Tuhan mana yang dibela?

Dev, jilbabnya panjangin dikit dong. Kalau gitu kan lebih cantik

 

Terus terang, saya cukup terganggu dengan pernyataan seseorang (yang bahkan bukan teman dekat saya) diatas. Siapa dia sampai-sampai merasa pantas untuk ‘menceramahi’ saya atas apa yang seharusnya dan tidak seharusnya saya lakukan. Sebenarnya, banyak pula orang-orang disekitar saya yang seperti itu, mengomentari ini itu tentang tata cara beragama, tetapi ketika ditanya tentang hakikatnya, seakan saya harus diam-diam merunduk, dan menerima pasrah ‘itu ketentuan Tuhan’.

Saya tidak puas, dan tidak cukup terpuaskan, dengan hanya jawaban bahwa itu adalah rahasia yang Maha Kuasa. Saya tahu otak kita hanya sekecil biji zarah (bahkan mungkin lebih kecil lagi) dibandingkan dengan segala kuasa yang dimiliki oleh Tuhan. Tetapi bahkan dengan kemampuan yang super duper mikro itu, kita sebagai manusia, diwajibkan untuk terus menuntut ilmu. Dari semenjak lahir pun, kita sudah dikarunia rasa ingin tahu. Untuk apa? Ya, jelas sebagai alat untuk meraup segala ilmu pengetahuan yang ada. Mempertanyakan dan mengkonfirmasi segala keraguan yang ada, untuk meyakini bahwa yang hakiki adalah Ia. Lalu kalau segala rasa ingin tahu saya tidak diajak untuk mengembara, dan dihentikan secara paksa, dengan kalimat ‘Itu rahasia Tuhan’ dan harus terima-terima saja apa yang menjadi ketentuannya, apakah itu benar? Rasanya, Tuhan tidak akan memberikan kita akal budi, kecerdasan, dan hati nurani kalau memang itu yang harus kita lakukan.

Sekarang kalau memang toh pada akhirnya kita harus menerima saja ketentuan Ilahi, jangan lupa bahwa ada yang namanya habluminallah (hubungan dengan Tuhan) dan habluminannas (hubungan dengan manusia). Kenapa selalu yang didengungkan adalah habluminallah? Bukan berarti itu salah, tetapi bukan berarti pembenaran juga atas terlupanya habluminannas. Coba ambil contoh, meminta ‘sumbangan pembangunan di masjid’ dari satu bis ke bis yang lain. Kalau memang tidak ke kantong pribadi dan benar-benar untuk pembangunan masjid, tapi sebenarnya untuk apa?? Terlalu banyak masjid di Indonesia. Dari rumah saya saja, saat satu masjid adzan, tidak berapa lama, ada adzan dari masjid lain, dan masjid lain lagi, yang menandakan jarak antar masjid cukup dekat. Lalu sehari-hari, siapa yang menggunakan masjid itu? Hanya segelintir orang, sisanya sibuk beraktivitas, dan kalaupun sholat, sholatnya di dekat tempat kerja mereka masing-masing. Kalaupun memang dipersiapkan untuk hari besar, seperti sholat Id, toh sholat di lapangan dengan alas koran pun bisa. Jadi, sekarang dimana urgensinya untuk membangun masjid lagi? Tuhan itu memudahkan, dan Ia tidak menyukai segala yang berlebihan-lebihan dan mubazir. Dan tidakkah kita sama-sama melihat lebih dalam, terlalu banyak orang yang menderita karena kelaparan, putus sekolah karena tidak dapat membayar uang sekolah, tidaklah itu lebih baik dibantu, dibanding membangun masjid demi masjid yang tidak jelas tujuannya?

Saya sedih, gemas tepatnya, melihat orang-orang yang saling bertengkar membela keyakinannya. Tapi sebenarnya Tuhan mana yang dibela? Tuhan sudah cukup, bahkan sangat kuat, untuk tidak dibela. Jelas tertulis bahwa yang wajib kita lakukan adalah membangun baik dengan sesama manusia. Tetapi apa yang kita lakukan? Mengesampingkan habluminannas dengan dalil habluminallah. Tetapi..sekali lagi, Tuhan mana yang dibela?

Iklan

4 thoughts on “Tuhan mana yang dibela?

  1. Saya sedih membaca tulisan saudara… Apakah karena kebegoan dan kekurangan atas ilmu yang saya miliki.
    saudara muslim dan saya juga muslim, memang tugas kitalah yang seharusnya memakmurkan masjid. Bukan mereka, mereka dan sekali lagi mereka. Ketika masjid saudara kering kerontang maka di mana anda berada? Kok menyalahkan orang lain yang rela mengeluarkan uang mereka, mereka bergotong royong membangun yang bisa jadi dengan swadaya, alias kerja bakti. Mereka rela menumpahkan pikiran, bagaimana caranya mempunyai masjid. E…setelah punya orang seperti saudara malah mencelanya. Mau kemana umat Islam ini dibawa. 😐
    Ketika anda bilang Allah tak patut di bela kata saudara? Pelajari lagi deh agama anda. Banyak kok dengan googling.
    Sedihnya….
    Wassalam.
    (nb. Maaf kalau kasar bahasa saya, hati saya terobek2 oleh tulisan anda)

  2. Terimakasih atas komentar Anda, tetapi sepertinya Anda harus membaca lebih detail tulisan dan konteksnya. Jika memang kita hidup di jaman Rasullah, yang untuk mencapai masjid saja jaraknya berkilo-kilo meter, mungkin tulisan ini tidak tepat untuk ditulis. Tetapi saat ini, faktanya, masjid bertaburan dimana dan tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Saya pun sudah menyatakan diatas bahwa ‘terlalu banyak masjid di Indonesia’, sehingga mengapa tidak jika uangnya disalurkan untuk kebajikan dengan cara yang lain. Saya tidak menyalahkan orang-orang yang sudah membangun masjid, tetapi lebih mempertanyakan urgensi orang-orang yang ingin membangun masjid baru..

    ketika saya menyatakan Tuhan tidak perlu dibela, itupun merujuk pada konteks saat saya membuat tulisan, yaitu saat ada warga Ahmadiyah yang dibunuh. Apakah harus membela Tuhan sampai membunuh orang lain?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s