Masih bilang tidak untuk ‘sex education’?

“Dek.. tadi pagi kamu nonton apa tadi pagi?”

“Tadi pagi aku hidupin Cartoon Network, langsung ada Barbie. Tapi ada laki-lakinya sih”, kata Hashfi sambil malu-malu.

“Gak apa-apa dek, kalau mau nonton Barbie. Anak perempuan nonton Transformer juga gak apa-apa. Yang gak boleh itu kalau kamu ngikutin bajunya dan rambutnya Barbie, tapi kalau kamu nonton gak apa-apa”.

Itulah percakapan saya dan adik saya (Hashfi, 4 tahun) tadi sore. Sederhana, tetapi di dalamnya tercakup pendidikan seks (sex education) didalamnya. Mungkin banyak orang yang langsung mengasosiasikan sex education hanya sekedar video porno dan alat genital. Hal ini yang membuat banyak orangtua takut dengan kata ‘sex education‘ yang masuk ke dalam kurikulum sekolah anaknya walaupun ada kata ‘education’ setelah ‘sex’. Sex education sendiri tidak sesempit menonton bersama video porno agar anak-anak menjadi ‘mahir’ dalam seks. Bukan, itu pengertian salah, yang (sayangnya) ditelan bulat-bulat oleh banyak orang.

Sex education ini bertujuan membuat seseorang aware terhadap jenis kelaminnya (sex). Ada banyak kegiatan dan percakapan sederhana yang sebenarnya mengarah pada sex education, mungkin tanpa disadari. Sedari kecil, saat tahu bayi yang dilahirkan memiliki jenis kelamin pria, lebih banyak diberi hadiah dengan nuansa biru. Sedangkan jika bayi yang dilahirkan perempuan, maka lebih banyak hadiahnya didominasi warna merah jambu. Kegiatan tersebut sudah merupakan salah satu wujud sex education. Membuat anak, yang masih bayi, aware bahwa ia memiliki salah satu jenis kelamin, yang berbeda dengan jenis kelamin lainnya. Saat toilet training, anak perempuan dan anak laki-laki pun diajari dengan cara yang berbeda. Misalnya : anak perempuan diajari berjongkok sedangkan laki-laki berdiri. Berajak dewasa, perempuan diajari tentang menstuasi, sedangkan laki-laki mimpi basah. Semua itu diajari secara alamiah, tanpa menyadari bahwa hal tersebut adalah salah satu bagian dari sex education.

Lalu apakah berarti tidak perlu lagi adanya tambahan sex education?

Perlu, karena kegiatan yang sudah dijabarkan di atas adalah hal-hal yang mendasar dan masih banyak perlu lagi yang perlu diketahui anak. Misalnya, orangtua, terutama di Indonesia, tidak pernah secara gamblang menjelaskan mengenai alat genital, dan malah memberikan istilah pengganti seperti ‘burung’. Padahal hal tersebut justru membuat anak bingung di masa dewasa. Ia menjadi malu atau justru penasaran dengan istilah ‘penis’ dan ‘vagina’. Sehingga penting, untuk orangtua memberi tahu anak tentang ‘penis’ dan ‘vagina’, dengan nada seperti saat menjelaskan organ tubuh yang lain, seperti mata, jantung, tangan, dll. Sehingga anak akan menganggap istilah tersebut sebagai suatu hal yang tidak biasa, dan membuat ia justru mencari di situs-situs yang mengarah pada situs porno, misalnya.

Salah satu pertanyaan yang mungkin membuat orangtua ketar-ketir adalah, ‘Gimana sih caranya bayi dibuat?’. Terkadang, orangtua yang panik malah mengatakan ‘nanti kalau besar juga kamu tahu’ atau mengalihkan anak ke topik lain dengan harapan agar anak lupa. Sayangnya, mereka tidak lupa. Langkah yang baik adalah ya..dengan sex education, yaitu memberi tahu anak jawaban pertanyaannya, sesuai dengan umur dan level kognitifnya. Saat menjelaskan, hendaknya dengan nada yang biasa saja, dan bukan takut-takut atau cemas, karena anak pasti menyadari kepanikan orangtuanya. Salah ingat salah satu tips dari mbak Ratih Ibrahim mungkin bisa diterapkan, yaitu dengan mengatakan ‘ayah menitipkan cinta ke perut ibu, dan lahirlah kamu’. Seiring dengan meningkatnya usia anak, bisa juga penjelasan diikuti dengan istilah biologis, seperti kata ‘sperma’, dll. Percakapan yang menyelipkan sex education (dan bukan malah menghindarinya) ini juga membuat anak merasa orangtua adalah tempat mereka bisa percaya, sehingga ketika mereka punya masalah yang berhubungan dengan ‘sex’, mereka akan bertanya ke orangtua, dan bukan ke teman-teman atau sumber lain yang dapat mengarahkan mereka ke informasi salah.

Ketika anak beranjak remaja, hubungan dengan orangtua biasanya menjauh. Orangtua yang khawatir anaknya terjerumus dengan pergaulan bebas, malah semakin giat mengawasi, yang justru membuat anaknya malah semakin menjauhi orangtua. Lingkaran setan. Dengan komunikasi yang lancer sedari kecil, dan orangtua yang terbuka dengan pembicaraan mengenai seks, penyakit seksual menular, dan bagaimana berhubungan dengan lawan jenis saat berpacaran, bukan tidak mungkin hal tersebut yang membuat anak dapat terhindar dari seks bebas yang beresiko.

Pada akhirnya, penanaman sex education yang membuat orangtua ketar-ketir justru dapat menyelamatkan anak dari seks bebas beresiko. Jadi, masih bilang tidak untuk sex education?

Iklan

3 thoughts on “Masih bilang tidak untuk ‘sex education’?

  1. Hi, the article you wrote a very interesting and informative, to be honest I am very happy at all, the article is very beneficial for the people, and I’m sure one day you become someone great and famous, I hope it do not stop here course, keep the spirit to reach the dreams that you aspire, to further strengthen these friendships, please visit my blog, comment, criticism and suggestions for improvement of these blogs, I am glad to know you, success for you, thank you

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s