjak dewasa, saya menghayati lagu tersebut lebih karena kakek saya benar-benar seorang pelaut, seperti Popeye the Sailorman (walaupun tanpa bayam). He is the real sailor! Ia mengarungi lautan, tak terhingga jumlahnya, demi negara. Dimulai sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu, kakek saya yang baru beranjak remaja, melihat selebaran di depan gedung bioskop. Selebaran pendaftaran staf di kapal milik negara (saya lupa apa persisnya), yang pada akhirnya memutar sauh takdirnya. Ia terdaftar menjadi staf di kapal, dan cerita selanjutnya adalah tentang berbagai negara yang sudah ia kunjungi. Tentang perjuangannya di berbagai negara asing yang memiliki budaya yang berbeda dengan negara asalnya. Tentang pengalaman seru yang harus dibayar dengan kehilangan peristiwa-peristiwa penting menyangkut istri dan anaknya. Tentang semua hal yang terangkum dengan binar semangat yang terucap dari mulutnya.

Sekarang ia sudah pensiun. Ia sudah tidak pernah pergi lagi ke luar negeri, bahkan pergi ke Jakarta pun sangat jarang. Tanpa embel-embel pelaut, hanya kakek saya, ia menikmati hidupnya dengan sederhana. Setiap bulan mengambil uang hasil pensiun, yang ditukar dengan membeli keperluan sehari-hari dengan nenek, dan begitu seterusnya. Hidup yang ringan tanpa ada beban. Sesekali ia mendatangi perayaan atau temu kangen bersama teman-temannya. Terkesan membosankan, tapi toh yang penting adalah rasa yang diresapi olehnya.

Ia adalah seorang ayah, dan terutama suami, yang luar biasa. Dulu kala pernah ia ditawari untuk tinggal di Belanda, tetapi mengingat nenek yang rematik, ia pun menolak tawaran tersebut. Sekarang, jika ia sedang di rumah saya dan makan di restoran, matanya akan berbinar karena teringat dengan nenek, dan merasa bersalah pada nenek saya yang tidak dapat memakan makanan enak sepertinya. Jika ia sudah berminggu-minggu di Jakarta, ia pun akan kembali menceritakan kepada saya kerinduannya pada nenek. Kangen layaknya ABG yang di mabuk asmara. Cintanya pada nenek saya tak lekang di makan waktu. Bahkan perjalanan 50 tahun pernikahan mereka, yang jatuh di hari ini pun tidak sanggup mengikis habis rasa cinta diantara mereka berdua. Ada banyak pemicu yang dapat membuat mereka bertengkar, terutama jarak jauh di sepanjang awal pernikahan mereka, tetapi saya tidak pernah melihat mereka bertengkar, malah mereka terlihat begitu mendukung satu sama lain. 50 tahun, bukan waktu yang sebentar untuk dapat menjaga semua itu. Tetapi mereka dapat! Mereka adalah satu bukti otentik yang menyadarkan saya, bahwa cinta itu bukan makanan kaleng, yang punya tanggal kadaluarsa. Cinta mereka stabil, bukan stagnan, apalagi fluktuatif. Ya, mereka yang mengajarkan saya untuk pelan-pelan belajar dan tidak takut untuk mencintai. Happy 50th wedding anniversary, dear Eyang Kung dan Eyang Uti.

Iklan

3 thoughts on “Cinta itu Bukan Makanan Kaleng

  1. Cinta tuh kaya Batang Tebu kalau digigit 5menit manis tapi kalau udah 10menit kagak ada rasa’a
    tapi kalau kita pandai mengolah tebu yang sudah tidak manis maka jauh lebih bermanfaat dibanding gula

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s